MARKET DATA
Internasional

Agen Trump Tembak Mati Warga, Gedung Putih Beri Respons di Luar Dugaan

luc,  CNBC Indonesia
27 January 2026 07:00
Cuplikan layar dari video yang diperoleh Reuters menunjukkan seorang petugas penegak hukum mencoba melepas kemeja seorang pria yang diidentifikasi sebagai Alex Pretti setelah ia ditembak mati ketika agen federal mencoba menahannya di Minneapolis, Minnesota, AS, 24 Januari 2026. (VIDEO OBTAINED BY REUTERS/via REUTERS)
Foto: Cuplikan layar dari video yang diperoleh Reuters menunjukkan seorang petugas penegak hukum mencoba melepas kemeja seorang pria yang diidentifikasi sebagai Alex Pretti setelah ia ditembak mati ketika agen federal mencoba menahannya di Minneapolis, Minnesota, AS, 24 Januari 2026. (via REUTERS/VIDEO OBTAINED BY REUTERS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gedung Putih mulai mengambil jarak dari pernyataan keras sejumlah pejabat tinggi pemerintahan Donald Trump terkait penembakan yang menewaskan Alex Pretti di Minneapolis. Dalam perkembangan terbaru, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa Presiden Trump tidak serta-merta mengadopsi narasi yang disampaikan oleh Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem maupun Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller.

Leavitt mendapat banyak pertanyaan dalam konferensi pers Gedung Putih pada Senin (26/1/2026) waktu setempat, menyusul kontroversi pernyataan Noem dan Miller yang menilai insiden penembakan Pretti sebagai bentuk "terorisme domestik" dan menggambarkan korban sebagai ancaman terhadap aparat penegak hukum federal.

Sebelumnya, Noem menyebut Pretti "menyerang" petugas federal sambil "mengacungkan" senjata api, serta mengatakan peristiwa tersebut merupakan contoh "terorisme domestik". Sementara itu, Miller menyebut Pretti sebagai "calon pembunuh" yang "berusaha membunuh aparat penegak hukum federal".

Namun, Leavitt mengatakan dirinya tidak pernah mendengar Presiden Trump menggambarkan Pretti dengan cara tersebut.

"Saya tidak mendengar presiden mengkarakterisasi Tuan Pretti seperti itu," kata Leavitt.

Ia menambahkan bahwa sikap Trump adalah membiarkan proses hukum berjalan.

"Namun, saya mendengar presiden mengatakan bahwa ia ingin membiarkan fakta-fakta dan penyelidikan berjalan sebagaimana mestinya," ujar Leavitt.

Pernyataan Leavitt muncul di tengah beredarnya berbagai rekaman video dari saksi mata yang merekam detik-detik konfrontasi antara Pretti dan aparat penegak hukum federal pada Sabtu.

Dalam video tersebut terlihat seorang petugas menembak Pretti dari belakang setelah terjadi adu mulut, ketika Pretti yang sedang merekam kejadian berusaha membantu seorang perempuan yang disemprot merica oleh petugas. Pretti juga ikut disemprot merica dalam insiden itu.

Rekaman video juga tampak menunjukkan seorang petugas mengambil senjata Pretti dan berjalan menjauh, sebelum akhirnya Pretti ditembak.

Saat ditanya apakah Stephen Miller akan meminta maaf kepada keluarga Pretti, Leavitt tidak memberikan jawaban pasti.

"Sekali lagi, insiden ini masih dalam penyelidikan, dan tidak ada seorang pun di Gedung Putih, termasuk presiden Amerika Serikat, yang ingin melihat warga Amerika terluka atau tewas di jalan-jalan Amerika," jawabnya.

Cara Leavitt menyikapi kasus ini menandai perubahan pendekatan Gedung Putih, terutama jika dibandingkan dengan respons pemerintahan terhadap kasus penembakan Renee Good awal bulan ini. Dalam kasus Good, yang tidak bersenjata, pemerintahan Trump dengan cepat membela petugas Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) yang menembak mati korban.

Meski demikian, Trump sempat menyampaikan dalam wawancara dengan The New York Times bahwa dirinya tidak ingin melihat siapa pun ditembak, setelah menyaksikan video penembakan Renee Good.

