Trump Pening, Blokade Selat Hormuz Bisa Jadi "Senjata Makan Tuan"
Jakarta, CNBC Indonesia - Kegagalan perundingan perdamaian Amerika Serikat (AS) dan Iran telah membuat Presiden Donald Trump dihadapkan pada beberapa pilihan yang tidak menyenangkan. Apalagi setelah ia mengumumkan memblokade Selat Hormuz yang strategis bagi minyak dunia.
Beberapa analis mengatakan keputusan Trump bisa jadi "senjata makan tuan". Trump hanya berupaya mengulur-ulur waktu, bahkan sepertinya ia tak tahu harus berbuat apa lagi.
Hal ini setidaknya dikatakan seorang peneliti senior di Middle East Institute, Brian Katulis. Ia mengatakan Trump berbicara tanpa persiapan dan membuat ancaman yang membuat pusing pembantu dekatnya.
"Dia mungkin hanya mengulur waktu untuk mengerahkan lebih banyak aset militer atau karena dia tidak tahu harus berbuat apa lagi," ujarnya, dimuat AFP, Senin (13/4/2026).
"Saya tidak akan menyebutnya strategi; itu adalah pendekatan yang berpusat pada militer tanpa strategi," tambahnya.
Seorang profesor perdamaian dan pembangunan di Universitas Maryland AS dan peneliti di lembaga think tank Brookings Institution, Shibley Telhami, juga mengatakan demikian. Ancaman blokade itu, katanya, "membingungkan dan tampaknya kontraproduktif".
"Iran sudah tidak percaya pada Trump," kata Telhami.
"Sulit untuk meremehkan dampak hal ini terhadap kredibilitas global Amerika yang tersisa."
Sementara itu, seorang peneliti di Institut Studi Keamanan Nasional Israel, Danny Citrinowicz, mengatakan bahwa blokade angkatan laut memang akan meningkatkan risiko bagi pasukan AS. Dan, keterlibatan militer yang berkepanjangan seperti itu mungkin tidak akan diterima dengan baik oleh warga Amerika yang mengatakan mereka "khawatir dan stres tentang konflik yang dimulai pada akhir Februari itu".
"Hanya ada sedikit alasan untuk percaya bahwa blokade akan memaksa Iran menyerah. Justru, ketahanan Iran yang telah terbukti sejauh ini menunjukkan sebaliknya," tulis Citrinowicz di X.
"Skala geografis dan kemampuan militer Iran berarti bahwa mempertahankan operasi semacam itu akan membutuhkan alokasi sumber daya Amerika yang substansial dan berkepanjangan," tambahnya.
Sebelumnya jajak pendapat CBS News yang diterbitkan pada hari Minggu, mengungkapkan kekhawatiran, stres, hingga kemarahan warga AS, jauh lebih besar daripada rasa aman dan percaya diri. Ini ketika mereka yang disurvei mengenai bagaimana perasaan mereka tentang perang AS-Iran.
Lebih dari 80% responden mengatakan AS harus berupaya membuka kembali selat tersebut dan meningkatkan akses global terhadap minyak, yang akan menurunkan harga gas, dan memastikan bahwa rakyat Iran "bebas". Hanya kurang dari 10% mengatakan mereka percaya tujuan tersebut telah tercapai.
"Saya tidak melihat bagaimana, setelah lebih dari 40 hari perang ini, kita lebih aman, sekutu kita lebih aman. Saya bahkan tidak yakin Israel lebih aman," kata Senator AS dari Partai Demokrat, Mark Warner, pada hari Minggu di acara bincang-bincang "State of the Union" di CNN Internasional.
"Saya tidak mengerti bagaimana memblokade selat tersebut akan mendorong Iran untuk membukanya. Saya tidak mengerti hubungannya," tegasnya.
Senator Demokrat lain, Tim Kaine melihat langkah AS ke depan bukanlah jalan yang mudah. Mengingat Trump sendiri yang telah menarik AS dari kesepakatan tahun 2015 yang dicapai oleh Teheran tentang pembatasan program nuklirnya sebagai imbalan atas pencabutan sanksi.
"Ini bukan negosiasi yang mudah karena negosiasi terakhir yang mengarah pada pengendalian program nuklir Iran, AS memutuskan untuk membatalkannya dan meninggalkan kesepakatan," kata Kaine masih dimuat CNN International.