Bahlil Ungkap Update Rencana Indonesia Bebas Impor LPG
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pemerintah tengah mematangkan proyek hilirisasi berbasis Dimethyl Ether (DME) sebagai substitusi impor liquefied petroleum gas (LPG).
Menurut Bahlil, proyek DME cukup penting mengingat Indonesia masih sangat bergantung pada impor LPG. Setidaknya, konsumsi LPG RI mencapai 10 juta ton per tahun sementara kapasitas produksi domestik hanya sekitar 1,6 juta ton.
"Dari 10 juta ton, kapasitas produksi dalam negeri kita hanya 1,6 juta. Artinya kita itu impor 8,4 juta untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri berapa ratus triliun itu devisa kita keluar," kata Bahlil usai Konferensi Pers, di Kementerian ESDM, Kamis (8/1/2026).
Di sisi lain, ia mengakui untuk membangun pabrik LPG dalam negeri tak mudah. Pasalnya, LPG membutuhkan bahan baku gas yang mempunyai kandungan campuran Propane (C3) dan Butane (C4), sementara cadangan gas nasional didominasi oleh C1 dan C2.
"Sementara gas kita itu lebih banyak di C1, C2 Mau tidak mau harus ada substitusi impor. Nah caranya adalah memanfaatkan batu bara low kalori untuk DME Itu bisa dipakai untuk mengganti LPG," ujarnya.
Oleh sebab itu, pihaknya terus mendorong agar proyek hilirisasi batu bara menjadi DME dapat segera terealisasi.
Sebagaimana diketahui, pemerintah menyampaikan terdapat enam proyek hilirisasi yang direncanakan mulai memasuki tahap awal pembangunan atau groundbreaking pada Januari 2026. Salah satu proyek strategis tersebut adalah gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) yang ditujukan sebagai pengganti impor Liquefied Petroleum Gas (LPG).
Namun, saat disinggung perihal proyek DME tersebut, Bahlil mengatakan pihaknya masih memerlukan waktu untuk mematangkan detail proyek tersebut.
"Kasihkan saya waktu untuk satu bulan lagi untuk mendetailkan, saya dengan Pak Rosan nanti akan menyelesaikan dalam kurun waktu satu bulan," ujar Bahlil usai retret menteri Kabinet Merah Putih di Padepokan Garuda Yaksa, Desa Bojongkoneng, Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/1/2026) malam.
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan ada enam proyek hilirisasi yang akan diresmikan awal pembangunannya pada Januari 2026 ini.
"Rencananya akan ada di bulan Januari, ada enam groundbreaking dari program hilirisasi," kata Prasetyo, di sela-sela Retret Kabinet Merah Putih di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa barat, Selasa (6/12/2026).
Kemudian, groundbreaking akan dilanjutkan pada Februari dan Maret 2026 untuk keseluruhan 18 target pembangunan proyek hilirisasi.
Meski tak menjabarkan enam proyek itu, namun Prasetyo menjelaskan proyek yang akan mulai pembangunannya yaitu proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTsa) atau biasa disebut untuk program Waste to Energy.
Rencananya, proyek itu akan dibangun di 34 titik pada kabupaten/kota yang memproduksi 1.000 ton sampah per hari. Menurut Prasetyo, adanya proyek ini akan menjadi solusi penanganan masalah sampah di daerah.
"(sampah) Sesegera mungkin untuk diolah, sehingga sampah-sampah tersebut tidak menggunung dan menimbulkan banyak masalah," kata Prasetyo.
Selain itu, Prasetyo juga mengumumkan proyek lainnya yang akan diresmikan pembangunannya adalah gasifikasi batu bara atau DME. Diketahui, proyek ini berulang kali batal dibangun karena faktor keekonomian.
Investor asal Amerika Serikat, yakni Air Products, memutuskan hengkang dari proyek DME di Sumatra Selatan dan Kalimantan Timur pada Maret 2023 lalu. Padahal, proyek DME di dekat area tambang PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) sudah melalui peresmian groundbreaking oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) pada Januari 2022 lalu.
Meski setelahnya sempat ada rencana investor China masuk pada proyek ini, namun hingga kini tak kunjung terealisasi. "Kemudian ada juga beberapa proyek penanganan dengan energi, pembangunan beberapa titik DME," kata Prasetyo.
Prasetyo mengungkapkan, proyek lainnya ada di bidang pertanian dan perikanan, seperti kampung nelayan, dan proyek pembuatan kapal tangkap ikan.
"Itu adalah salah satu program bidang padat karya, tetapi juga memiliki nilai investasi yang cukup besar karena kita adalah negara yang dikaruniai oleh tuhan yang maha esa. Kita dapat memproduksi komoditas-komoditas yang memiliki nilai jual tinggi seperti kopi, coklat, dan sebagainya," katanya.
(dem/dem)