CNBC Insight

Insiden AS Tembak Pesawat Penumpang Iran, Ratusan Tewas Seketika

Verda Nano, CNBC Indonesia
Sabtu, 04/04/2026 20:15 WIB
Foto: Ilustrasi bendera Amerika Serikat dan Iran. (iStockphoto/studiocasper)

 

Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

 

Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran saat ini tengah memanas akibat rentetan serangan militer di kawasan Timur Tengah. Dalam sejarah, ketegangan kedua negara pernah memicu tragedi besar yang mengguncang dunia, yakni penembakan pesawat sipil Iran oleh militer AS.


Peristiwa itu terjadi pada 3 Juli 1988, saat kapal perang AS USS Vincennes mendeteksi objek mencurigakan di radar di wilayah Selat Hormuz. Komandan kapal saat itu, William C. Rogers III, meyakini objek tersebut sebagai jet tempur F-14 milik Iran yang dianggap mengancam.

Tanpa verifikasi lebih lanjut, kapal perang tersebut meluncurkan dua rudal ke arah target. Belakangan diketahui, objek yang ditembak bukan pesawat militer, melainkan pesawat komersial Iran Air 655 jenis Airbus A300 yang tengah menjalani penerbangan rutin dari Bandar Abbas menuju Dubai.

Pesawat berada di jalur penerbangan sipil resmi dan di luar zona konflik. Sebanyak 290 orang di dalamnya, termasuk perempuan dan anak-anak, tewas seketika dalam insiden tersebut.

Otoritas penerbangan Iran sempat kehilangan kontak dengan pesawat sebelum akhirnya menemukan puing-puing di perairan Selat Hormuz. Temuan ini mengonfirmasi bahwa pesawat sipil tersebut ditembak oleh militer AS.

Insiden ini memicu kemarahan Iran dan kecaman luas dari komunitas internasional. Pemerintah Iran menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Sementara itu, Pentagon awalnya menyatakan target yang ditembak adalah pesawat tempur.

Ketua Kepala Staf Gabungan AS saat itu, William J. Crowe Jr., kemudian mengakui adanya kesalahan identifikasi, meski tanpa permintaan maaf resmi.

"Pemerintah Amerika Serikat sangat menyesalkan insiden ini," ujar Crowe dalam konferensi pers di Pentagon pada saat itu.

Presiden AS saat itu, Ronald Reagan, membela tindakan militer tersebut. Ia menyebut penembakan dilakukan dalam konteks bela diri, dengan alasan pesawat tidak merespons panggilan radio dari USS Vincennes.

Kasus ini kemudian dibawa ke Mahkamah Internasional. Pada 1992, AS sepakat membayar kompensasi sebesar US$61,8 juta atau sekitar Rp976 miliar kepada keluarga korban. Penyelesaian tersebut dilakukan tanpa pengakuan kesalahan hukum dari pihak AS.

Tragedi Iran Air 655 hingga kini dikenang sebagai salah satu insiden paling mematikan dalam sejarah penerbangan sipil, sekaligus menjadi simbol fatalnya kesalahan identifikasi militer dalam situasi konflik.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Kapal Minyak Malaysia-China Bisa Lewat Selat Hormuz, RI Gimana?