MARKET DATA
Internasional

Sikap AS "Mencla-mencle", Alasan Trump Serang Iran Makin Tak Jelas

Tommy Patrio Sorongan,  CNBC Indonesia
04 March 2026 13:57
Presiden AS Donald Trump menghadiri upacara penganugerahan Medali Kehormatan di Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 2 Maret 2026. (REUTERS/Jonathan Ernst)
Foto: Presiden AS Donald Trump menghadiri upacara penganugerahan Medali Kehormatan di Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 2 Maret 2026. (REUTERS/Jonathan Ernst)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan mengejutkan yang memicu kekacauan diplomatik di Gedung Putih terkait keterlibatan militer AS di Timur Tengah. Pada Selasa (3/3/2026), Trump mengklaim bahwa perintah pengerahan pasukan AS untuk bergabung dalam serangan Israel ke Iran dilakukan karena ia meyakini Teheran akan menyerang lebih dulu, sebuah alasan yang memicu perdebatan panas di dalam negerinya sendiri.

Dalam keterangannya di Ruang Oval saat bertemu dengan Kanselir Jerman Friedrich Merz, Trump menegaskan bahwa langkah militer ini adalah tindakan preventif untuk menggagalkan rencana musuh. Trump mengaku dialah yang memegang kendali penuh atas situasi tersebut, meski banyak pihak menuduhnya meluncurkan "perang pilihan".

"Saya mungkin telah memaksa tangan mereka (Israel). Kami sedang melakukan negosiasi dengan orang-orang gila ini, dan menurut pendapat saya mereka akan menyerang lebih dulu. Jika kita tidak melakukannya, mereka akan menyerang lebih dulu. Saya merasa sangat kuat tentang hal itu," kata Trump kepada wartawan, dilansir Reuters.

Meskipun Trump tidak memaparkan bukti mendetail mengenai ancaman serangan Iran tersebut, ia bersikeras bahwa intervensi militer ini tidak bisa dihindari. Baginya, diplomasi dengan Teheran sudah tidak lagi membuahkan hasil yang diinginkan bagi keamanan Amerika Serikat pasca-pertemuan di Jenewa yang dinilainya buntu.

"Itu adalah sesuatu yang harus dilakukan," tegas Trump, yang tidak memberikan argumen rinci untuk perang melawan Iran sebelum konflik tersebut pecah tiga hari yang lalu.

Namun, pernyataan Presiden ini secara langsung membantah alasan yang disampaikan oleh bawahannya sendiri, Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Sehari sebelumnya, Rubio memberikan rasionalisasi yang berbeda kepada media, di mana ia menyebutkan bahwa keterlibatan AS justru dipicu oleh kekhawatiran akan aksi balasan Iran terhadap rencana serangan Israel.

"Kami tahu bahwa akan ada aksi dari Israel; kami tahu hal itu akan memicu serangan terhadap pasukan Amerika, dan kami tahu jika kami tidak secara preventif mengejar mereka sebelum mereka meluncurkan serangan-serangan tersebut, kita akan menderita korban yang lebih tinggi," ujar Rubio pada hari Senin.

Perbedaan narasi ini pun memaksa Rubio melakukan klarifikasi saat mengunjungi Capitol Hill pada hari Selasa. Ketika ditekan oleh awak media mengenai kontradiksi antara dirinya dengan Presiden, Rubio mencoba menyatukan suaranya guna meredam spekulasi adanya perpecahan internal di dalam kabinet.

"Intinya adalah ini: Presiden menetapkan bahwa kita tidak akan membiarkan diri kita dipukul lebih dulu. Sesederhana itu, kawan-kawan," tutur Rubio singkat kepada wartawan yang mengejarnya.

Saling silang pernyataan antara Trump dan Rubio ini langsung memicu gelombang kritik tajam dari para loyalis Trump dan komentator konservatif. Mereka menuduh bahwa kebijakan luar negeri AS saat ini justru didikte oleh kepentingan Israel, bukan atas dasar kepentingan nasional Amerika Serikat sendiri, yang bisa berdampak pada ekonomi domestik di mana US$1 kini setara Rp16.880.

"Jadi dia secara terang-terangan memberi tahu kita bahwa kita sedang berperang dengan Iran karena Israel memaksa tangan kita. Ini pada dasarnya adalah hal terburuk yang bisa dia katakan," tulis podcaster konservatif Matt Walsh kepada 4 juta pengikutnya di platform X merespons pernyataan Rubio.

Nada kekecewaan serupa juga datang dari Megyn Kelly. Podcaster populer tersebut menyatakan keraguan mendalam atas keputusan Trump untuk terjun ke dalam konflik bersenjata ini, terutama jika motif utamanya adalah untuk melindungi kepentingan negara lain dibandingkan rakyat Amerika sendiri.

"Tugas pemerintah kita bukan untuk menjaga Iran atau Israel. Tugasnya adalah menjaga kita. Dan bagi saya ini terasa sangat jelas seperti perang milik Israel," ungkap Kelly dalam komentar yang disiarkan sebelum klarifikasi terbaru dari pihak pemerintah muncul.

Di tengah memanasnya suhu politik di Washington, pihak Iran secara tegas membantah semua tuduhan Amerika Serikat dan menyebut serangan tersebut tidak berdasar. Pemerintah Iran menyatakan bahwa serangan udara yang dipimpin oleh AS dan Israel merupakan tindakan agresif yang tidak dipicu oleh provokasi apa pun dari pihak mereka.

Iran juga mengeklaim bahwa pembicaraan di Jenewa sebenarnya berlangsung positif, namun pihak AS melalui utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner melaporkan hal sebaliknya kepada Trump. Pejabat senior AS menyebut Iran hanya melakukan taktik menunda-nunda demi mempertahankan program nuklirnya, yang akhirnya membuat Trump memerintahkan serangan total.

"Mereka tidak mau menyerahkan blok-blok bangunan yang perlu mereka pertahankan untuk bisa mendapatkan sebuah bom," ujar salah satu pejabat senior administrasi Trump dalam konferensi telepon menjelaskan kebuntuan negosiasi tersebut.

(tps/luc) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Geger! Trump Akui Bertanggung Jawab atas Serangan Israel ke Iran


Most Popular
Features