MARKET DATA
INTERNASIONAL

Update Serangan AS ke Venezuela, 100 Tewas-Kabar Baru 37 WNI

tfa,  CNBC Indonesia
08 January 2026 13:00
Mantan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, akan menghadapi dakwaan terkait tuduhan narkoba. Maduro digiring menuju ke pengadilan New York, Amerika Serikat (AS), Senin (5/1/2026). (REUTERS/Adam Gray)
Foto: Mantan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, akan menghadapi dakwaan terkait tuduhan narkoba. Maduro digiring menuju ke pengadilan New York, Amerika Serikat (AS), Senin (5/1/2026). (REUTERS/Adam Gray)

Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan Amerika Serikat (AS) yang menyebabkan penangkapan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro di Caracas menewaskan 100 orang dan melukai puluhan lainnya. Data diungkap Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello, Rabu waktu setempat.

"Sejauh ini, ada 100 orang tewas dan jumlah yang sama terluka. Serangan terhadap negara kita sangat mengerikan," kata Cabello di televisi pemerintah, dikutip AFP, Kamis (8/11/2026).

Ia pun menambahkan bahwa Maduro dan istrinya Cilia Flores sebenarnya terluka dalam penangkapan tersebut tetapi "sedang dalam pemulihan". Meski demikian keduanya terlihat berjalan sendiri selama sidang pengadilan di New York minggu ini.

Meski begitu belum ada komentar AS terkait ini. Sejak operasi dilakukan 3 Januari lalu, Presiden Donald Trump mengatakan bahwa negaranya bertanggung jawab penuh pada Venezuela dan perusahaan Paman Sam bakal berinvestasi ke minyak negeri itu.

Sementara itu, pemimpin sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, mengatakan bahwa serangan pasukan AS untuk menggulingkan pendahulunya telah menodai hubungan kedua negara. Tetapi ia membela rencana untuk menjual minyak ke Washington.

"Ada noda pada hubungan kita yang belum pernah terjadi dalam sejarah kita," kata Rodriguez, Rabu.

"Namun, bukan hal yang tidak biasa atau tidak wajar untuk berdagang dengan Amerika sekarang, menyusul pengumuman oleh perusahaan minyak negara PDVSA bahwa mereka sedang dalam negosiasi untuk menjual minyak mentah ke AS," tambahnya.

Sebelumnya, Trump mengatakan pada hari Selasa bahwa Venezuela akan menyerahkan puluhan juta barel minyak kepada AS. Ia berujar 30 sampai 50 juta barel minyak mentah Venezuela yang berkualitas tinggi dan dikenai sanksi akan dikirim ke pelabuhan AS.

Venezuela merupakan negara dengan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, sebanyak 330 miliar barel. Angkanya lebih besar dari milik Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, bahkan Rusia dan China.

Kabar Terbaru 37 WNI

Di sisi lain, pemerintah Indonesia memastikan seluruh warga negara Indonesia (WNI) di Venezuela berada dalam kondisi aman dan sehat pascaserangan AS ke negara tersebut. Meski situasi dilaporkan mulai berangsur stabil, status kewaspadaan masih diberlakukan dan pemantauan terus dilakukan.

Plt Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Heni Hamidah mengatakan, berdasarkan data Kedutaan Besar RI (KBRI) Caracas, terdapat 37 WNI di Venezuela. Sebanyak 33 orang merupakan staf dan keluarga besar KBRI, sementara empat lainnya adalah WNI yang menetap, menikah, dan bekerja di Venezuela.

"Terkait perkembangan situasi keamanan di Venezuela pascaserangan Amerika, pemerintah melalui Kemlu dan KBRI Caracas terus memantau secara seksama kondisi keamanan dan keberadaan WNI," ujar Heni dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Kamis.

Menurut Heni, seluruh WNI yang terdata saat ini berada dalam kondisi aman dan sehat. Namun demikian, pemerintah tetap menerapkan status siaga dan menyiapkan langkah antisipasi apabila terjadi eskalasi konflik.

"Kami memastikan seluruh WNI dalam kondisi aman. Meski situasi dilaporkan mulai stabil, WNI di Venezuela masih berada dalam status siaga," katanya.

Untuk mengantisipasi potensi memburuknya situasi, KBRI Caracas telah menyusun rencana kontinjensi dan mengaktifkan protokol perlindungan WNI. KBRI juga melakukan koordinasi intensif dengan otoritas setempat serta memantau perkembangan keamanan secara berkala.

Selain itu, KBRI Caracas telah mengaktifkan berbagai perangkat komunikasi cadangan guna mengantisipasi kemungkinan gangguan listrik atau blackout. Perangkat tersebut meliputi radio komunikasi, telepon satelit, hingga layanan Starlink untuk memastikan komunikasi dengan pusat tetap berjalan.

"KBRI juga telah berkomunikasi dengan seluruh WNI di Venezuela dan mengimbau mereka untuk terus meningkatkan kewaspadaan serta memantau perkembangan situasi," ujar Heni.

Heni juga menegaskan hingga saat ini belum ada rencana evakuasi terhadap 37 WNI tersebut. Keputusan itu diambil karena kondisi keamanan dinilai berangsur normal, meskipun status siaga belum diturunkan.

"Belum ada rencana evakuasi karena situasi menurut KBRI Caracas mulai stabil. Namun contingency plan sudah siap dan dapat dijalankan kapan saja jika status siaga dinaikkan ke level 1," tegas Heni.

Saat ini, status keamanan masih berada pada level siaga 3. Dalam rencana kontinjensi tersebut, telah disiapkan berbagai skenario evakuasi, termasuk melalui jalur darat maupun laut.

Meski demikian, Kemlu menegaskan komunikasi dengan seluruh WNI di Venezuela akan terus dilakukan secara intensif. Dalam kondisi darurat, WNI diminta segera menghubungi hotline KBRI Caracas maupun Direktorat Perlindungan WNI.

"Kami terus memantau situasi dan berkomunikasi dengan para WNI. Untuk saat ini mereka masih siaga, sambil melihat perkembangan ke depan," pungkas Heni.

(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Trump Luncurkan 3 Kapal Perang ke Negara Ini, Sebut Rezim Gak Guna


Most Popular
Features