MARKET DATA
Internasional

Alert! 2 Ledakan Dahsyat Guncang Iran, Khamenei Teriak Perang Regional

Tommy Patrio Sorongan,  CNBC Indonesia
02 February 2026 16:05
Ledakan di pelabuhan Bandar Abbas, Iran, Sabtu (26/4/2025). (Mohammad Rasoul Moradi/IRNA/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS)
Foto: Ledakan Iran, Sabtu. (Mohammad Rasoul Moradi/IRNA/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Republik Islam Iran kembali diguncang aksi kekerasan mematikan. Dua ledakan dahsyat dilaporkan merobek dua kota berbeda pada Sabtu (31/1/2026) waktu setempat.

Insiden berdarah ini terjadi di tengah eskalasi ketegangan yang kian memuncak antara Teheran dan Amerika Serikat (AS), yang kini dipimpin kembali oleh Presiden Donald Trump. Sejumlah media internasional melaporkan bahwa sedikitnya lima orang tewas dan belasan lainnya luka-luka akibat insiden tersebut.

Ledakan pertama terjadi di kota Ahvaz, pusat industri besar di dekat perbatasan Irak, yang menewaskan empat orang. Sementara itu, ledakan kedua menghantam kota pelabuhan strategis Bandar Abbas, wilayah yang menjadi markas besar pangkalan angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di dekat Selat Hormuz.

Direktur Jenderal Manajemen Krisis Provinsi Hormozgan, Mehrdad Hassanzadeh, mengonfirmasi dampak tragis dari ledakan di Bandar Abbas. Ia menyatakan bahwa seorang anak perempuan berusia empat tahun tewas dalam insiden tersebut dan belasan orang lainnya harus dilarikan ke rumah sakit.

"Ledakan di kota pelabuhan ini menghancurkan dua lantai dari sebuah gedung hunian delapan lantai serta merusak sejumlah kendaraan di sekitarnya," ujarnya dikutip Newsweek, Senin (2/2/2026).

Otoritas pemadam kebakaran setempat menduga kuat bahwa kebocoran gas menjadi pemicu utama bencana ini. Namun, ini masih teori awal.

"Penyebab awal kecelakaan bangunan di Bandar Abbas adalah kebocoran dan penumpukan gas yang memicu ledakan. Ini adalah teori awal kami," ujar pejabat pemadam kebakaran Mohammad Amin Lyaghat dalam keterangannya di televisi pemerintah.

Ledakan di Bandar Abbas sempat memicu spekulasi liar mengenai adanya serangan terarah terhadap petinggi militer Iran. Namun, kantor berita semi-pemerintah, Tasnim, dengan tegas membantah rumor.

Sebelumnya dikatakan upaya pembunuhan sedang dilakukan terhadap Komandan Angkatan Laut IRGC, Laksamana Madya Alireza Tangsiri. Pihak IRGC menyatakan bahwa kabar mengenai pembunuhan sang komandan adalah "sepenuhnya rekayasa".

Perang Regional

Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei memperingatkan AS. Setiap serangan terhadap negaranya akan mengakibatkan "perang regional".

"Mereka harus tahu bahwa jika mereka memulai perang kali ini, itu akan menjadi perang regional," kata pria berusia 86 tahun itu, yang telah memegang kekuasaan selama 37 tahun, dalam sebuah acara di pusat kota Teheran Minggu waktu setempat, dimuat Al-Jazeera, Senin.

a berbicara kepada kerumunan besar pendukungnya, dalam peringatan ulang tahun kembalinya Ayatollah Ruhollah Khomeini ke Iran dari pengasingan di Prancis pada tahun 1979. Ia merupakan tokoh Revolusi Iran, yang menumbangkan rezim Mohammad Reza Shah Pahlavi.

Menurutnya AS ingin menelan Iran dan sumber daya minyak dan gas alamnya yang melimpah. Apa yang terjadi selama protes anti-pemerintah baru-baru ini, tegas Khamenei, mirip dengan kudeta karena sejumlah besar kantor pemerintah, bank, dan masjid diserbu.

"Pemberontakan baru-baru ini mirip dengan kudeta. Tentu saja, kudeta itu telah ditumpas," kata Khamenei lagi.

"Tujuan mereka adalah untuk menghancurkan pusat-pusat sensitif dan efektif yang terlibat dalam menjalankan negara, dan karena alasan ini, mereka menyerang polisi, pusat-pusat pemerintah, fasilitas [Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC], bank, dan masjid serta membakar salinan Al-Quran," jelasnya.

Sementara itu, Trump mengatakan ia berharap Iran akan menyetujui kesepakatan. Saat ditanya tentang peringatan Khamenei, Trump mengaku tak terkejut.

"Tentu saja dia akan mengatakan itu," katanya.

"Semoga kita akan membuat kesepakatan. Jika kita tidak mencapai kesepakatan, maka kita akan tahu apakah dia benar atau tidak," tegas Trump.

Perlu diketahui situasi Iran bergejolak sejak 28 Desember. Protes terjadi setelah para pemilik toko di distrik bisnis Teheran memprotes penurunan ekonomi Iran yang cepat terkait dengan salah urus dan korupsi lokal, serta runtuhnya mata uang Iran, rial, di tengah sanksi yang diberlakukan oleh AS dan sekutunya.

Namun, protes tersebut segera berubah menjadi ekspresi kemarahan nasional atas pembatasan kebebasan pribadi dan sosial, krisis energi dan air yang akut, dan polusi udara yang parah, di antara hal-hal lainnya. PBB, kelompok hak asasi manusia internasional, dan lawan-lawan pemerintah Iran yang berbasis di luar negeri mengatakan ribuan orang ditembak mati atau ditikam oleh pasukan keamanan selama protes.

Seorang pelapor khusus PBB mengatakan jumlah korban jiwa mungkin melebihi 20.000. Ia yakin banyak informasi yang terhambat oleh pemadaman internet selama beberapa minggu.

Aktivis yang berbasis di AS menduga ada 6.713 kematian, dan mengklaim mereka sedang menyelidiki 17.000 lainnya. Sumber lain menyebutkan angka yang lebih tinggi.



(tps/sef)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Iran Tiba-Tiba Tembak Rudal Terbaru, Siap Perang Lawan Israel?


Most Popular
Features