MARKET DATA
Internasional

Garda Revolusi Iran Kuasai Selat Hormuz, 26 Kapal Diizinkan Melintas

luc,  CNBC Indonesia
21 May 2026 14:35
Kapal dan tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (4/5/2026). (REUTERS/Stringer)
Foto: Kapal dan tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (4/5/2026). (REUTERS/Stringer)

Jakarta, CNBC Indonesia - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa seluruh lalu lintas kapal di Selat Hormuz kini berada di bawah koordinasi dan izin langsung angkatan laut mereka. Pernyataan itu muncul di tengah mandeknya negosiasi antara Teheran dan Washington terkait pembukaan kembali jalur pelayaran energi paling vital di dunia tersebut.

Dalam pernyataan yang dikutip kantor berita afiliasi pemerintah Iran, ISNA, pada Rabu (21/5/2026), IRGC menyebut telah mengoordinasikan perlintasan 26 kapal dalam 24 jam terakhir di Selat Hormuz.

"Lalu lintas melalui Selat Hormuz dilakukan dengan izin dan dalam koordinasi dengan Angkatan Laut IRGC," demikian bunyi pernyataan IRGC, dilansir Al Jazeera.

Langkah itu memperlihatkan bahwa Iran makin memperketat kendalinya atas Selat Hormuz, jalur laut sempit yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima ekspor energi dunia sebelum perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari lalu.

Tak lama setelah pernyataan IRGC tersebut, Otoritas Selat Teluk Persia Iran atau Persian Gulf Strait Authority (PGSA) juga merilis peta baru Selat Hormuz melalui akun X resminya. Dalam peta itu, Iran menandai zona maritim terkendali yang disebut tidak dapat dilintasi kapal tanpa otorisasi resmi dari otoritas Iran.

PGSA menjelaskan zona itu membentang dari Kuh-e Mubarak di Iran hingga selatan Fujairah di Uni Emirat Arab pada pintu timur selat. Sementara di sisi barat, area pengawasan meluas dari ujung Pulau Qeshm hingga Umm al-Quwain.

Pengumuman tersebut mempertegas perubahan besar dalam tata kelola jalur pelayaran internasional yang selama puluhan tahun menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi global.

Di tengah situasi itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan masih ada "kemajuan" dalam pembicaraan dengan Iran. Namun di saat bersamaan, Trump kembali mengancam akan melanjutkan aksi militer apabila Teheran tidak menyepakati kesepakatan damai.

Sinyal keras juga datang dari Teheran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa apabila perang kembali pecah, konflik berikutnya akan membawa konsekuensi yang jauh lebih besar.

"Kembalinya perang akan menghadirkan jauh lebih banyak kejutan," ujar Araghchi.

IRGC bahkan menegaskan bahwa bila Iran kembali diserang, maka konflik tidak lagi terbatas di kawasan Timur Tengah saja.

Mereka menyatakan bahwa pertempuran "kali ini" akan diperluas melampaui kawasan regional.

Sejumlah analis menilai baik Washington maupun Teheran kini sama-sama percaya bahwa memperpanjang tekanan ekonomi akan memberi keuntungan tawar-menawar lebih besar terhadap lawannya.

Will Todman, peneliti senior Center for Strategic and International Studies (CSIS), mengatakan kedua pihak tampak yakin lawan mereka akan lebih dulu terpukul secara ekonomi jika kebuntuan terus berlangsung.

"Saya pikir sangat sulit melihat sesuatu yang benar-benar dapat mengubah perhitungan mereka secara mendasar, karena kedua pihak tampaknya percaya bahwa semakin lama situasi ini berlangsung, semakin besar pula daya tawar mereka karena lawan mereka akan semakin menderita secara ekonomi," kata Todman kepada Al Jazeera.

 

(luc/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Siaga Perang AS-Iran Jilid 2 Pecah, Trump-Teheran Beri Sinyal Meletus


Most Popular
Features