Purbaya Umumkan Defisit APBN Rp 135 Triliun di Februari 2026
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per Februari 2026 defisit sebesar Rp 135,7 triliun. Adapun, realisasi itu setara dengan 0,53% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Defisit APBN itu berarti pendapatan negara lebih kecil dibanding jumlah pengeluaran atau belanja negara. Dari sisi pendapatan negara sampai 28 Februari 2026 mencapai Rp 358 triliun, sementara belanja negara terealisasi sebesar Rp 493,8 triliun. Pendapatan ini tumbuh 12,8% secara tahunan (yoy).
Adapun pendapatan ini ditopang oleh penerimaan pajak yang mencapai Rp 290 triliun atau tumbuh 20,5% (yoy).
"Di dalamnya, penerimaan pajak mencapai Rp 245,1 triliun dengan pertumbuhan yang sangat kuat, yaitu 30,4% secara keseluruhan," ujarnya dalam Konferensi Pers APBN KITA Edisi Maret 2026, Rabu (11/3/2026).
Sementara itu, penerimaan cukai mencapai Rp 44,9 triliun. Cukai mengalami kontraksi sebesar 14,7%. Menurut Purbaya, ini dipengaruhi oleh harga komoditas. Namun, data terakhir, Purbaya menuturkan cukai sudah tumbuh positif sebesar 7% (yoy).
Dari sisi belanja negara, realisasi telah mencapai Rp 493,8 triliun atau tumbuh 41,9% (yoy). Belanja ini berasal dari belanja pemerintah pusat yakni Rp 346,1 triliun, serta transfer ke daerah Rp 147,7 triliun. Dengan catatan ini, APBN mengalami defisit 0,53% pada Februari 2026.
"Defisit ini masih sejalan dengan koridor APBN 2026," katanya.
Purbaya pun mengungkapkan alasan utama defisit APBN di bawah kepemimpinannya sudah besar sejak awal tahun.
Bahkan, dalam periode dua bulan pertama tahun ini, yakni Januari-Februari 2026, APBN sudah defisit 135,7 triliun, naik hingga 342,4% dibanding periode yang sama tahun lalu Rp 30,7 triliun.
"Ada yang bilang tahun lalu surplus, kenapa tahun ini defisit? Ya memang desain APBN kita defisit," tegas Purbaya.
(haa/haa) Add
source on Google