Dampak Pelemahan Ekonomi China ke RI, Purbaya Lakukan Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tak terlalu khawatir dengan efek perlambatan perekonomian salah satu negara mitra dagang utama Indonesia, yakni China dan efeknya ke aktivitas ekonomi dalam negeri.
Ia mengatakan, sebagian besar aktivitas ekonomi Indonesia digerakkan oleh permintaan domestik dengan porsi mencapai 90%, sedangkan sisanya akumulasi dari eksternal, seperti ekspor ke negara-negara mitra dagang utama seperti China.
"Kalau saya jaga yang 90%, yang 10% melambat pun enggak terlalu apa-apa," kata Purbaya saat ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Meski begitu, Purbaya tak serta merta membiarkan pelemahan ekonomi China saat ini hingga mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia. Ia mematikan, akan mengambil langkah untuk menciptakan daya saing ekspor RI di negara itu bisa tinggi, seperti memberikan bantuan stimulus terhadap eksportir.
"Jadi potensi market kita di sana masih ada asal kita pintar-pintar menjaga daya saing produk kita. Nanti kita akan bantu perusahaan-perusahaan eksportir untuk bisa lebih bersaing di pasar global, lewat LPEI dan alat instrument yang kita punya lainnya," paparnya.
Sebagaimana diketahui, Pemerintah China baru saja mengumumkan penurunan target pertumbuhan ekonominya yang menjadi terendah dalam tiga dekade terakhir. Kondisi ini bisa berdampak besar terhadap ekonomi Indonesia.
Pengumuman tersebut disampaikan dalam rangkaian sidang tahunan "Two Sessions", yakni dua agenda politik paling penting di China yang mencakup pertemuan Kongres Rakyat Nasional (National People's Congress/NPC) dan Komite Nasional (Chinese People's Political Consultative Conference/CPPCC).
Dalam forum inilah arah kebijakan ekonomi, politik, dan prioritas pembangunan China biasanya diumumkan kepada publik dan dunia internasional.
Dalam kesempatan itu, pemerintah China menetapkan target pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini di kisaran 4,5% hingga 5%.
Target tersebut disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Li Qiang, pejabat nomor dua di China, saat membacakan laporan kerja pemerintah dalam sidang pembukaan Kongres Rakyat Nasional di Great Hall of the People, Beijing, pada Kamis (5/3/2026).
Angka target tersebut sekaligus menjadi yang terendah sejak 1991, serta menjadi penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi pertama China sejak 2023.
Perlambatan ekonomi China jelas tidak bisa dipandang enteng oleh Indonesia. Sebab, China masih menjadi mitra dagang terbesar Indonesia.
Melansir data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan China merupakan pasar ekspor nonmigas terbesar Indonesia, dengan nilai mencapai US$64,82 miliar atau sekitar 24% dari total ekspor nonmigas pada 2025.
Artinya, ketika ekonomi China melambat, dampak paling cepat biasanya akan terasa pada permintaan terhadap barang-barang ekspor Indonesia.
Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri, pernah mengingatkan bahwa dampak perlambatan ekonomi China terhadap Indonesia cukup nyata.
Menurut perhitungannya, setiap perlambatan 1% ekonomi China dapat memangkas pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 0,3%.
Hal itu terjadi karena China merupakan mitra dagang terbesar Indonesia, sehingga pelemahan ekonomi di negara tersebut akan langsung mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia dan pada akhirnya menekan pertumbuhan ekonomi domestik.
(arj/mij) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]