MARKET DATA

Impor Minyak dari AS Bisa Makan Waktu 40 Hari, Begini Strategi Bahlil

Verda Nano Setiawan,  CNBC Indonesia
12 March 2026 09:50
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam acara Podcast Kementerian ESDM. (Tangkapan layar youtube ESDM)
Foto: Tangkapan layar youtube ESDM)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan pemerintah berencana mengalihkan sebagian sumber impor minyak mentah ke sejumlah negara di luar Timur Tengah. Hal ini dilakukan di tengah ketidakpastian pasokan akibat konflik di Timur Tengah.

Bahlil mengatakan beberapa negara yang menjadi alternatif sumber impor minyak mentah antara lain Amerika Serikat, Angola, dan sejumlah negara di Afrika dan kawasan Amerika Latin.

Menurutnya, pemerintah tengah menjajaki kontrak jangka panjang dengan negara-negara tersebut, terutama dengan Amerika Serikat yang dinilai memiliki kapasitas produksi minyak yang besar.

"Ada kontrak jangka panjang kita dengan negara-negara lain yang di luar daripada Middle East. Salah satu di antaranya adalah Amerika. Kenapa harus Amerika? Karena mereka yang mempunyai volume minyak yang lebih," kata Bahlil dalam acara Podcast Bukan Abuleke Kementerian ESDM, dikutip Kamis (11/3/2026).

Bahlil mengakui pengiriman minyak dari Amerika memang membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dari kawasan Timur Tengah. Adapun, jika pengiriman dari negara-negara Timur Tengah hanya memakan waktu sekitar 2 hingga 3 minggu, maka pengiriman dari Amerika Serikat bisa mencapai sekitar 40 hari.

"Benar. Jaraknya itu benar, akan lebih lama. Tetapi, kita melakukan pesan jangka panjang secara di awal. Supaya metode penyaluran logistiknya bisa kita atur," tambah Bahlil.

Ia lantas mencontohkan bahwa skema serupa sebelumnya telah berhasil diterapkan pada impor LPG. Adapun, jika sebelumnya sebagian besar impor LPG Indonesia berasal dari Timur Tengah, kini sekitar 70% impor LPG Indonesia berasal dari Amerika Serikat.

"Dan ini sudah terbukti ketika kita mengalihkan impor LPG kita dari Middle East yang tadinya kan Middle East mayoritas sekarang kita alihkan impor LPG kita 70% dari Amerika. Bisa logistiknya. Jadi nggak perlu harus ada rasa cemas, nggak perlu," katanya.

Impor Minyak Mentah RI

Bahlil menjelaskan, impor minyak mentah (crude) Indonesia selama ini berasal dari berbagai negara, antara lain berasal dari Afrika, Angola, kawasan Timur Tengah, Amerika Serikat, Brasil, Australia, serta sejumlah negara lainnya.

Adapun jumlah impor minyak mentah dari Timur Tengah menurutnya mencapai 20-25% dari total impor minyak mentah RI.

"Berapa total yang kita impor dari Middle East untuk crude? Itu totalnya 20 sampai 25%. Dari total kebutuhan nasional kita, kita impor crude dari Middle East itu 20 sampai 25%," kata Bahlil.

"Jadi, ingat, kita tidak mengimpor BBM jadi lho. Bensin itu tidak kita impor dari Middle East. Yang kita impor dari Middle East itu crude-nya," ujarnya.

"Saya ulangi ya, kita tidak mengimpor minyak jadi dari Middle East. Kita tidak impor product. Yang kita impor dari Middle East itu adalah minyak mentah. Nanti diolah di Indonesia baru kemudian itu yang kita distribusi ke rakyat. Nah, sekarang pertanyaannya, Selat Hormuz kan lagi ditutup. Berarti 20% minyak mentah sampai 25% itu ambilnya dari mana?" tuturnya.

"Berkurang nih suplai kita. Kan ada yang mempertanyakan kapal kita ditahan. Betul. Terus gimana pemerintah? Makanya jauh-jauh hari sebelum perang ini terjadi, atas perintah Bapak Presiden Prabowo, kami itu sudah menjajaki peluang untuk melahirkan order di negara lain," ujarnya.

"Di mana itu? Yaitu di Amerika, di Angola, apalagi di beberapa negara di Afrika itu, Amerika Latin, di Afrika itu, sebagian punya Pertamina. Jadi itu yang kita geser. Jadi sekalipun Selat Hormuz ditutup, untuk kita punya 20 sampai 25% itu sudah kita alihkan ke negara lain," tegasnya.

(wia) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bahlil Sebut Impor Minyak dari AS Mulai Jalan di Desember


Most Popular
Features