Internasional

Raksasa Nuklir Muslim Lagi Susah, Raja Salman Bantu Rp 51 Triliun

tps, CNBC Indonesia
Rabu, 15/04/2026 19:40 WIB
Foto: Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bertemu di Riyadh, Arab Saudi, 17 September 2025. (Kantor Berita Saudi/Handout via REUTERS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Arab Saudi secara resmi berkomitmen untuk memberikan bantuan keuangan sebesar US$3 miliar atau sekitar Rp51 triliun kepada Pakistan. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Menteri Keuangan Pakistan, Muhammad Aurangzeb, di tengah upaya keras negara Asia Selatan tersebut untuk menstabilkan kondisi ekonomi nasionalnya.

Aurangzeb mengumumkan pencairan bantuan tersebut diharapkan akan dilakukan pada minggu depan.

Pernyataan tersebut disampaikan Aurangzeb saat dirinya berada di Washington untuk menghadiri Pertemuan Musim Semi Bank Dunia-IMF 2026. Langkah ini menjadi krusial mengingat Pakistan tengah menghadapi tenggat waktu pembayaran kewajiban luar negeri yang sangat besar dalam waktu dekat.


Adapun Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bertolak ke Arab Saudi pada Rabu (15/4/2026) untuk melakukan kunjungan resmi kenegaraan.

Bantuan dari Riyadh ini datang tepat saat Islamabad bersiap untuk membayar kembali utang Senilai US$3,5 miliar atau sekitar Rp 59,5 triliun kepada Uni Emirat Arab (UEA) pada bulan ini. Sebelumnya, surat kabar Dawn melaporkan bahwa Abu Dhabi menuntut pembayaran segera atas pinjaman yang diberikan kepada Islamabad sebagai bagian dari dukungan pendanaan eksternal yang diperpanjang oleh UEA sejak tahun 2019 lalu.

Bantuan tersebut awalnya disalurkan melalui Dana Pembangunan Abu Dhabi untuk membantu Islamabad mengatasi krisis neraca pembayaran yang mencekik ekonomi mereka.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa utang UEA telah diperpanjang berkali-kali, namun perpanjangan terbaru memiliki durasi yang lebih singkat, yang mengindikasikan ketidaksenangan Abu Dhabi atas pengaturan tersebut. Hal ini memperparah posisi fiskal Pakistan yang sebelumnya sudah babak belur dihantam berbagai krisis beruntun dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2024, Pakistan menghadapi krisis utang sebagai dampak dari penguncian wilayah akibat Covid, gangguan pasokan yang dipicu oleh konflik Ukraina, serta banjir bandang luas yang menghancurkan sepertiga wilayah negara tersebut.

Dana Moneter Internasional (IMF) akhirnya turun tangan untuk memberikan paket bantuan sebesar US$7 miliar atau setara Rp119 triliun dengan durasi 3 tahun. Di bawah perjanjian dengan IMF, Pakistan diwajibkan untuk mengamankan sekitar US$12,5 miliar atau Rp212,5 triliun dalam bentuk perpanjangan utang dari China, Arab Saudi, dan UEA guna memenuhi kebutuhan pendanaan eksternal serta menjaga tingkat cadangan mata uangnya.

Laporan Dawn menunjukkan bahwa posisi Uni Emirat Arab sebagai pendonor kemungkinan besar akan digantikan oleh Qatar di masa mendatang.

Hubungan Pakistan dengan UEA diketahui memang sedang menegang selama setahun terakhir. Sementara Islamabad telah menandatangani pakta pertahanan bersama dengan Riyadh, Abu Dhabi justru bergerak membangun kemitraan keamanan yang lebih erat dengan New Delhi, India.

UEA, yang selama ini menjadi sumber vital remitansi asing bagi Islamabad, juga memberlakukan pembatasan visa yang berdampak pada warga negara Pakistan pada awal tahun ini, yang semakin memperkeruh hubungan diplomatik kedua negara.

 


(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Meski Melambat, IMF Ramal Ekonomi RI Kalahkan China & Filipina