Jelang Berlakukan Bea Keluar Batu Bara, Baiknya Perhatikan Isu Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah berencana memberlakukan bea keluar batu bara guna meningkatkan penerimaan negara di tengah dampak konflik Timur Tengah antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat. Namun, kebijakan tersebut dinilai perlu dikaji secara matang.
Ketua Indonesian Mining & Energy Forum (IMEF) Singgih Widagdo menyampaikan bahwa penerapan bea keluar pada prinsipnya memungkinkan dilakukan. Akan tetapi, terdapat sejumlah aspek krusial yang harus diperhatikan pemerintah sebelum kebijakan tersebut diberlakukan.
"Bisa saja pemerintah memperlakukan bea keluar batu bara. Namun ada poin penting yang mesti dipahami terkait dengan pemberlakuan bea keluar batu bara," kata Singgih kepada CNBC Indonesia, Rabu (25/3/2026).
Menurut dia, pemerintah khususnya Kementerian ESDM, perlu melakukan perhitungan ulang atau audit terhadap biaya penambangan saat ini. Hal ini mengingat adanya kenaikan biaya produksi, terutama akibat lonjakan harga bahan bakar.
"Sehingga on average biaya penambangan per ton harus menjadi perhatian pemerintah," katanya.
Selain itu, harus dicatat juga bahwa kenaikan harga batu bara saat ini lebih dipacu akibat perang AS-Israel terhadap Iran, ironisnya kenaikan harga bahan bakar akibat perang juga mengakibatkan kenaikan biaya penambangan. Akibatnya, menurutnya bisa jadi kenaikan harga tidak berlangsung jangka panjang.
"Dengan kedua alasan tersebut jika pemerintah akan memberlakukan bea keluar harus benar-benar memperhitungkan pada level harga berapa akan ditetapkan," kata Singgih.
Ia menilai dengan beragamnya kualitas batu bara Indonesia, khususnya untuk kategori low rank, tidak semua produsen memperoleh keuntungan besar.
Oleh karena itu, Singgih mengusulkan jika pemerintah tetap memberlakukan bea keluar, kebijakan tersebut sebaiknya diterapkan pada level harga di atas US$ 160 per ton dengan skema berjenjang (tiered basis).
Ia menambahkan bahwa bea keluar hanya akan diberlakukan pada pasar ekspor, sehingga apabila terdapat pemangkasan signifikan dalam RKAB, maka potensi ekspor batu bara juga akan ikut menurun.
"Jelas analisis perhitungan bea ekspor harus lebih diletakkan pada posisi kondisi biaya penambangan saat ini dan level berapa yang terbaik sebagai basis untuk memperhitungkan bea keluar," kata Singgih.
source on Google [Gambas:Video CNBC]