MARKET DATA
Internasional

Survei: 66% Warga AS Mau Perang Iran Setop, Tak Peduli "Menang Kalah"

luc,  CNBC Indonesia
01 April 2026 06:55
Warga Kota New York, Amerika Serikat (AS), memadati Times Square beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan serangkaian serangan mematikan terhadap Iran, Sabtu (28/3/2026). (REUTERS/Jeenah Moon)
Foto: Warga Kota New York, Amerika Serikat (AS), memadati Times Square beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan serangkaian serangan mematikan terhadap Iran, Sabtu (28/3/2026). (REUTERS/Jeenah Moon)

Jakarta, CNBC Indonesia - Survei terbaru mengungkapkan mayoritas publik Amerika Serikat kini mendorong pemerintah untuk segera mengakhiri keterlibatan dalam perang Iran, bahkan jika tujuan strategis yang ditetapkan tidak sepenuhnya tercapai. Temuan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan ekonomi domestik akibat konflik yang telah berlangsung selama sebulan.

Survei yang dilakukan oleh Reuters/Ipsos menemukan bahwa dua pertiga warga AS mendukung penghentian cepat keterlibatan militer AS di Iran.

Hasil jajak pendapat yang dilakukan pada Jumat hingga Minggu lalu itu menunjukkan sekitar 66% responden menyatakan AS sebaiknya bekerja untuk mengakhiri keterlibatan tersebut secepat mungkin, meskipun itu berarti tidak mencapai semua target yang ditetapkan pemerintahan Donald Trump.

Sebaliknya, sebanyak 27% responden mengatakan AS harus berupaya mencapai seluruh tujuannya di Iran, bahkan jika konflik berlangsung lebih lama. Sementara itu, 6% lainnya tidak memberikan jawaban.

Di kalangan pemilih Partai Republik yang menjadi basis Trump, hasilnya menunjukkan pandangan yang lebih terbagi. Sekitar 40% responden dari Partai Republik mendukung pengakhiran konflik secara cepat meskipun tujuan tidak tercapai, sementara 57% mendukung keterlibatan yang lebih lama untuk mencapai target AS.

Survei terhadap 1.021 responden tersebut juga menunjukkan bahwa 60% responden tidak menyetujui serangan militer AS terhadap Iran, sedangkan 35% menyatakan mendukung.

Salah satu dampak paling terlihat di dalam negeri adalah kenaikan harga bahan bakar. Data dari layanan pelacak harga GasBuddy menunjukkan harga bensin rata-rata nasional AS melampaui US$4 per galon pada Senin, untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun.

Kenaikan harga energi ini diperkirakan belum akan mereda. Dua dari tiga responden mengatakan mereka memperkirakan harga bensin akan semakin memburuk dalam satu tahun ke depan, termasuk 40% responden dari Partai Republik.

Adapun temuan survei ini muncul saat Partai Republik menghadapi pemilih pada pemilu paruh waktu November, yang akan menentukan apakah mereka mampu mempertahankan mayoritas tipis di DPR dan Senat. Secara historis, partai presiden yang sedang menjabat cenderung kehilangan kursi di Kongres dalam pemilu paruh waktu.

Lebih dari separuh responden juga menilai konflik tersebut akan berdampak negatif terhadap kondisi keuangan pribadi mereka. Pandangan ini juga dirasakan di kalangan Partai Republik, dengan 39% responden menyatakan konflik kemungkinan besar akan memperburuk situasi finansial mereka.

 

(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Iran Nyatakan Perang Skala Penuh Lawan AS-Israel Cs


Most Popular
Features