800 Ribu ASN Bakal Pensiun, Menteri PANRB: Banyak yang Masih Produktif
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Rini Widyantini mengungkapkan, sekitar 800 ribu aparatur sipil negara (ASN) bakal pensiun dalam rentang lima tahun ke depan.
Menurut Rini, jumlah yang pensiun itu setara dengan 13% dari total ASN yang tercatat di Indonesia saat ini sebanyak 6,5 juta orang. Banyak ASN yang masuk masa purna bakti itu kata dia dalam kondisi masih produktif, berpengalaman, dan memiliki jejaring yang kuat.
"Jika potensi ini dapat dimanfaatkan dengan baik, maka purna bakti ASN tidak hanya berdampak pada kesejahteraan individu, tetapi juga dapat berkontribusi pada penguatan aktivitas ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan," kata Rini saat memberikan pidato kunci dalam Seminar Kebebasan Financial Melalui Entrepreneur dan Bisnis di Universitas Padjadjaran, Bandung, dikutip Senin (26/1/2026).
Banyaknya ASN yang akan pensiun dalam periode 5 tahun ke depan itu kata dia sejalan dengan dinamika demografi Indonesia yang bergerak menuju periode penuaan penduduk alias aging population.
Dalam konteks pengelolaan SDM, Rini menegaskan angka ASN yang akan pensiun ini mencerminkan tantangan yang tidak kecil, khususnya terkait keberlanjutan kapasitas SDM ASN dan kesejahteraan ASN pasca purna bakti.
Namun, dengan banyaknya ASN yang masih dalam kondisi produktif dan memiliki pengalaman maupun jejaring yang kuat meski memasuki masa pensiun, ia menganggap mereka dapat terus menjadi motor penggerak ekonomi.
Apalagi, Rini mengatakan, ASN ditempa melalui berbagai pengembangan kompetensi. Kinerjanya dikelola secara berkelanjutan, dan pengalaman puluhan tahun telah membentuk pengetahuan, kebijaksanaan, serta kemampuan manajerial yang matang.
""Karena itu, ketika memasuki masa purna tugas, pengalaman tersebut tidak berhenti begitu saja. Saya berharap justru bertransformasi menjadi aset sosial dan ekonomi yang dapat terus memberi nilai tambah bagi masyarakat," tutur Rini.
Kendati begitu, Rini mengakui, masa purna bakti tentu akan memiliki efek pada kondisi finansial. Di samping juga ada dampak terhadap kesehatan mental, relasi sosial, dan rasa kebermaknaan hidup. Berbagai studi menurutnya telah menunjukkan bahwa ketidaksiapan non-finansial dalam transisi pensiun berkontribusi pada menurunnya kesejahteraan dan partisipasi sosial di usia lanjut.
"Artinya, meskipun kebutuhan finansial relatif tercukupi, tanpa kesiapan mental dan sosial, fase ini tetap bisa terasa berat," jelasnya.
Individu yang mengalami kehilangan peran dan rutinitas kerja tanpa transisi yang baik cenderung mengalami penurunan well-being dan kepuasan hidup. Bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena mereka belum memiliki ruang peran pengganti yang jelas. Oleh sebab itu, perencanaan untuk tetap bisa produktif menurut Rini menjadi penting.
"Inilah sebabnya, purna bakti tidak cukup dipahami sebagai persoalan ekonomi semata, tetapi sebagai fase kehidupan yang perlu disiapkan secara lebih menyeluruh," ujarnya.
(arj/haa)[Gambas:Video CNBC]