MARKET DATA

Momen Purbaya Pamer Ketahanan RI di Depan IMF, G20 & Investor Besar

Arrijal Rachman ,  CNBC Indonesia
21 April 2026 10:35
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. (Biro KLI Kemenkeu)
Foto: Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. (Biro KLI Kemenkeu)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan (Menkeu) Republik Indonesia, Purbaya Yudha Sadewa baru saja menuntaskan rangkaian Pertemuan Musim Semi (Spring Meeting) Dana Moneter Internasional (IMF) dan Grup Bank Dunia (World Bank Group) pada 13-17 April di Washington, Amerika Serikat (AS).

Pertemuan tahunan yang dihadiri oleh Menteri Keuangan dan Pembangunan, Gubernur Bank Sentral, anggota parlemen, eksekutif sektor swasta, perwakilan Organisasi Masyarakat Sipil (CSO), pelaku usaha, akademisi, dan organisasi internasional ini membahas tantangan utama pembangunan global, termasuk prospek pertumbuhan ekonomi, stabilitas keuangan, dan pengentasan kemiskinan.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Menkeu melakukan pertemuan dengan sejumlah investor global guna menyampaikan perkembangan terkini ekonomi Indonesia serta mendorong peningkatan investasi.

Menkeu mengemukakan bahwa ekonomi Indonesia tetap tangguh di tengah tekanan situasi geopolitik global saat ini. Menkeu juga menjelaskan beberapa upaya strategis pemerintah dalam meningkatkan investasi seperti memastikan ekonomi nasional tumbuh sesuai target dan menyelaraskan kebijakan fiskal dengan implementasinya untuk menciptakan perbaikan kondisi ekonomi secara berkelanjutan.

Menkeu menjadi pembicara kunci pada seminar bertajuk "Supporting Economic Recovery in Middle-Income Countries: Alignment of Higher Productivity and Quality Jobs Creation, Amid High Indebtedness".

Dalam seminar ini, Purbaya menyampaikan bahwa Indonesia tengah menggeser fokus pembangunan, tidak hanya menjaga stabilitas, tapi juga menuju pertumbuhan yang lebih produktif, bernilai tambah, dan menciptakan lapangan kerja berkualitas. Transformasi ini didorong melalui tiga pilar utama, yaitu investasi, industrialisasi, dan produktivitas.

"Kita mendorong industri hilir, memperkuat sektor manufaktur, dan meningkatkan sumber daya manusia dan efisiensi. Jadi ke depannya, pertumbuhan Indonesia tidak hanya akan stabil, tetapi juga akan lebih produktif dan berkelanjutan serta menjadi lebih terdiversifikasi dan tangguh," ujar Purbaya.

Selain itu, Menkeu juga menegaskan bahwa kinerja ekonomi Indonesia relatif kuat dibandingkan negara G20 dan negara berkembang lainnya, ditopang oleh pertumbuhan yang solid, inflasi rendah, serta defisit dan rasio utang yang terjaga.

Ketahanan ini tidak terlepas dari peran APBN sebagai shock absorber dalam melindungi daya beli masyarakat, dengan tetap menjaga disiplin fiskal di bawah batas defisit 3% PDB. Indonesia akan mengoptimalkan sinergi kebijakan fiskal, moneter, serta memanfaatkan peran Danantara dalam mobilisasi investasi di luar APBN.

Dalam lawatan ini, Menkeu juga menghadiri "G20 1st Finance Ministers and Central Bank Governors (FMCBG) Meeting" di bawah presidensi Amerika Serikat. Menkeu dalam sesi "Hambatan Pertumbuhan dan Reformasi" menyampaikan bahwa Indonesia telah melakukan reformasi regulasi dan menegakkan pemerintahan yang bersih.

Di tengah krisis energi yang dipicu oleh perang saat ini, pelajaran penting yang diambil adalah ketahanan Indonesia saat ini berakar bukan pada langkah-langkah darurat, tetapi pada reformasi struktural yang diimplementasikan jauh sebelum krisis.

Konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah menjadi pengingat bahwa efisiensi proses dan perizinan merupakan kunci ketahanan energi.

Dalam hal ini, Indonesia mempercepat reformasi dengan menyederhanakan perizinan, membentuk task force de-bottlenecking, serta mengurangi hambatan dalam impor energi. Menkeu menambahkan, di tengah penyesuaian harga global, imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun relatif meningkat, namun tetap berada dalam asumsi pemerintah.

Kredibilitas ini memungkinkan Indonesia untuk menyerap harga energi yang lebih tinggi tanpa mengorbankan dukungan bagi kelompok rentan atau melanggar batas defisit fiskal Indonesia.

