MARKET DATA
Internasional

Negara NATO Ini Diam-Diam Bantu Iran, Bagi Info 'A1' Lawan Israel

tps,  CNBC Indonesia
10 April 2026 06:05
Hungary fans wave flags as they wait for the start of the Euro 2020 soccer championship group F match between Hungary and France at the Ferenc Puskas stadium in Budapest, Hungary, Saturday, June 19, 2021. (AP Photo/Laszlo Balogh,Pool)
Foto: Bendera Hungaria, Sabtu, 19 Juni 2021. (AP Photo/Laszlo Balogh,Pool)

Jakarta, CNBC Indonesia - Hungaria dilaporkan telah menawarkan untuk berbagi informasi intelijen dengan Iran terkait serangan pager mematikan tahun 2024 milik Israel yang menargetkan anggota Hizbullah. Langkah mengejutkan ini memicu tanda tanya besar mengenai posisi geopolitik Budapest yang selama ini dikenal sebagai sekutu dekat Israel.

Mengutip laporan The Washington Post yang dikutip The Times of Israel pada Rabu, (08/04/2026), sebuah transkrip pemerintah Hungaria mengungkap adanya panggilan telepon pada 30 September 2024 antara Menteri Luar Negeri Hungaria Peter Szijjarto dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Dalam percakapan itu, Szijjarto menyebutkan akan memberi semua informasi intelijen terkait serangan ini pada Teheran

"Dalam percakapan tersebut, Szijjarto memberitahu Araghchi bahwa dinas intelijen Budapest telah melakukan penyelidikan dan akan membagikan semua informasi yang terkumpul mengenai insiden ledakan tersebut," tulis laporan itu.

Upaya komunikasi dari Szijjarto kepada Araghchi ini terjadi sesaat setelah ribuan pager yang digunakan oleh anggota Hizbullah meledak di Lebanon pada 17 September. Tragedi tersebut menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai hampir 3.000 orang lainnya, di mana Hungaria ikut terseret karena sebuah perusahaan Taiwan mengeklaim perangkat tersebut diproduksi oleh perusahaan Hungaria di bawah lisensi.

Szijjarto berusaha menjauhkan Hungaria dari serangan itu dan menegaskan kepada Araghchi bahwa perangkat tersebut sama sekali tidak memiliki kaitan fisik dengan negaranya.

"Pager-pager tersebut tidak diproduksi di Hungaria, mereka tidak pernah berada di Hungaria, dan tidak ada perusahaan Hungaria yang pernah berhubungan dengan pager ini secara fisik. Jadi kami tidak ada hubungannya dengan itu!" tegas Szijjarto dalam transkrip tersebut.

Merespons tawaran kerja sama tersebut, Araghchi menyampaikan apresiasinya atas upaya yang dilakukan oleh pemerintah Hungaria. Meski begitu, tidak dijelaskan secara pasti informasi apa yang akan diberikan oleh Budapest pada pihak Iran.

"Saya sangat berterima kasih kepada Anda karena telah melakukan semua ini," kata Araghchi kepada Szijjarto.

Keinginan Hungaria untuk bekerja sama dengan Iran, yang merupakan pendukung utama Hizbullah, dinilai sangat kontradiktif dengan sikap resmi negara tersebut sebagai salah satu pendukung Israel paling setia di Eropa. Selama ini, Budapest sering membela Israel dalam forum internasional dan menjaga hubungan sangat erat dengan kepemimpinan Israel maupun Amerika Serikat (AS).

Bahkan pada Maret lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka memberikan dukungan kepada Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban dalam pemilihan umum yang akan datang. Netanyahu menyebut pemimpin kuat Hungaria tersebut telah berdiri kokoh seperti batu karang dalam mendukung Israel.

Dukungan serupa juga datang dari Wakil Presiden AS JD Vance yang mengunjungi Hungaria pada Selasa. Dalam sebuah rapat umum yang mendukung Orban, Vance menyatakan kehadirannya di Budapest adalah untuk membantu kampanye sang perdana menteri.

"Saya berada di Budapest untuk membantunya dalam siklus kampanye ini," ujar Vance pada Selasa (07/04/2026).

Seorang mantan pejabat Gedung Putih mengatakan kepada The Post bahwa meskipun Hungaria mungkin mencoba meredakan ketegangan dengan Teheran pascaserangan tersebut, langkah ini bertentangan dengan kebijakan pro-Israel yang mereka gembar-gemborkan.

"Hungaria adalah salah satu yang paling mendukung Israel dalam kebijakan resminya. Mereka adalah salah satu dari sedikit negara yang secara konsisten memberikan suara bersama AS ketika negara-negara Eropa lainnya memilih abstain," ungkap pejabat tersebut.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]
Next Article "Agak Laen di Tongkrongan", Pemimpin NATO-UE Ini Vokal Bela Rusia


Most Popular
Features