AHY-BRIN Ingatkan: Rumah-Jalan Amblas Rata Tanah-Banjir Ancam Pantura

Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
Rabu, 06/05/2026 15:50 WIB
Foto: Banjir Karawang (9/12/2025). (Instagram/Wisata_Banjirpangasinan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kondisi di pesisir Utara pulau Jawa alias Pantura (Pantai Utara) Jawa kembali menjadi perhatian. Menko bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bahkan menyebut kondisi Pantura jawa kini memprihatinkan.

Hal itu terungkap saat AHY menggelar rapat koordinasi (rakor) bersama jajaran kementerian dan lembaga serta kepala daerah untuk membahas perlindungan pesisir Pantura Jawa di kantornya, Senin (4/5/2026). Turut hadir Kepala Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa (BOPPJ) Didit Herdiawan Ashaf, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria, sejumlah wakil menteri, perwakilan lembaga, dan kepala daerah.

AHY mengungkapkan, Pantura Jawa menghadapi 2 ancaman sekaligus. Penurunan permukaan tanah dan kenaikan level air laut. Kondisi ini, ujarnya, juga telah berulang kali disinggung dan disorot Presiden Prabowo Subianto.


"Saya ingin menyampaikan bahwa setiap saat, seperti yang disampaikan oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya beberapa kali, telah terjadi penurunan permukaan tanah mulai 15 cm hingga 20 cm per tahun, paling buruk terjadi di Jakarta dan juga di Semarang. Tapi di daerah-daerah lainnya juga terus terjadi land penurunan permukaan tanah," kata AHY, dikutip Rabu (6/5/2026).

"Di saat bersamaan, bisa dikatakan ini sebagai twin pressure, tekanan ganda. Terjadi kenaikan permukaan air laut akibat pemanasan global, naiknya dari 0,8 cm sampai 1,2 cm per tahun," tambanya.

Kata dia, kondisi ini kemudian juga mengakibatkan banjir rob terus mengintai wilayah Pantura Jawa. Dan, bisa menghancurkan properti, merusak rumah-rumah warga dan lain-lain.

"Ini berpotensi pada terjadinya bencana yang lebih buruk dan fatal. Bisa dilihat proyeksi penggenangan air laut hingga 2050 jika tanpa intervensi, ini bisa lebih buruk," tukas AHY.

Silent Killer

Sebelumnya, BRIN mengungkapkan, penurunan tanah terjadi secara perlahan. Dijelaskan, penurunan tanah atau land subsidence adalah turunnya permukaan bumi secara perlahan karena material di bawah tanah menyusut.

Penyebabnya bukan gempa atau longsor yang langsung terasa seketika. Melainkan pengambilan air tanah berlebihan, tanah yang lunak, pemadatan alami sedimen, dan beban bangunan di atas tanah yang lunak.

Penurunan tanah ini pun disebut bisa jadi ancaman serius. Akibatnya di antaranya bisa memicu bangunan rusak, jalan amblas, dan rob yang semakin sering terjadi.

"Penurunan tanah merupakan ancaman serius, terutama di wilayah Pantai Utara Jawa seperti Jakarta, Pekalongan, dan Sayung, Demak," kata Periset Pusat Riset Geoinformatika BRIN Joko Widodo dalam unggahan di akun media sosial resmi BRIN, dikutip Jumat (10/10/2025).

"Jika tidak ditangani dengan langkah mitigasi dan adaptasi yang tepat, dampaknya bisa sangat merugikan mulai dari hilangnya wilayah daratan hingga terganggunya kehidupan masyarakat pesisir," ujarnya.

BRIN menyebut penurunan tanah ini sebagai "pembunuh senyap" alias Silent Killer.

Foto: Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan menggelar rapat koordinasi (rakor) bersama jajaran kementerian dan lembaga serta kepala daerah untuk membahas perlindungan pesisir pantai utara (Pantura Jawa, Senin (4/5/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)


(dce/dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trup Kesal Atas Hasil Survei Hingga Sumber Gaji Manajer Kopdes