Masih di pertemuan G20, Menkeu dalam sesi "Ketidakseimbangan Global" juga mengungkapkan bahwa bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, kekhawatiran utama terkait ketidakseimbangan eksternal terletak pada potensi risiko, termasuk volatilitas arus modal, tekanan inflasi, dan dampak spillover dari sistem keuangan global.

Perang di Timur Tengah telah menjadi ujian berat bagi ketahanan pasar negara berkembang. Namun, Purbaya melihat meski perang tersebut mentransmisikan guncangan melalui harga energi, biaya pengiriman, dan volatilitas mata uang ke wilayah Indonesia, stabilitas makro Indonesia tetap terjaga dibandingkan dengan banyak negara lain yang menghadapi tekanan yang sama.

"Meski Indonesia mencatat arus keluar devisa sebesar US$ 1,8 miliar dan depresiasi rupiah, namun defisit fiskal Indonesia tetap di bawah 3% dan cadangan devisa tetap memadai, yang membuktikan bahwa kredibilitas makro-finansial berfungsi di saat yang paling penting, termasuk dalam memperkuat ketahanan energi," paparnya.

Pada sesi "IMFC Early Warning Exercise", Purbaya mengungkapkan bahwa keterlibatan Indonesia dalam Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) telah berkembang dari tahap awal pengembangan menjadi bagian integral dari seluruh perekonomian.

Pada tahun 2025, sektor Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mencatat tingkat pertumbuhan tertinggi dalam sejarah sebesar 8,35%, didukung oleh lebih dari 12.000 km jaringan serat optik dan kapasitas satelit nasional sebesar 150 Gbps.

"Indonesia secara aktif terus memperkuat ekosistem AI nasional untuk memastikan peningkatan produktivitas dapat dioptimalkan di dalam negeri, sambil tetap terbuka terhadap kolaborasi global, dan memposisikan Indonesia sebagai pengguna dan pengembang solusi berbasis AI," kata Purbaya.

Selain itu, dia memastikan Indonesia juga akan tetap mewaspadai risiko sistemik yang muncul, termasuk potensi gelembung aset dari investasi AI, gangguan pasar tenaga kerja akibat otomatisasi, peningkatan konsentrasi pasar oleh platform global, risiko stabilitas keuangan dari pengambilan keputusan berbasis AI, dan erosi fiskal dari aktivitas digital lintas negara.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melakukan pertemuan dengan grup investor di Amerika Serikat (AS), kemarin, Senin (13/4/2026). (Dok. Biro KLI/Kemenkeu)Foto: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melakukan pertemuan dengan grup investor di Amerika Serikat (AS), kemarin, Senin (13/4/2026). (Dok. Biro KLI/Kemenkeu)

Purbaya juga menyatakan bahwa Indonesia siap berkontribusi sebagai mitra aktif dalam membentuk tata kelola AI global yang inklusif dengan membawa perspektif negara berkembang, memajukan mekanisme peringatan dini khusus AI untuk mengantisipasi risiko keuangan sistemik, dan memastikan manfaat AI didistribusikan secara luas untuk mendukung pertumbuhan global yang adil dan berkelanjutan.

Selanjutnya, dalam "IMFC Restricted Breakfast Meeting", Purbaya mengutarakan ekonomi Indonesia tetap tangguh dengan tumbuh sebesar 5,11% di tahun 2025. Di saat banyak negara mengalami perlambatan ekonomi, pertumbuhan Indonesia yang stabil tersebut membuktikan bahwa ekonomi domestik Indonesia sehat dan mampu menangani tekanan dari luar.

Dia pun optimis dapat mencapai target pertumbuhan tahun 2026 sebesar 5,4% - 6% di tengah ketegangan global yang sedang berlangsung. Optimisme tersebut berasal dari basis ekonomi Indonesia yang solid seperti posisi eksternal yang kuat yang ditandai dengan surplus perdagangan selama 70 bulan berturut-turut hingga awal tahun 2026.

Selain itu, optimisme juga terlihat dari perekonomian domestik Indonesia yang tangguh yang ditopang dari konsumsi rumah tangga yang kuat, pertumbuhan stabil, inflasi terkendali, defisit fiskal yang terkelola, rasio utang terhadap PDB yang rendah, dan kebijakan hilirisasi yang berkelanjutan.

Purbaya menambahkan bahwa pemerintah akan tetap waspada terhadap dinamika di Timur Tengah dan potensi dampaknya terhadap harga energi global. Pemerintah telah memprioritaskan pembentukan fiscal buffer untuk menyerap guncangan harga dan memastikan bahwa bahan bakar bersubsidi tetap stabil untuk melindungi daya beli masyarakat.

