AS Tembakkan "Meriam" Ekonomi Baru ke Iran, Acak-Acak Ekonomi Teheran
Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) bakal menghentikan pengecualian sanksi minyak Iran yang berada di laut pada pekan ini. Secara diam-diam, Washington juga membiarkan pengecualian sanksi minyak Rusia berakhir pada akhir pekan lalu.
Langkah tegas ini merupakan bagian dari blokade total terhadap pengiriman minyak dari pelabuhan-pelabuhan Iran. Keputusan ini menunjukkan bahwa Departemen Keuangan AS mulai mengerahkan kekuatan ekonomi penuh untuk menekan Teheran. Salah satu pejabat administrasi AS memberikan penjelasan kepada Reuters mengenai langkah tersebut.
"Langkah pada Selasa ini menandakan bahwa Departemen Keuangan sedang mengerahkan kekuatan penuh dalam 'economic fury' terhadap Iran," ujar pejabat tersebut dikutip, dikutip Reuters, Rabu (14/4/2026).
Istilah itu merujuk pada Operation Epic Fury. Ini merupakan kampanye militer pimpinan AS terhadap negara tersebut. Pemerintahan Donald Trump sendiri sudah lama menerapkan tekanan maksimal terhadap Iran. Hal ini terkait program nuklir dan dukungan terhadap kelompok militan di Timur Tengah.
Selama ini, minyak yang terkena sanksi dilaporkan tetap sampai ke pasar China. Namun, pengecualian sanksi sebelumnya memang sengaja diberikan untuk menjaga stabilitas pasokan energi dunia. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, memberikan penjelasan terkait fungsi pengecualian tersebut bulan lalu.
"Pengecualian yang diterbitkan Departemen Keuangan pada 20 Maret lalu memungkinkan sekitar 140 juta barel minyak mencapai pasar global. Ini membantu meringankan tekanan pasokan energi selama perang melawan Iran," kata Bessent.
Kini, masa berlaku pengecualian itu akan berakhir pada 19 April. Keputusan ini mengakhiri upaya kontroversial pemerintahan Trump dalam menurunkan harga energi global. Saat ini harga minyak memang melonjak sejak pecahnya perang AS dan Israel melawan Iran.
Langkah ini juga dipicu kecaman dari anggota parlemen AS. Mereka menilai pengecualian sanksi justru membantu ekonomi musuh. Washington pun menyiapkan hukuman bagi institusi yang terlibat aktivitas terlarang dengan Iran. Salah satu sumber pejabat pemerintah memberikan peringatan keras bagi pihak yang melanggar.
"Sebagai tambahan, dengan kembalinya sanksi PBB terhadap Iran, aktivitas apa pun dengan Teheran dapat memicu sanksi tambahan. Iran memiliki sejarah mencoba bersembunyi di balik aktivitas sah untuk melakukan tindakan ilegal," kata sumber tersebut.
Departemen Keuangan AS kini menekan negara-negara yang menaungi bank penyalur dana ke Iran. Surat peringatan telah dikirim ke China, Hong Kong, UEA, dan Oman. Hal ini dilakukan karena Iran diduga memproses dana US$9 miliar melalui rekening koresponden AS pada 2024. Dalam surat resminya, Scott Bessent meminta kerja sama dari otoritas negara-negara tersebut.
"Harapan saya adalah tindakan cepat Anda untuk mengidentifikasi dan menghentikan aktivitas ilegal terkait Iran. Ini dilakukan demi menghindari tindakan lebih lanjut dari Departemen Keuangan," tulis Bessent dalam suratnya.
Selain jalur perbankan, AS juga memperketat penjagaan fisik di jalur laut. Bessent menegaskan bahwa blokade di Selat Hormuz akan memastikan tidak ada kapal yang melintas membawa minyak ilegal. Bessent memberikan penegasan terakhir kepada awak media mengenai nasib pasokan energi China.
"Jadi mereka tidak akan bisa mendapatkan minyaknya. Mereka boleh membeli minyak, tapi bukan minyak Iran," tegas Bessent.
China diketahui membeli lebih dari 90% minyak Iran. Jumlah tersebut mencakup sekitar 8% dari total pembelian tahunan mereka. Namun dengan kebijakan baru ini, AS menutup rapat celah ekspor tersebut.
(tps/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]