"Tidak seorang pun di Gedung Putih, termasuk Presiden Trump, ingin melihat orang terluka atau terbunuh di jalanan Amerika. Ini termasuk Renee Good, Alex Pretti, para pria dan wanita pemberani dari penegak hukum federal, dan banyak warga Amerika yang telah menjadi korban di tangan para penjahat alien [imigran] ilegal," kata Leavitt.

Rekaman video insiden Pretti juga memicu gelombang kritik, tidak hanya dari Partai Demokrat, tetapi juga dari kalangan Republik dan aktivis hak kepemilikan senjata yang biasanya mendukung Trump.

Anggota DPR dari Partai Republik, James Comer dari Kentucky mengatakan dalam wawancara dengan Fox News bahwa Trump seharusnya mempertimbangkan untuk menarik personel ICE dari Minnesota. Senator Bill Cassidy dari Louisiana bahkan menilai "kredibilitas ICE dan Departemen Keamanan Dalam Negeri dipertaruhkan".

Sementara itu, Senator John Curtis dari Utah menyebut pernyataan Noem sebagai "prematur", karena disampaikan "sebelum semua fakta diketahui dan justru melemahkan kepercayaan".

Ketua Komite Keamanan Dalam Negeri DPR, Andrew Garbarino dari New York, juga memanggil pimpinan sejumlah lembaga di bawah Departemen Keamanan Dalam Negeri untuk hadir di hadapan komitenya. Di Senat, langkah serupa diminta oleh Senator Rand Paul dari Kentucky.

Gubernur Texas Greg Abbott, sekutu dekat Trump, mengatakan dalam wawancara radio dengan pembawa acara konservatif Mark Davis bahwa Gedung Putih perlu "mengalibrasi ulang" ICE.

"Untuk memastikan mereka kembali ke tujuan awal, yaitu mengeluarkan orang-orang dari negara ini," kata Abbott.

Seiring makin banyaknya kritik dari kalangan Republik, sejumlah pejabat pemerintahan tampak mulai mengubah sikap.

Gregory Bovino, yang selama ini dikenal sebagai wajah utama kebijakan keras imigrasi pemerintahan Trump, sempat membela tindakan agen federal dalam wawancara dengan CNN pada Minggu. Saat ditanya apakah Bovino akan terus memimpin operasi di Minnesota, Leavitt menegaskan bahwa ia tetap memimpin Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP) secara nasional.

"Tuan Bovino adalah orang yang luar biasa dan profesional yang hebat. Ia akan tetap memimpin CBP di seluruh negeri. Tuan [Tom] Homan akan menjadi kontak utama di lapangan di Minneapolis," kata Leavitt.

Trump sendiri juga melunakkan retorikanya dalam beberapa hari terakhir. Dalam wawancara dengan The Wall Street Journal pada Minggu, ia tidak menyatakan apakah agen patroli perbatasan yang menembak Pretti bersalah atau tidak.

"Kami sedang melihat, kami sedang meninjau semuanya dan akan keluar dengan sebuah keputusan," kata Trump.

Trump juga menarik perhatian pada Senin setelah mengungkapkan bahwa dirinya melakukan panggilan telepon yang "sangat baik" dengan Gubernur Minnesota Tim Walz, yang selama ini dikenal sebagai salah satu rival politiknya. Sehari sebelumnya, Trump masih melontarkan kritik keras terhadap Walz melalui Truth Social.

Trump kemudian mengklaim telah berbicara dengan Wali Kota Minneapolis Jacob Frey, dan mengatakan bahwa Tom Homan akan bertemu Frey pada Selasa.

"Banyak kemajuan sedang dibuat! Tom Homan akan bertemu dengannya besok untuk melanjutkan diskusi," tulis Trump di Truth Social.

Meski demikian, sejumlah pihak mempertanyakan apakah pengiriman Homan ke Minneapolis terkait dengan kinerja Noem atau Bovino. Leavitt menegaskan bahwa Trump masih percaya kepada Noem.

Namun, Leavitt juga memanfaatkan konferensi pers tersebut untuk menyerang Walz dan Frey atas penanganan situasi di Minneapolis.

"Gubernur Walz dan Wali Kota Frey secara memalukan telah menghalangi polisi lokal dan negara bagian untuk bekerja sama dengan ICE, sehingga secara aktif menghambat upaya penangkapan penjahat berbahaya," kata Leavitt.

 

(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Penembakan Garda Nasional Guncang Jantung AS, Gedung Putih Lockdown


Most Popular
Features