MARKET DATA

Produksi Minyak RI Baru Capai 94% Target, SKK Migas Beberkan Pemicunya

Verda Nano Setiawan,  CNBC Indonesia
03 June 2026 15:55
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, Rabu (3/6/2026). (Tangkapan Layar Youtube/TVR Parlemen)
Foto: Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, Rabu (3/6/2026). (Tangkapan Layar Youtube/TVR Parlemen)

Jakarta, CNBC Indonesia - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) membeberkan alasan di balik masih belum tercapainya target produksi terangkut (lifting) minyak tahun ini.

Berdasarkan data SKK Migas, realisasi lifting minyak hingga 31 Mei 2026 tercatat sebesar 576,2 ribu barel per hari (bph) atau baru mencapai 94,4% dari target APBN 2026 yang ditetapkan sebesar 610 ribu bph.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan, masih rendahnya realisasi produksi minyak dipengaruhi sejumlah gangguan operasional.

Pada kuartal pertama misalnya, terjadi kebocoran pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) yang berdampak pada tujuh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di Terminal Dumai, serta dua pemasok gas.

"Untuk realisasi produksi kalau kita lihat di grafik ini, di Januari sangat rendah karena terjadi pipa putus, sehingga tujuh KKKS produksinya sempat berhenti," ungkap Djoko dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (3/6/2026).

Adapun, setelah gangguan tersebut teratasi, produksi sempat meningkat. Namun demikian, pada kuartal kedua muncul kendala baru berupa gangguan kelistrikan di wilayah kerja PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) dan penurunan produksi di Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu yang dioperasikan ExxonMobil Cepu Ltd.

"Setelah itu ada problem kelistrikan di PHR dan dilanjutkan dengan penurunan produksi di Banyu Urip, dimana dua blok migas ini yang merupakan penopang terbesar produksi nasional kita," katanya.

Perlu diketahui, realisasi produksi minyak, kondensat, dan NGL hingga akhir Mei 2026 mencapai 576,2 ribu barel per hari (bph). Jumlah tersebut terdiri dari produksi minyak sebesar 491,3 ribu bph, kondensat 55,8 ribu bph, dan NGL 29,1 ribu bph.

Adapun produksi minyak rata-rata pada Januari 2026 sebesar 528.099 bph, Februari naik menjadi 590.315 bph, Maret naik lagi menjadi 599.422 bph, namun April 2026 turun menjadi 586.665 bph, dan Mei turun lagi menjadi 577.874 bph.

Sementara untuk gas, hingga akhir Mei produksi mencapai 6.550 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) dan salur gas mencapai 5.207 MMSCFD. Adapun target lifting/salur gas pada APBN 2026 ini sebesar 5.508 MMSCFD. Artinya, realisasi lifting gas baru mencapai 94,5% dari target tahun ini.

Pada Januari 2026, realisasi salur gas sebesar 5.202 MMSCFD, Februari 5.340 MMSCFD, Maret 5.324 MMSCFD, April 5.398 MMSCFD, dan Mei turun menjadi 4.786 MMSCFD.

Adapun untuk Outlook 2026 produksi gas sekitar 6.787 MMSCFD dan salur gas sebesar 5.400 MMSCFD.

(wia) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article SKK Migas Ramal Lifting Minyak Hingga Akhir Tahun Capai 610 Ribu Barel


Most Popular
Features