MARKET DATA
Internasional

Top Xi Jinping! Ternyata Ada China 'di Balik' Gencatan Senjata AS-Iran

sef,  CNBC Indonesia
10 April 2026 13:39
Kolase Xi Jinping dan Mojtaba Khamenei. (Reuters)
Foto: (Reuters)
Key Takeaway
D

Jakarta, CNBC Indonesia - Gencatan senjata Amerika Serikat (AS) dan Iran dimulai hari ini, Jumat (10/4/2026). Utusan Iran dan AS bersiap untuk mengadakan pembicaraan di Islamabad, Pakistan, guna mengakhiri perang Timur Tengah.


Namun, sumber resmi dan para ahli mengatakan China membantu membuka jalan bagi negosiasi. Ini akan menjadi komponen penting dalam mengamankan gencatan senjata permanen.

Perlu diketahui, Pakistan telah menerima pujian di panggung global atas upaya terakhirnya untuk mencapai gencatan senjata sementara antara pihak-pihak yang bertikai. Namun, para pejabat Pakistan mengatakan peran Beijing yang "lebih tenang" terbukti sama pentingnya.

Dikatakan bagaimana kesepakatan gencatan Selasa itu sebenarnya hampir batal. Namun kehadiran China membuat kesepakatan tercapai di menit-menit terakhir yang tampaknya akan gagal pada Selasa malam.

"Pada malam gencatan senjata, harapan mulai pudar, tetapi China turun tangan dan meyakinkan Iran untuk menyetujui gencatan senjata sementara," kata seorang sumber pejabat senior Pakistan yang mengetahui negosiasi tersebut, dikutip AFP, Jumat (10/4/2026).

"Meskipun upaya kami sangat penting, kami gagal mencapai terobosan, yang akhirnya tercapai setelah Beijing membujuk Iran," ujar sumber tersebut, yang meminta anonimitas untuk berbicara secara terbuka tentang masalah diplomatik yang sensitif.

Hal itu menggemakan pernyataan Presiden Donald Trump, yang tak lama setelah mengumumkan gencatan senjata dua minggu di media sosial. Ia mengatakan kepada AFP bahwa China telah menjadi kunci untuk membawa Iran ke meja perundingan.

Pembicaraan gencatan senjata yang direncanakan telah membangkitkan harapan akan berakhirnya perang yang telah merenggut ribuan nyawa dan mengguncang ekonomi global ini. Perang sendiri terjadi sejak Israel dan AS melancarkan serangan pada 28 Februari dan Iran menanggapi dengan serangan di Teluk serta kota-kota Israel.

China Jadi Penjamin

Sementara itu, Pakistan sendiri -yang memiliki ikatan budaya dan agama dengan Iran dan para pemimpinnya- akan membentuk tim ahli. Ini untuk memfasilitasi kedua belah pihak.

"Pakistan telah membentuk tim ahli untuk memfasilitasi kedua pihak dalam negosiasi, mengenai navigasi, nuklir, dan hal-hal terkait lainnya," kata sumber diplomatik kedua yang mengetahui masalah tersebut.

Namun, dikatakan bahwa China akan menjadi penjamin. Hal ini diminta langsung Iran.

"China diminta untuk menjadi penjamin. Iran menginginkan penjamin," kata sumber tersebut.

Sebenarnya nama Rusia juga muncul. Namun perang dengan Ukraina tidak akan diterima Barat, terutama Uni Eropa.

"Yang berarti China berada pada posisi terbaik," tambahnya.

"Saudara Seperkasa"

Sama seperti Pakistan, China memiliki hubungan dekat dengan Teheran. Bahkan telah menjadi mitra dagang terbesar Iran selama bertahun-tahun di bawah sanksi yang dipimpin AS.

China juga telah menginvestasikan miliaran dolar ke dalam proyek infrastruktur di Pakistan sebagai bagian dari inisiatif Sabuk dan Jalan Presiden Xi Jinping. Kedua pemerintah menyebut diri mereka "saudara seperkasa."

"Sebagai mitra dan tetangga dekat, Pakistan dan China telah berkoordinasi erat sejak hari pertama untuk mengakhiri permusuhan," kata mantan senator Pakistan dan kepala komite pertahanan dan luar negeri majelis tinggi, Mushahid Hussain Sayed.

"Peran China akan tetap sangat diperlukan dalam mencapai kesepakatan perdamaian akhir sebagai penjamin utama, mengingat fakta bahwa Iran tidak mempercayai duet Trump atau Netanyahu," tambahnya merujuk pada perdana menteri (PM) Israel.

Masih merujuk laman yang sama, sebenarnya Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi telah melakukan 26 panggilan telepon dengan rekan-rekannya dari negara-negara terkait sementara utusan Timur Tengah Beijing telah "bolak-balik" ke wilayah yang dilanda perang, kata juru bicara kementerian luar negeri.

Para analis dan pejabat mengatakan prospek Tiongkok secara terbuka mengambil peran penjamin formal dalam beberapa minggu mendatang juga tidak pasti.

"Mereka memiliki pertimbangan sendiri, mereka tidak ingin terseret ke dalam konflik ini secara terbuka," kata sumber kedua kepada AFP, sebagai isyarat terhadap peran kuat Beijing di balik layar.

Perundingan menghadapi tantangan berat dalam menyelesaikan perbedaan yang sangat besar.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Bank-Bank China Diminta Rem Pembelian Utang AS, Ada Apa?


Most Popular
Features