"Respons kebijakan pemerintah yaitu dengan efisiensi pengeluaran negara dan transformasi struktural jangka panjang dengan mempercepat inisiatif hilirisasi," ujarnya.

Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI dalam rangkaian pertemuan dengan Managing Director IMF Kristalina Georgieva di Washington DC Selasa (14/4/2026). (Instagram/menkeuri)Foto: Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI dalam rangkaian pertemuan dengan Managing Director IMF Kristalina Georgieva di Washington DC Selasa (14/4/2026). (Instagram/menkeuri)

Pujian IMF Buat RI

Di sela-sela rangkaian kegiatan, Menkeu juga melakukan sejumlah pertemuan bilateral dengan beragam mitra pembangunan dan negara mitra Indonesia, antara lain Managing Director IMF Kristalina Georgieva; President World Bank Group Ajay Banga; Sekretaris Jenderal OECD, Mathias Cormann; Menteri Keuangan Tiongkok, Lan Fo'an; Menteri Keuangan dan Ekonomi Polandia, Andrzej Domanski; dan Australia Treasurer, Jim Chalmers.

Dalam pertemuan dengan IMF, Purbaya menegaskan bahwa di tengah ketidakpastian global saat ini, Indonesia masih memiliki kondisi fiskal yang solid dan bantalan anggaran yang memadai.

IMF memuji Indonesia sebagai salah satu "bright spot" dalam perekonomian global karena fundamental ekonominya yang kuat, ditopang oleh kebijakannya yang kredibel sehingga ketahanan ekonominya terjaga di tengah tingginya ketidakpastian global, serta mengapresiasi langkah-langkah yang dilakukan Indonesia dalam menjaga stabilitas perekonomian.

Dalam pertemuan dengan World Bank, Purbaya juga menyampaikan secara komprehensif berbagai langkah yang ditempuh pemerintah dalam reformasi untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing, seperti melalui hilirisasi industri, pengembangan digital, dan peningkatan iklim investasi untuk mencapai pertumbuhan 8% dalam jangka menengah dan menjadi negara berpenghasilan tinggi di tahun 2045.

Pemerintah berupaya melakukan pendekatan yang lebih terintegrasi untuk meningkatkan produktivitas, mendorong UMKM agar lebih berkembang, mengurangi informalitas, dan membuka sektor-sektor yang bernilai lebih tinggi seperti jasa, sehingga lapangan kerja dapat tumbuh lebih inklusif dan berkualitas.

Secara spesifik, Purbaya juga menyampaikan rencana penguatan UMKM melalui restrukturisasi institusi dalam pemberian kredit kepada UMKM dan juga fokus kepada upaya transisi energi melalui pembangunan energi baru dan terbarukan, khususnya geothermal (panas bumi) di Indonesia.

Menurut Purbaya, World Bank atau Bank Dunia menyatakan siap mendukung program pembangunan Indonesia melalui Country Partnership Framework (CPF) dan meminta Indonesia untuk mengajukan beberapa prioritas pembangunan dalam waktu dekat. Sementara dalam diskusi dengan OECD, isu yang dibahas mengenai dukungan OECD dalam proses aksesi Indonesia serta dukungan pengembangan kapasitas institusional dan pengetahuan terhadap Lembaga Nasional Single Window (LNSW) Indonesia.

Purbaya juga menghadiri Joint Roundtable yang diselenggarakan oleh US-ASEAN Business Council (USABC) dan US Chamber of Commerce (USCC). Dalam forum yang dihadiri oleh berbagai perwakilan perusahaan AS terkemuka dari sektor keuangan, teknologi, energi, dan kesehatan tersebut, Menkeu menyampaikan mengenai ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global, strategi kebijakan fiskal dalam merespons dinamika geopolitik, serta komitmen pemerintah dalam memperdalam pasar keuangan, mendorong digitalisasi pembayaran, dan memperkuat ketahanan finansial.

Forum ini menjadi wadah strategis untuk mempererat hubungan ekonomi Indonesia - AS, sekaligus membuka peluang konkret bagi investasi dan kolaborasi sektor swasta AS di Indonesia. Sebagai tindak lanjut, Menkeu memberikan kesempatan kepada para pengusaha untuk berdialog lebih jauh hal-hal teknis dengan Kementerian Keuangan jika diperlukan.

"Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong transformasi struktural menuju negara berpendapatan tinggi. Reformasi yang konsisten, pengelolaan fiskal yang hati-hati, serta penguatan investasi menjadi kunci dalam menghadapi ketidakpastian global dan memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," katanya.

(haa/haa) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bos IMF Wanti-Wanti Pemimpin G20 Soal Utang & Reformasi Struktural


Most Popular
Features