Ini Alasan Pedagang Daging Sampai "Marah", Mogok Jualan Mulai Besok
Jakarta, CNBC Indonesia - Pedagang daging sapi se-Jabodetabek berencana tidak berjualan alias mogok jualan mulai besok, Kamis (22/1/2026).
Ketua Umum Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) DKI Jakarta Wahyu Purnama mengatakan, aksi mogok dilakukan setelah berbagai upaya dialog tak membuahkan hasil konkret di lapangan. Kata dia, kondisi pasar saat ini sudah tidak sehat bagi pedagang kecil hingga menengah.
Aksi pedagang tersebut, ujar Wahyu, merupakan hasil pertimbangan aspirasi anggota bandar sapi dan pedagang sapi hilir pasar tradisional se-Jabodetabek. Juga, imbuhnya masyarakat menengah ke bawah yang terdampak akibat tingginya harga daging sapi.
"Melalui surat ini kami memberitahukan bahwa seluruh anggota APDI bandar sapi potong dan pedagang daging akan melakukan aksi berhenti berjualan atau mogok dagang," kata Wahyu dalam surat terbuka yang diterima CNBC Indonesia, Rabu (21/1/2026).
"Kami menimbang aspirasi anggota bandar sapi potong dan pedagang daging hilirisasi pasar tradisional se-Jabodetabek serta masyarakat menengah ke bawah yang sangat terdampak oleh tingginya harga daging sapi," tambahnya.
Rencananya, aksi mogok berjualan pedagang sapi se-Jabodetabek itu akan digelar mulai besok hingga hari Sabtu nanti (24/1/2026).
Menurut Wahyu, rencana aksi ini telah disampaikan lewat surat tembusan kepada sejumlah lembaga, mulai dari Kementerian Perdagangan, Badan Pangan Nasional, Komisi IV DPR RI, hingga Mabes Polri dan Polda Metro Jaya.
"Situasi perdagangan daging saat ini benar-benar menekan pedagang. Kami mewakili bandar sapi potong dan pedagang daging hilir merasa perlu menyampaikan aspirasi dan keprihatinan atas kondisi yang terjadi," ucap Wahyu.
Sebelumnya, terang Wahyu, APDI telah mengikuti rapat dengan Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) dan instansi terkait pada 5 Januari 2026, yang membahas komitmen pemerintah menjaga stabilitas harga sapi timbang hidup selama dua pekan. Namun realisasi di lapangan jauh dari harapan.
"Hasil rapat itu menyebutkan akan ada jaminan kestabilan harga sapi timbang hidup selama dua pekan, tapi faktanya tidak terealisasi," tukas Wahyu.
Tekanan biaya semakin berat karena harga sapi dari feedloter melonjak tinggi, yang otomatis ikut mendorong naik harga karkas di rumah potong hewan. Di sisi lain, daya beli masyarakat justru melemah.
"Harga sapi dari feedloter terlalu tinggi, harga karkas di RPHÂ (rumah potong hewan) ikut naik, sementara daya beli masyarakat justru turun. Ini membuat posisi pedagang di tengah semakin terhimpit," kata Wahyu.
"Kami memandang perlu melakukan tindakan agar ada perhatian serius terhadap kondisi perdagangan daging saat ini," pungkasnya.
Sementara itu, Panel Harga Badan Pangan mencatat, harga rata-rata daging sapi murni hari ini, (Rabu, 21/1/2026) di tingkat konsumen tercatat Rp136.113 per kg. Harga ini sekitar 2,78% di bawah harga acuan penjualan yang ditetapkan pemerintah, yaitu Rp140.000 per kg. Harga tertinggi terjadi di Kalimantan Utara, dengan Rp164.000 per kg, sekitar 17,14% di atas acuan. Sedangkan di wilayah Jakarta, harga rata-rata di konsumen hari ini Rp134.737 per kg, sekitar 3,76% di bawah acuan.Â
[Gambas:Video CNBC]