Geram Pada Zelensky, Negara NATO Gagalkan Dana Rp 1.700 T ke Ukraina
Jakarta, CNBC Indonesia - Hungaria resmi memblokir usulan pinjaman darurat Uni Eropa senilai 90 miliar euro (Rp 1.783,71 triliun) untuk Ukraina serta paket sanksi terbaru terhadap Rusia. Langkah ini diambil Budapest sebagai respons atas tuduhan sabotase pasokan minyak oleh Kyiv yang dinilai mengancam keamanan energi nasional mereka.
Veto ganda tersebut diajukan Hungaria pada Senin (23/2/2026) waktu setempat di tengah perselisihan sengit dengan Kyiv terkait pipa minyak Druzhba peninggalan era Soviet. Jalur pipa yang membawa minyak mentah Rusia ke Hungaria dan Slovakia ini telah berhenti beroperasi sejak akhir Januari lalu.
Pihak Kyiv mengklaim bahwa kerusakan pipa tersebut disebabkan oleh serangan Rusia, namun tuduhan tersebut dibantah keras oleh Moskow. Hungaria justru mendukung sikap Moskow dan menuduh Kyiv sengaja menahan pasokan minyak demi alasan politik dan melakukan "blokade minyak" terhadap negaranya.
Menteri Luar Luar Negeri Hungaria, Peter Szijjarto, menegaskan posisi keras negaranya setelah pertemuan para diplomat tinggi blok tersebut yang membahas paket pinjaman dan sanksi. Ia menyatakan bahwa Hungaria tidak akan tunduk pada tekanan yang dianggapnya sebagai upaya pemerasan.
"Ukraina tidak bisa memeras kami; mereka tidak bisa membahayakan keamanan pasokan energi Hungaria dengan berkolusi bersama Brussel dan oposisi Hungaria. Tidak, ini adalah jawaban 'tidak' yang jelas," ujar Szijjarto.
Kegagalan kesepakatan ini memicu kekecewaan dari pimpinan Uni Eropa yang sebelumnya optimis kebijakan tersebut akan disahkan. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyebut keputusan Hungaria ini sebagai hambatan besar bagi diplomasi blok tersebut di tengah konflik yang masih berlangsung.
"Kepemimpinan blok mengharapkan langkah-langkah ini disetujui dalam pertemuan tersebut. Ini adalah kemunduran besar dan sebuah pesan yang tidak ingin kami kirimkan hari ini," ungkapKallas.
Pinjaman senilai 90 miliar euro ini sebenarnya telah disepakati pada Desember lalu. Saat itu, Hungaria, Slovakia, dan Republik Ceko mendapatkan skema pengecualian yang memungkinkan mereka untuk tidak memberikan kontribusi finansial secara langsung ke dalam program tersebut.
Namun, penghentian operasional pipa Druzhba membuat Hungaria dan Slovakia geram. Pekan lalu, kedua negara tersebut mengumumkan akan menangguhkan ekspor diesel ke Ukraina hingga pipa kembali beroperasi, bahkan Perdana Menteri Slovakia Robert Fico mengancam akan menghentikan bantuan listrik darurat.
Robert Fico menegaskan bahwa dirinya akan menepati janji tersebut dan telah mengangkat masalah ini kepada penyedia listrik nasional. Ia mencatat bahwa pada Januari saja, Kiev menerima lebih banyak listrik darurat dari Slovakia dibandingkan sepanjang tahun 2025 untuk menstabilkan jaringan energinya akibat serangan jarak jauh Rusia.
"Saya akan menepati janji saya," tegas Fico terkait ancaman penghentian pasokan listrik jika Kyiv tidak segera memulihkan pengiriman minyak dalam waktu dua hari.
source on Google [Gambas:Video CNBC]