MARKET DATA
Internasional

Bukan Sulap Bukan Sihir, PDB Taiwan Naik 13,7% Saat Ada Perang Timteng

luc,  CNBC Indonesia
30 April 2026 19:00
Bendera Taiwan. (I-Hwa Cheng / AFP)
Foto: AFP/I-HWA CHENG

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah kekhawatiran global akibat konflik Timur Tengah yang mengguncang pasar energi, ekonomi Taiwan justru melaju kencang pada awal 2026, ditopang lonjakan permintaan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang terus menguat.

Badan statistik Taiwan mencatat, PDB pada kuartal I/2026 meningkat 13,7% secara tahunan. Angka tersebut merupakan yang tercepat sejak kuartal II tahun 1987, sekaligus melampaui ekspektasi pasar yang sebelumnya diperkirakan hanya 11,3% berdasarkan survei Bloomberg News.

Pertumbuhan ini juga lebih tinggi dibanding capaian 12,7% pada kuartal sebelumnya.

Lonjakan ini tidak lepas dari peran Taiwan sebagai produsen utama chip semikonduktor global, yang menjadi tulang punggung berbagai teknologi AI. Permintaan terhadap chip yang digunakan dalam berbagai perangkat, mulai dari ponsel pintar hingga sistem komputasi canggih, terus mendorong ekspansi ekonomi pulau tersebut.

Namun, di balik kinerja impresif itu, kekhawatiran tetap membayangi. Konflik Iran memicu ketidakpastian besar, terutama karena Taiwan sangat bergantung pada impor energi untuk menjaga operasional industri dan pasokan listriknya.

Pemerintah di Taipei berupaya meredam dampak tersebut dengan menyerap sebagian besar kenaikan harga bahan bakar, sekaligus memastikan pasokan energi seperti gas alam cair (LNG) dan minyak tetap aman. Sebagian besar kebutuhan energi Taiwan memang berasal dari kawasan Timur Tengah yang kini tengah dilanda konflik.

Dari sisi industri, pelaku utama sektor semikonduktor juga memberikan sinyal optimisme. Kepala keuangan raksasa chip TSMC, Wendell Huang, mengatakan bahwa perusahaan tidak memperkirakan adanya gangguan terhadap pasokan bahan penting dalam waktu dekat.

"Perusahaan tidak memperkirakan perang akan berdampak pada pasokan bahan utama pembuatan chip seperti helium dan hidrogen dalam waktu dekat," katanya, dilansir AFP.

TSMC sendiri merupakan produsen kontrak chip terbesar di dunia yang memasok komponen penting untuk berbagai produk teknologi global, termasuk iPhone milik Apple dan prosesor Nvidia.

Meski demikian, tidak semua indikator ekonomi menunjukkan penguatan. Sebelum data resmi dirilis, konsumsi domestik Taiwan disebut kemungkinan melambat dan investasi kemungkinan menurun pada kuartal pertama, seiring sentimen pasar yang tertekan oleh konflik geopolitik.

Secara keseluruhan, ekonomi Taiwan yang berbasis ekspor masih menunjukkan ketahanan yang kuat. Pada 2025, ekonomi negara itu tumbuh 8,6%, menjadi laju tercepat dalam 15 tahun terakhir. Namun, pertumbuhan diperkirakan akan melambat menjadi sekitar 3,5% pada tahun ini, seiring tantangan global yang makin kompleks.

 

(luc/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Ekonomi Singapura 2025 Melejit 4,8%, Tertinggi Sejak 2021


Most Popular
Features