BPS Wanti-Wanti Komoditas Ini Harganya Melonjak di Ramadan
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mewanti-wanti sejumlah komoditas pangan berpotensi kembali mendorong inflasi saat Ramadan. Berdasarkan catatan historis lima tahun terakhir, komoditas seperti daging ayam ras, telur ayam ras, beras, minyak goreng, hingga cabai rawit kerap muncul sebagai penyumbang andil inflasi terbesar pada momen Ramadan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan, komoditas tersebut perlu segera diantisipasi karena Ramadan sudah semakin dekat.
"Komoditas-komoditas ini mungkin dapat kita segera antisipasi, karena kita sudah mulai memasuki bulan Ramadan, di bulan depan ini," kata Pudji dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang disiarkan melalui kanal YouTube Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (19/1/2026).
Dalam paparannya, pola komoditas penyumbang inflasi memang berubah-ubah tiap tahun. Namun, sejumlah bahan pangan terlihat berulang kali muncul sebagai pemicu kenaikan harga pada awal Ramadan.
Pudji menjelaskan, pada 2021 komoditas penyumbang inflasi antara lain daging ayam ras dan minyak goreng. Pada 2022, minyak goreng, daging ayam ras, dan telur ayam ras kembali mendominasi. Sementara pada 2023, daftar penyumbang inflasi bergeser ke beras, cabai rawit, bawang putih, serta kembali muncul daging ayam ras dan telur ayam ras.
Tren itu berlanjut pada 2024, ketika telur ayam ras menjadi komoditas teratas, diikuti daging ayam ras, beras, cabai rawit, dan bawang putih. Adapun pada 2025, bawang merah tercatat sebagai penyumbang andil inflasi tertinggi pada momen Ramadan, lalu diikuti ikan segar, cabai rawit, daging ayam ras, dan beras.
"Sehingga secara umum komoditas yang memberikan andil inflasi pada momen awal Ramadan itu adalah daging ayam ras, telur ayam ras, beras, minyak goreng, dan cabai rawit," jelasnya.
Ia juga menekankan, dari sisi kelompok pengeluaran, makanan, minuman, dan tembakau hampir selalu menjadi penyumbang terbesar inflasi pada bulan yang bertepatan dengan awal Ramadan.
"Kalau kita lihat secara historis sejak 2021 hingga 2025 kemarin, di sini terlihat bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau, ini memberikan andil terbesar terhadap inflasi di bulan di mana terjadinya momen awal Ramadhan," ujarnya.
Selain itu, BPS turut mengingatkan posisi awal Ramadan dalam kalender juga memengaruhi besaran inflasi bulanan. Jika Ramadan dimulai sejak awal bulan, tekanan harga cenderung "terkumpul" dalam satu bulan penuh.
"Kalau dimulai sejak awal bulan, biasanya dia inflasinya itu akan mengumpul dalam satu bulan penuh. Sementara kalau dia mulai di pertengahan bulan atau menjelang akhir bulan, biasanya inflasinya itu akan terbagi di beberapa bulan," kata Pudji.
Catatan BPS menunjukkan, pada Ramadan 2025 inflasi bulanan tercatat paling tinggi dalam lima tahun terakhir. Saat itu Ramadan dimulai 1 Maret 2025 sehingga inflasi terkonsentrasi dalam satu bulan.
"Kalau kita lihat di bulan Ramadan 2025, inflasinya di bulan Maret ini cukup tinggi, yaitu 1,65 persen," ungkapnya.
BPS juga menyoroti, lonjakan inflasi Maret 2025 tidak hanya berasal dari pangan. Kelompok perumahan, air, listrik, bahan bakar, dan rumah tangga ikut memberi kontribusi besar, terutama karena tarif listrik kembali normal setelah diskon pada Januari-Februari 2025.
Untuk Ramadan 2026, diperkirakan awal puasa jatuh di pertengahan bulan. Dengan pola historis, inflasi bisa mulai terasa pada bulan awal Ramadan, tetapi puncaknya berpotensi bergeser ke bulan berikutnya karena jumlah hari puasa lebih banyak jatuh setelahnya.
"Bagaimana Ramadan tahun 2026 ini, dimana bulan Ramadan ini dimulai di pertengahan bulan, jadi tidak sejak awal bulan. Ini nanti kalau secara historis kita lihat, misalkan di tahun 2023 lalu, bulan Ramadan itu dimulai sejak tanggal 23 Maret, sehingga di sini terlihat sejak Maret itu sudah terjadi inflasi, tetapi puncak inflasinya justru di bulan berikutnya. Karena hari Ramadannya lebih banyak di bulan berikutnya," terang dia.
Di tengah risiko kenaikan harga komoditas penyumbang inflasi, BPS juga mencatat ada beberapa komoditas yang pada momen awal Ramadan justru bisa memberi andil deflasi.
"Nah kemudian selain komoditas yang memberikan andil inflasi, ada juga komoditas yang memberikan andil deflasi pada momen awal Ramadan, yaitu seperti cabai rawit, kemudian ada bawang merah, kemudian ada cabai merah, dan tomat," katanya.
[Gambas:Video CNBC]