MARKET DATA
INTERNASIONAL

Trump Klaim Sudah Kuasai Penuh Selat Hormuz: Tertutup Rapat!

tps,  CNBC Indonesia
24 April 2026 13:10
Sebuah peta yang menunjukkan Selat Hormuz dan Iran terlihat di belakang miniatur cetakan 3D Presiden AS Donald Trump dalam ilustrasi ini yang diambil pada tanggal 22 Juni 2025. (REUTERS/Dado Ruvic/Illustration)
Foto: Sebuah peta yang menunjukkan Selat Hormuz dan Iran terlihat di belakang miniatur cetakan 3D Presiden AS Donald Trump dalam ilustrasi ini yang diambil pada tanggal 22 Juni 2025. (REUTERS/Dado Ruvic)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tensi panas di Timur Tengah kembali membara setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeklaim bahwa pihaknya memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz, jalur krusial bagi pasokan energi dunia. Pernyataan ini muncul di tengah aksi berani komando Iran yang menyita dua kapal kontainer di wilayah tersebut.

Mengutip laporan dari The Guardian, pada Kamis, (23/04/2026), Donald Trump menyatakan bahwa kepemimpinan Iran saat ini sedang goyah akibat pertikaian internal sehingga tidak jelas siapa yang sebenarnya memegang kendali di Teheran. Namun, klaim Trump ini dinilai meragukan mengingat militer Iran masih mampu melakukan penyitaan kapal dan adanya ancaman ranjau laut yang bisa melumpuhkan jalur pelayaran selama berbulan-bulan.

"Kami memiliki kendali total atas Selat Hormuz. Tidak ada kapal yang bisa masuk atau keluar tanpa persetujuan Angkatan Laut Amerika Serikat. Wilayah itu 'Terselubung Rapat', sampai Iran mampu membuat KESEPAKATAN!!!" kata Trump dalam unggahannya di media sosial Truth Social.

Komentar Trump tersebut terlontar setelah pasukan khusus AS menghadang sebuah kapal tanker minyak tanpa kewarganegaraan di Samudra Hindia yang dituduh Pentagon membawa minyak mentah Iran.

Operasi militer ini berlangsung hanya beberapa jam setelah Iran menyita dua kapal kontainer, yang membuat kedua belah pihak kini saling menerapkan blokade di selat tersebut hingga mengerek harga minyak dunia ke level US$100 per barel.

Dampak dari blokade ganda ini semakin diperparah dengan keberadaan ranjau laut. Dalam sebuah pengarahan kepada Kongres, Pentagon memperingatkan bahwa pembersihan ranjau dari rute laut tersebut bisa memakan waktu hingga enam bulan, sebagaimana dilaporkan oleh Washington Post.

"Laporan tersebut tidak akurat," ujar juru bicara Pentagon menanggapi laporan durasi pembersihan ranjau itu, meskipun ia tidak memberikan keberatan secara spesifik.

Trump sendiri mengeklaim bahwa kapal penyapu ranjau AS sedang bekerja dengan kecepatan tiga kali lipat. Ia juga menegaskan telah memerintahkan Angkatan Laut AS untuk bertindak tegas terhadap siapapun yang mencoba menyabotase jalur air tersebut.

"Saya telah memerintahkan Angkatan Laut untuk menembak dan membunuh kapal apa pun yang memasang ranjau di jalur air. Tidak boleh ada keraguan sama sekali," tegas Trump.

Krisis ini memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan energi. Direktur Eksekutif International Energy Agency, Fatih Birol, memperingatkan bahwa situasi saat ini merupakan ancaman paling serius bagi ketahanan energi global.

"Dunia saat ini sedang menghadapi ancaman keamanan energi terbesar dalam sejarah," ungkap Birol dalam sebuah wawancara dengan CNBC.

Di sisi lain, Trump juga mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon telah sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata dengan kelompok Hizbullah selama tiga minggu. Meski demikian, pertempuran kecil tetap terjadi, termasuk serangan Israel yang menewaskan jurnalis Lebanon, Amal Khalil, pada hari Rabu sebelumnya.

Ketika ditanya mengenai seberapa lama ia akan menunggu kesepakatan damai dengan Iran, Trump menanggapi dengan santai namun penuh ancaman terhadap kekuatan militer Iran yang diklaimnya sudah hancur.

"Jangan buru-buru saya. Angkatan Laut mereka sudah hilang. Angkatan Udara mereka hilang, pertahanan anti-pesawat mereka hilang... mungkin mereka mengisi kembali sedikit selama jeda dua minggu, tapi kami akan menghancurkannya dalam waktu sekitar satu hari jika mereka melakukannya," tambah Trump.

Trump menegaskan bahwa ia tidak ingin terburu-buru melakukan negosiasi singkat karena ia menginginkan hasil yang permanen bagi stabilitas kawasan.

"Saya ingin membuat kesepakatan terbaik. Saya bisa saja membuat kesepakatan sekarang... tapi saya tidak ingin melakukan itu. Saya ingin kesepakatan itu abadi," jelas Trump.

Hingga saat ini, Iran masih menolak untuk menghadiri pembicaraan damai di Pakistan. Trump menuding penolakan ini disebabkan oleh ketidakharmonisan di internal pemerintahan Teheran antara kelompok garis keras dan moderat dalam menentukan strategi negosiasi.

"Iran sedang mengalami kesulitan besar untuk mencari tahu siapa pemimpin mereka!" ujar Trump.

Kondisi kepemimpinan Iran memang menjadi sorotan setelah Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei dilaporkan terluka parah dalam serangan gabungan AS-Israel pada Februari lalu. Mengutip New York Times, meskipun terluka, Khamenei disebut masih memiliki ketajaman mental meski harus menjalani serangkaian operasi medis.

"Satu kakinya dioperasi tiga kali dan dia menunggu prostetik. Dia menjalani operasi pada satu tangan dan perlahan-lahan fungsinya kembali. Wajah dan bibirnya terbakar parah, membuatnya sulit berbicara, dan akhirnya dia akan membutuhkan operasi plastik," lapor surat kabar tersebut mengutip pejabat Iran.

Sementara itu, pihak Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran berdalih bahwa penyitaan terhadap dua kapal, yakni Epaminondas milik Yunani dan MSC Francesca yang berbendera Panama, dilakukan karena adanya pelanggaran keamanan maritim.

"Dua kapal tersebut membahayakan keamanan maritim dengan beroperasi tanpa izin yang diperlukan dan merusak sistem navigasi," sebut pernyataan resmi angkatan laut IRGC.

(tps/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Terungkap Obrolan Telepon Trump-MBS, Bahas Gencatan Senjata Iran


Most Popular
Features