MARKET DATA
Internasional

Kenapa Negara Teluk Lebih Marah ke Iran Ketimbang AS yang Picu Perang?

luc,  CNBC Indonesia
12 March 2026 17:50
Asap mengepul setelah serangan terhadap Kilang Minyak Bapco, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Pulau Sitra, Bahrain, 9 Maret 2026. (REUTERS/Stringer)
Foto: (REUTERS/Stringer)

Jakarta, CNBC Indonesia - Hampir dua minggu sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, dinamika politik di negara-negara Teluk menunjukkan arah yang cukup jelas. Meski operasi militer awal dipicu oleh Washington bersama Tel Aviv, kemarahan para pejabat di kawasan justru lebih banyak diarahkan kepada Teheran.

Bagi negara-negara Teluk, keputusan Iran menyerang wilayah mereka dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap upaya diplomasi yang selama ini mereka bangun untuk menjaga stabilitas kawasan.

Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara Arab Teluk sebenarnya berupaya memperbaiki hubungan dengan Iran setelah periode panjang ketegangan geopolitik.

Sejumlah pemerintah di kawasan bahkan telah memberi jaminan kepada Teheran bahwa wilayah mereka tidak akan digunakan sebagai pangkalan untuk melancarkan serangan terhadap Iran.

Namun harapan itu runtuh ketika Iran melancarkan serangan ke wilayah negara-negara Teluk sejak awal konflik.

Bagi banyak pejabat Teluk, langkah Iran tersebut dianggap sebagai pengkhianatan terhadap upaya meredakan konflik yang sebelumnya mereka dorong melalui diplomasi.

Perdana Menteri Qatar bahkan menyebut langkah Iran sebagai "pengkhianatan", karena dilakukan meskipun negara-negara Teluk telah memberikan jaminan netralitas.

Ia mengatakan Doha sebelumnya berupaya menjaga "lingkungan kawasan yang damai" serta memfasilitasi diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Namun menurutnya kesalahan perhitungan Iran akhirnya "menghancurkan semuanya."

Menariknya, kemarahan publik terhadap Washington relatif terbatas di kawasan Teluk, meskipun negara-negara tersebut ikut menanggung dampak besar dari perang regional yang sebelumnya mereka coba cegah.

Dengan sedikit pengecualian, para pejabat senior di negara-negara Teluk menghindari menyalahkan AS secara terbuka atas keputusannya menghadapi Iran.

Sebaliknya, banyak ibu kota di kawasan tersebut menyimpan bahasa "pengkhianatan" untuk Teheran, bukan untuk Washington.

Salah satu pengecualian sempat datang dari pengusaha Emirat terkenal Khalaf Al Habtoor yang sempat mengkritik Presiden AS Donald Trump karena dianggap "menyeret" kawasan ke dalam perang. Namun komentar tersebut kemudian ditarik kembali.

Beberapa sumber di kawasan Teluk mengatakan peristiwa itu mencerminkan adanya ketidaknyamanan yang sebenarnya cukup kuat, tetapi tetap dijaga agar tidak berkembang menjadi kritik terbuka terhadap Washington.

Kepala eksekutif raksasa energi Saudi Saudi Aramco, Amin Nasser, juga berhati-hati dalam menyampaikan kritik.

Ia tidak secara langsung menyalahkan Amerika Serikat, tetapi memperingatkan bahwa gangguan yang terjadi telah memicu "reaksi berantai yang serius" yang berpotensi membawa konsekuensi "bencana" bagi pasar minyak global.

Ketergantungan Keamanan pada AS

Meski ada kekecewaan terhadap situasi yang berkembang, negara-negara Teluk menegaskan bahwa hubungan keamanan dengan Washington tetap penting.

Juru bicara pemerintah Qatar Majed Al Ansari mengatakan kemitraan keamanan dengan Amerika Serikat "tidak perlu dipertanyakan."

Ia menambahkan bahwa situasi saat ini justru memperkuat alasan untuk mempererat kerja sama keamanan dengan militer Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.

Namun konflik ini juga memunculkan pelajaran penting bagi negara-negara Teluk: ketergantungan pada satu penjamin keamanan saja dapat membuat kawasan menjadi rentan.

Dalam beberapa hari terakhir, negara-negara Eropa justru terlihat memainkan peran penting dalam memperkuat pertahanan kawasan.

Jet tempur Dassault Rafale milik Prancis dilaporkan berpatroli di wilayah udara Uni Emirat Arab, sementara pesawat tempur Eurofighter Typhoon milik Inggris membantu mencegat ancaman di langit Qatar.

Negara Teluk Mulai Diversifikasi Keamanan

Seorang pejabat Teluk mengatakan kepada Reuters bahwa negara-negara di kawasan tersebut kini mulai mempertimbangkan perubahan besar dalam strategi pertahanan mereka.

Ia mengatakan negara-negara Teluk memperkirakan akan terjadi perubahan besar dalam posisi keamanan dan pertahanan mereka.

Bukan dengan meninggalkan AS, tetapi dengan melakukan diversifikasi kemitraan.

Menurutnya, sebagian negara mungkin akan mendekat ke China, sebagian lain ke Israel, sementara yang lain dapat memperkuat hubungan dengan Eropa, Turki, Pakistan, atau India.

Dengan kata lain, negara-negara Teluk tidak memutus hubungan dengan Washington. Mereka hanya mulai mengantisipasi kemungkinan perubahan besar dalam tatanan keamanan kawasan di masa depan.

(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Iran Ancam Serang Pangkalan Militer AS di Timur Tengah


Most Popular
Features