Tak Hanya Minyak, Perang AS-Iran Bawa 'Kiamat' Baru Bagi Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik bersenjata yang pecah di Iran kini mulai menebar ancaman serius bagi ketahanan pangan global. Ini seiring terganggunya jalur distribusi pupuk di Selat Hormuz.
Meski pasar selama ini lebih fokus pada risiko pasokan minyak mentah, para analis memperingatkan bahwa ancaman terhadap rantai pasok pupuk juga sama bahayanya. Hal itu dapat memicu inflasi pangan jangka panjang yang menyiksa ekonomi masyarakat.
Kepala Ekonom Wolfe Research, Stephanie Roth, menjelaskan bahwa di luar masalah energi, risiko lain ini kurang mendapat perhatian. Padahal berdampak fatal.
Efek berantai bisa muncul ke kenaikan harga pangan akibat kelangkaan pupuk yang mendongkrak biaya pertanian. Dalam catatan yang dirilis pada Selasa, Roth memberikan analisis mendalam terkait situasi tersebut.
"Selain energi, risiko lain yang kurang mendapat perhatian adalah potensi efek domino pada harga pangan, karena kelangkaan pupuk mendorong biaya pertanian menjadi lebih tinggi," kata Roth dikutip CNBCÂ International, dikutip Kamis (12/3/2025).
Khusus AS, Roth mengestimasi bahwa gangguan ini dapat mengerek inflasi kategori pangan (bisa juga disebut makan di rumah) sebesar 2 poin persentase serta menambah sekitar 0,15 poin persentase pada inflasi umum, di luar kenaikan 0,40 poin persentase yang dipicu oleh sektor energi.
Lonjakan harga ini membayangi konsumen yang sebelumnya sudah berjuang menghadapi tingginya biaya hidup untuk makanan, tempat tinggal, dan energi, di mana inflasi pangan telah naik 2,4% secara tahunan pada Februari, menurut data Biro Statistik Tenaga Kerja yang dirilis Rabu.
Menurut Roth, waktu terjadinya konflik ini sangat krusial karena pupuk diaplikasikan pada awal siklus tanaman dan menjadi penentu hasil panen di akhir tahun nanti. Sejak perang pecah akhir bulan lalu, lalu lintas komersial di jalur tersebut yang dilewati sepertiga pupuk global, sebagian besar terhenti.
"Jika pasokan pupuk mengetat selama jendela waktu ini, petani mungkin akan mengurangi tingkat penggunaan pupuk. Hal itu dapat mengurangi hasil panen untuk komoditas seperti jagung, kedelai, gandum, dan beras, serta meningkatkan biaya pertanian," ujar Roth.
Harga di Lapangan Sudah Naik
Senada dengan analisis tersebut, para ekonom di industri pupuk melaporkan bahwa harga di lapangan sudah mulai merangkak naik. Data dari The Fertilizer Institute menunjukkan bahwa antara pekan yang berakhir pada 27 Februari hingga 6 Maret-yang mencakup awal pecahnya perang-harga impor pupuk urea per ton pendek di AS melonjak drastis sebesar 30%.
Urea sendiri merupakan pupuk berbasis nitrogen yang paling banyak digunakan untuk meningkatkan hasil panen dan menjadi salah satu komoditas pupuk yang paling gencar diperdagangkan melewati kawasan Teluk. Kepala Ekonom The Fertilizer Institute, Veronica Nigh, menyatakan bahwa tingginya harga pupuk bagi petani dan peritel pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen dalam bentuk harga pangan yang lebih mahal jika gangguan perdagangan ini terus berlanjut.
"Ini adalah dampak global terhadap biaya pupuk. Saya membayangkan akan ada jauh lebih banyak penerusan biaya-biaya ini kepada konsumen dalam skenario ini, sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya," tutur Nigh.
Meskipun AS mengimpor sekitar 20% dari total kebutuhan pupuknya dari berbagai pemasok seperti Kanada, Trinidad dan Tobago, hingga Rusia, efek riak dari konflik ini tetap akan menjangkau seluruh dunia. Kawasan Asia dan Afrika sangat bergantung pada ekspor pupuk dari wilayah Teluk, di mana negara-negara seperti India sangat mengandalkan pasokan tersebut, sementara banyak negara Afrika membutuhkan material impor dari sana untuk memproduksi pupuk lokal.
Di tengah ancaman krisis bagi petani dan rumah tangga, situasi ini justru menjadi angin segar bagi para produsen pupuk besar. Saham CF Industries bahkan menyentuh level tertinggi sepanjang masa pada Senin dengan kenaikan hampir 10% dalam sepekan terakhir, yang merupakan perolehan multihari terbesar bagi perusahaan tersebut sejak tahun 2022.
source on Google [Gambas:Video CNBC]