Pemerintah Umumkan Fisik dan Volume Otak Anak Penerima MBG Akan Diukur
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah menyiapkan langkah lanjutan untuk mengevaluasi efektivitas program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan mengukur pertumbuhan anak Indonesia secara menyeluruh. Evaluasi tersebut mencakup perkembangan fisik hingga volume otak anak yang menjadi penerima manfaat program.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengatakan, pemerintah menargetkan tersedianya data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai dasar penilaian program prioritas Presiden Prabowo Subianto tersebut. Data ini akan menjadi pijakan untuk melihat dampak nyata MBG terhadap kualitas tumbuh kembang anak.
Menurut Zulhas, pengumpulan data dilakukan sejak sebelum anak menerima MBG hingga beberapa tahun setelahnya. Dengan begitu, pemerintah bisa membandingkan kondisi anak pada berbagai rentang waktu, mulai usia 1-4 tahun dan seterusnya.
"Pada akhirnya data itu kita harapkan, data-data yang benar terbaik, sehingga nanti setelah 1 tahun makan bergizi kita ukur, kita ukur. Kalau sebelum makan bergizi bagaimana fisiknya, pertumbuhannya, termasuk tentu pertumbuhan otak. Nanti setelah setahun-setahun bagaimana, 2 tahun bagaimana, 3 tahun, 4 tahun, dan seterusnya," kata Zulhas saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Foto: Suasana program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 1 Jakarta, Kamis (8/1/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)Suasana program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 1 Jakarta, Kamis (8/1/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) |
Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menegaskan, pengukuran volume otak anak akan menjadi salah satu indikator utama keberhasilan program MBG. Proses pengukuran tersebut, kata dia, akan dilakukan oleh lembaga independen untuk menjamin objektivitas hasilnya.
"Tentu saja itu akan jadi bagian dari output yang harus diukur. Nanti yang ngukurnya harus lembaga independen," kata Dadan saat ditemui usai konferensi pers.
Dadan pun mencontohkan keberhasilan program makan bergizi di Jepang yang berdampak signifikan terhadap peningkatan tinggi badan rata-rata penduduk dalam beberapa dekade. Ia menilai peningkatan tersebut bukan semata faktor genetik, melainkan hasil perbaikan kualitas gizi yang konsisten.
"Di dalam program makan bergizi di Jepang, itu ada pengukuran perbedaan tinggi rata-rata badan orang Jepang dari tahun 40-an [1940-an] ke tahun 2000-an. Itu terjadi peningkatan yang signifikan akibat peningkatan kualitas gizi. Jadi bukan hanya potensi genetik, tapi juga kualitas gizi. Nah, Indonesia akan seperti itu," pungkas Dadan.
(wur)[Gambas:Video CNBC]
Foto: Suasana program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 1 Jakarta, Kamis (8/1/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)