MARKET DATA

Amit-Amit Kena Getah Huru-hara AS-Venezuela, RI Diminta Lakukan ini

Chandra Dwi Pranata,  CNBC Indonesia
06 January 2026 11:50
Mantan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, akan menghadapi dakwaan terkait tuduhan narkoba. Maduro digiring menuju ke pengadilan New York, Amerika Serikat (AS), Senin (5/1/2026). (REUTERS/Adam Gray)
Foto: Mantan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, akan menghadapi dakwaan terkait tuduhan narkoba. Maduro digiring menuju ke pengadilan New York, Amerika Serikat (AS), Senin (5/1/2026). (REUTERS/Adam Gray)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pengusaha logistik buka suara terkait dampak dari eskalasi antara Venezuela dengan Amerika Serikat (AS), setelah Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap oleh militer AS.

Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi mengatakan ketegangan global dapat meningkat setelah adanya serangan AS ke Venezuela, yang kemudian dapat memicu dampak tidak langsung, yaitu kenaikan biaya logistik.

"Konflik AS dengan Venezuela memang tidak berdampak langsung terhadap jalur perdagangan Indonesia-Amerika Selatan, tapi ada potensi dampak lanjutan yang perlu diwaspadai," kata Setijadi dalam keterangannya, Selasa (6/1/2026).

Ia menambahkan, gangguan geopolitik di negara produsen energi berisiko memicu volatilitas harga minyak global dan akhirnya berimbas pada biaya bahan bakar dan tentunya biaya logistik internasional.

"Kenaikan biaya bunker dan penyesuaian surcharge pelayaran berpotensi meningkatkan biaya freight pada rute lintas Pasifik maupun rute dengan transit di hub utama global," lanjut Setijadi.

Berdampak ke Indonesia

Kondisi ini, ujar Setijadi, dapat menekan daya saing harga produk ekspor Indonesia, terutama untuk komoditas manufaktur dan produk bernilai tambah menengah yang sensitif terhadap biaya logistik.

Setijadi menjelaskan, selain faktor biaya, eskalasi ketegangan global juga berpotensi memengaruhi reliabilitas jadwal pengiriman.

"Penyesuaian rute pelayaran, konsolidasi muatan, hingga perubahan port of call oleh perusahaan pelayaran dapat memperpanjang lead time dan meningkatkan ketidakpastian pasokan ke pasar Amerika Selatan, termasuk ke negara tujuan utama seperti Peru dan Brasil," terangnya.

Dari sisi permintaan, SCI mencermati kecenderungan buyer di kawasan tersebut untuk bersikap lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan impor.

"Importir cenderung memperketat klausul kontrak, meminta fleksibilitas jadwal pengiriman, serta menuntut jaminan kontinuitas pasokan di tengah meningkatnya ketidakpastian global," jelasnya.

Rekomendasi SCI

Menghadapi kondisi tersebut, SCI menekankan kepentingan penguatan supply chain resilience bagi eksportir Indonesia.

"Diversifikasi rute pengiriman dan mitra logistik menjadi langkah awal untuk mengurangi ketergantungan pada satu jalur atau satu penyedia jasa pelayaran," ujarnya.

SCI juga merekomendasikan agar eksportir secara proaktif meninjau dan menyesuaikan klausul kontrak ekspor, khususnya yang berkaitan dengan jadwal pengiriman, mekanisme penyesuaian biaya logistik, serta pengaturan force majeure. Langkah ini penting untuk menjaga keberlanjutan hubungan bisnis dengan buyer di tengah dinamika global yang cepat berubah.

Selain itu, eksportir Indonesia perlu meningkatkan perencanaan persediaan dan manajemen lead time, termasuk mempertimbangkan buffer stock atau safety time untuk kontrak berulang.

Strategi ini bertujuan menjaga service level dan kepercayaan pasar, meskipun terjadi gangguan pada sistem transportasi internasional.

Setijadi menegaskan, eskalasi geopolitik global tidak seharusnya menghambat agenda diversifikasi pasar ekspor Indonesia ke Amerika Selatan.

"Dengan strategi logistik yang adaptif, komunikasi yang transparan dengan mitra dagang, serta penguatan manajemen risiko rantai pasok, Indonesia justru berpeluang memperkuat posisi sebagai mitra dagang yang handal dan kompetitif di kawasan tersebut," pungkasnya.

(dce)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Ekonom Hitung Beban Besar Tarif Resiprokal 19% Trump ke Ekonomi RI


Most Popular
Features