Panas! Rusia Tembakkan Rudal Pembawa Nuklir Oreshnik ke Gerbang NATO
Jakarta, CNBC Indonesia - Rusia kembali menaikkan tensi perang dengan meluncurkan rudal hipersonik berdaya jangkau menengah ke wilayah Ukraina barat, hanya beberapa kilometer dari perbatasan negara anggota NATO, Polandia. Serangan yang terjadi semalam itu langsung memicu kecaman keras dari sekutu Eropa Ukraina, yang menilai langkah Moskow sebagai upaya terang-terangan untuk mengintimidasi mereka agar menghentikan dukungan kepada Kyiv.
Menurut otoritas Ukraina, sebagaimana dilansir Reuters, Sabtu (10/1/2026), rudal yang ditembakkan adalah Oreshnik, senjata balistik jarak menengah yang disebut Kremlin mustahil dicegat dan dirancang untuk memproyeksikan kekuatan Rusia ke seluruh Eropa.
Ini baru kali kedua Rusia menggunakan Oreshnik terhadap Ukraina. Serangan tersebut menjadi bagian dari gelombang besar serangan udara yang juga menewaskan empat orang di Kyiv, memutus aliran listrik di ibu kota, serta merusak gedung Kedutaan Besar Qatar.
Oreshnik diketahui mampu membawa hulu ledak nuklir, meski tidak ada indikasi bahwa muatan semacam itu digunakan dalam serangan kali ini. Seorang pejabat senior Ukraina mengatakan rudal tersebut tampaknya membawa hulu ledak inert atau "dummy".
Para analis menilai serangan ini ditujukan untuk menekan Ukraina pada momen krusial pembicaraan guna mengakhiri perang. Aksi tersebut terjadi setelah sepekan yang dinilai penuh kemunduran bagi Moskow, termasuk penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat, sekutu dekat Presiden Rusia Vladimir Putin.
Moskow menyatakan peluncuran Oreshnik dilakukan sebagai balasan atas apa yang mereka sebut sebagai upaya serangan drone Ukraina terhadap salah satu kediaman Putin bulan lalu. Klaim itu dibantah Ukraina dan Amerika Serikat, yang menyatakan insiden tersebut tidak pernah terjadi.
Menteri Luar Negeri Ukraina Andriy Sybiha mengatakan serangan di dekat perbatasan Uni Eropa dan NATO merupakan "ancaman serius bagi keamanan".
"Tidak masuk akal Rusia mencoba membenarkan serangan ini dengan 'serangan terhadap kediaman Putin' yang palsu dan tidak pernah terjadi," tulisnya di X.
"Putin menggunakan rudal balistik jarak menengah di dekat perbatasan Uni Eropa dan NATO sebagai respons atas halusinasinya sendiri, ini benar-benar ancaman global dan ini menuntut respons global."
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky juga menekankan bahwa sasaran serangan berada sangat dekat dengan negara-negara Uni Eropa. Dalam pidato video malam hari, ia memperingatkan negara-negara tetangga Ukraina agar menyadari risikonya.
"Dari sudut pandang penggunaan balistik jarak menengah, ini adalah tantangan yang sama bagi Warsawa, Bucharest, Budapest, dan banyak ibu kota lainnya," kata Zelenskiy. "Semua orang harus memahaminya dengan cara yang sama dan menanggapinya dengan tingkat keseriusan yang sama."
"Eskalasi Jelas"
Serangan itu terjadi hanya beberapa hari setelah pertemuan puncak negara-negara Eropa yang berjanji menyiapkan pasukan untuk Ukraina jika tercapai gencatan senjata, serta dukungan Washington terhadap pemberian jaminan keamanan bagi Kyiv.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyebut penggunaan Oreshnik sebagai "eskalasi yang jelas".
"Penggunaan Oreshnik oleh Rusia merupakan eskalasi nyata terhadap Ukraina dan dimaksudkan sebagai peringatan bagi Eropa dan Amerika Serikat," tulisnya di X.
Ia mendesak negara-negara UE memperkuat stok pertahanan udara dan segera mengirimkannya, serta menaikkan biaya perang bagi Moskow, termasuk melalui sanksi yang lebih keras.
Kanselir Jerman Friedrich Merz, yang berbicara dengan para pemimpin Prancis dan Inggris, mengatakan hal serupa. "Gestur ancaman dimaksudkan untuk menebar ketakutan, tetapi itu tidak akan berhasil. Kami berdiri bersama Ukraina."
Seorang pejabat senior Ukraina mengatakan rudal tersebut menghantam bengkel milik sebuah perusahaan negara di kota Lviv, Ukraina barat, dekat perbatasan Polandia. Dampak dari beberapa submunisi menyebabkan "penetrasi kecil pada struktur beton" di bengkel tersebut serta membentuk kawah di area hutan di sekitarnya.
Secara terpisah, dinas keamanan negara Ukraina, SBU, menyatakan Rusia juga berupaya menghancurkan infrastruktur sipil di wilayah sekitar, di tengah kondisi cuaca yang "memburuk dengan cepat".
Moskow mengeklaim serangan tersebut menargetkan infrastruktur energi dan sebuah pabrik yang memproduksi drone yang disebut digunakan dalam serangan terhadap kediaman Putin. Kyiv menilai tuduhan bahwa Ukraina menyerang kediaman Putin di wilayah Novgorod pada 29 Desember sebagai "kebohongan absurd" yang bertujuan menggagalkan perundingan damai.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan ia tidak percaya insiden itu terjadi, meskipun mengakui ada kejadian lain di wilayah tersebut.
Â
(luc/luc)[Gambas:Video CNBC]