MARKET DATA
Internasional

Pilot Takut Terbang di Timur Tengah, tapi Lebih Takut Kena PHK

luc,  CNBC Indonesia
10 April 2026 15:30
Sebuah pesawat penumpang terbang saat matahari terbit seperti yang terlihat dari Al Thumama, setelah Qatar membuka kembali wilayah udaranya setelah penangguhan singkat, menyusul serangan rudal hari Senin di Pangkalan Udara Al Udeid oleh Iran, Qatar, 24 Juni 2025. (REUTERS/Stringer)
Foto: Sebuah pesawat penumpang terbang saat matahari terbit seperti yang terlihat dari Al Thumama, setelah Qatar membuka kembali wilayah udaranya setelah penangguhan singkat, menyusul serangan rudal hari Senin di Pangkalan Udara Al Udeid oleh Iran, Qatar, 24 Juni 2025. (REUTERS/Stringer)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kekhawatiran keselamatan penerbangan di kawasan Timur Tengah meningkat seiring konflik Iran, dengan sejumlah pilot maskapai menyatakan mereka menghadapi tekanan untuk tetap terbang meskipun kondisi dianggap berisiko. Serikat pilot global memperingatkan adanya rasa takut akan sanksi hingga pemecatan bagi pilot yang menolak penugasan.

Presiden International Federation of Air Line Pilots' Associations (IFALPA) Ron Hay mengatakan para pilot dari berbagai negara menyampaikan kekhawatiran bahwa mereka bisa kehilangan pendapatan bahkan pekerjaan jika menolak terbang di wilayah yang situasinya tidak menentu selama perang Iran.

"Ada ketakutan mendasar akan pembalasan," kata Hay kepada Reuters dalam wawancara pertamanya mengenai isu tersebut, dilansir Jumat (10/4/2026).

Menurut Hay, pilot dari Lebanon hingga India menyampaikan kekhawatiran yang "meluas" bahwa mereka dapat menghadapi sanksi jika tidak terbang dalam kondisi yang sering berubah secara tiba-tiba, termasuk penutupan wilayah udara tanpa pemberitahuan akibat serangan rudal atau drone.

Komentar tersebut muncul saat beberapa maskapai Timur Tengah mulai memulihkan penerbangan, meskipun gencatan senjata dua minggu yang diumumkan Selasa masih menghadapi tantangan dari serangan yang berlanjut.

Hay, yang juga kapten di Delta Air Lines, mengatakan sebagian pilot khawatir akan dipecat jika menolak penugasan.

"Bagi yang lain, mereka mungkin tidak kehilangan pekerjaan tetapi (manajemen) mungkin berkata, 'Jangan terbangkan rute itu dan Anda tidak dibayar untuk itu,'" ujarnya.

Ia menolak menyebutkan maskapai yang terlibat, tetapi mengatakan situasi tersebut mencerminkan budaya keselamatan yang tidak sehat, di mana pilot seharusnya didorong untuk menyampaikan kekhawatiran.

"Itu sudah lama kurang di kawasan Timur Tengah dan semakin diperparah oleh konflik ini," kata Hay.

IFALPA yang berbasis di Montreal memiliki asosiasi anggota di Bahrain, Mesir, Israel, Kuwait, dan Lebanon. Namun organisasi itu tidak mencantumkan asosiasi anggota di maskapai besar Teluk di Uni Emirat Arab dan Qatar, yang tidak memiliki serikat pekerja.

Maskapai-maskapai Timur Tengah menyatakan mereka memprioritaskan keselamatan. Penerbangan ke dan dari Uni Emirat Arab dan Qatar disebut beroperasi melalui koridor khusus yang ditetapkan bersama regulator.

Reuters mencoba menghubungi lebih dari selusin pilot yang berbasis di kawasan Teluk untuk menanyakan apakah mereka merasa aman terbang dalam situasi saat ini, tetapi semuanya menolak berbicara, bahkan secara anonim, atau tidak merespons.

Setelah pengumuman gencatan senjata, European Union Aviation Safety Agency memperpanjang larangan bagi maskapai Eropa untuk beroperasi di wilayah udara beberapa negara Teluk, termasuk Uni Emirat Arab dan Qatar, hingga 24 April. Namun maskapai yang berbasis di Dubai dan Doha tetap beroperasi, demikian pula maskapai India.

Kekhawatiran pilot tersebut mendorong IFALPA menerbitkan dokumen minggu ini yang mengingatkan maskapai bahwa pilot harus memiliki suara "yang tidak dapat dinegosiasikan" terkait keselamatan.

"Ada kekhawatiran mendalam di kawasan tersebut, yang menjadi salah satu alasan dokumen itu dibuat," kata Hay.

Buletin yang dikeluarkan badan penerbangan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Kamis menyebut risiko kesehatan mental di zona konflik sebagai faktor "kritis bagi keselamatan".

"Personel yang terlibat dalam operasi penerbangan sipil di dalam atau dekat zona konflik dapat mengalami tingkat stres, kecemasan, dan kelelahan yang lebih tinggi, baik di darat maupun di udara," demikian isi buletin tersebut.

Hay mengatakan pilot yang terbang ke wilayah tersebut mengeluhkan kurangnya panduan mengenai risiko, yang menyulitkan perencanaan jika bandara tiba-tiba ditutup akibat serangan drone.

Pada akhir Maret, pilot anggota IFALPA di India menyebut keputusan Air India untuk terus mengoperasikan penerbangan ke kawasan Teluk yang terdampak sebagai "kekhawatiran serius". Kelompok pilot tersebut meminta regulator penerbangan sipil India menangguhkan operasi hingga dilakukan "penilaian risiko" terpusat.

Air India disebut telah melibatkan konsultan risiko untuk memantau apakah aman terbang setiap hari, menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut. Regulator penerbangan India belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Pilot juga menghadapi dampak lain di lapangan. Hay mengatakan ia menerima pertanyaan dari anggota di Beirut yang menghadapi kesulitan bahkan setelah mendarat.

"Jalan antara bandara dan rumah mereka telah dibom sepenuhnya," katanya. "Mereka bahkan tidak tahu bagaimana bisa pulang."

 

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Pesawat Boeing 787-8 Jatuh Tewaskan 260 Orang, Ini Temuan Barunya


Most Popular
Features