Arab Makin Ngeri! Khamenei Warning AS: Perang Regional
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei memperingatkan Amerika Serikat (AS). Setiap serangan terhadap negaranya akan mengakibatkan "perang regional".
"Mereka harus tahu bahwa jika mereka memulai perang kali ini, itu akan menjadi perang regional," kata pria berusia 86 tahun itu, yang telah memegang kekuasaan selama 37 tahun, dalam sebuah acara di pusat kota Teheran Minggu waktu setempat, dimuat Al-Jazeera, Senin (2/2/2026).
Ia berbicara kepada kerumunan besar pendukungnya, dalam peringatan ulang tahun kembalinya Ayatollah Ruhollah Khomeini ke Iran dari pengasingan di Prancis pada tahun 1979. Ia merupakan tokoh Revolusi Iran, yang menumbangkan rezim Mohammad Reza Shah Pahlavi.
Menurutnya AS ingin menelan Iran dan sumber daya minyak dan gas alamnya yang melimpah. Apa yang terjadi selama protes anti-pemerintah baru-baru ini, tegas Khamenei, mirip dengan kudeta karena sejumlah besar kantor pemerintah, bank, dan masjid diserbu.
"Pemberontakan baru-baru ini mirip dengan kudeta. Tentu saja, kudeta itu telah ditumpas," kata Khamenei lagi.
"Tujuan mereka adalah untuk menghancurkan pusat-pusat sensitif dan efektif yang terlibat dalam menjalankan negara, dan karena alasan ini, mereka menyerang polisi, pusat-pusat pemerintah, fasilitas [Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC], bank, dan masjid serta membakar salinan Al-Quran," jelasnya.
Sementara itu, Trump mengatakan ia berharap Iran akan menyetujui kesepakatan. Saat ditanya tentang peringatan Khamenei, Trump mengaku tak terkejut.
"Tentu saja dia akan mengatakan itu," katanya.
"Semoga kita akan membuat kesepakatan. Jika kita tidak mencapai kesepakatan, maka kita akan tahu apakah dia benar atau tidak," tegas Trump.
Perlu diketahui situasi Iran bergejolak sejak 28 Desember. Protes terjadi setelah para pemilik toko di distrik bisnis Teheran memprotes penurunan ekonomi Iran yang cepat terkait dengan salah urus dan korupsi lokal, serta runtuhnya mata uang Iran, rial, di tengah sanksi yang diberlakukan oleh AS dan sekutunya.
Namun, protes tersebut segera berubah menjadi ekspresi kemarahan nasional atas pembatasan kebebasan pribadi dan sosial, krisis energi dan air yang akut, dan polusi udara yang parah, di antara hal-hal lainnya. PBB, kelompok hak asasi manusia internasional, dan lawan-lawan pemerintah Iran yang berbasis di luar negeri mengatakan ribuan orang ditembak mati atau ditikam oleh pasukan keamanan selama protes.
Seorang pelapor khusus PBB mengatakan jumlah korban jiwa mungkin melebihi 20.000. Ia yakin banyak informasi yang terhambat oleh pemadaman internet selama beberapa minggu.
Aktivis yang berbasis di AS menduga ada 6.713 kematian, dan mengklaim mereka sedang menyelidiki 17.000 lainnya. Sumber lain menyebutkan angka yang lebih tinggi.
Iran sendiri menyatakan bahwa kelompok "teroris" bersenjata didanai oleh AS dan Israel. Mereka bertanggung jawab atas pembunuhan massal tersebut.
Media pemerintah negara itu mengatakan protes tersebut menewaskan 3.117 orang. Sebanyak 2.427 di antaranya adalah warga sipil dan sisanya adalah anggota pasukan keamanan.
Presiden Masoud Pezeshkian pekan ini berjanji akan segera merilis nama dan informasi setiap orang yang tewas selama kerusuhan, tetapi belum memberikan tenggat waktu untuk hal ini. Pemerintahnya juga mengirim pesan teks kepada warga Iran, mengatakan langkah tersebut akan melawan "klaim dan angka palsu".
(sef/sef)[Gambas:Video CNBC]