MARKET DATA

Maduro Ditangkap AS, Pengusaha RI Wanti-Wanti Ada Kenaikan Biaya Ini

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
06 January 2026 16:35
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia (GPEI), Benny Soetrisno saat ditemui di kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Rabu (22/1/2025). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Foto: Ketua Umum Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia (GPEI), Benny Soetrisno saat ditemui di kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Rabu (22/1/2025). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kalangan pelaku usaha menilai dampak penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump belum terasa langsung ke arus perdagangan lintas kawasan Amerika. Meski demikian, perlu ada antisipasi lebih lanjut dari tindakan sewenang-wenang AS tersebut.

"Efek USA Serang Venezuela belum ada untuk Ekspor maupun impor dari Benua Amerika, baik dari dan ke USA maupun dari dan ke Amerika selatan," kata Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno kepada CNBC Indonesia, Selasa (6/1/2025).

Adapun pelaku usaha di Tanah Air masih memantau perkembangan situasi geopolitik tersebut tanpa mengambil langkah tergesa-gesa. Aktivitas dagang dinilai berjalan normal karena kontrak dan kebutuhan pasar tetap menjadi pertimbangan utama eksportir dan importir. Meski begitu, pengusaha tetap bersiap mengantisipasi perubahan jalur dan biaya logistik jika ketegangan berlanjut.

"Namun saya menghitung akan adanya perubahan angkutan kapal laut untuk tujuan ke Amerika selatan yang Atlantic Rim (negara di lingkaran Samudera Atlantik), bukan yang Pacific Rim (negara di lingkaran Samudera Pasifik)," kata Benny.

Adapun rentetan efek yang kemungkinan bakal terjadi ialah kenaikan biaya logistik. Pasalnya, kapal pengangkut barang yang mengantarkan logistik harus menempuh jarak lebih jauh demi alasan keamanan.

"Masuk Pacific Rim bersebelahan dengan Columbia, kepastian kenaikan biaya belum nampak, namun biasanya factor keamanan karena adanya perang akan menjadi bagian factor kenaikan Biaya," ujar Benny.

Senada, Supply Chain Indonesia (SCI) menilai bahwa meskipun konflik tersebut tidak berdampak langsung terhadap jalur perdagangan Indonesia-Amerika Selatan, potensi dampak lanjutan (secondary impact) tetap perlu diwaspadai. Gangguan geopolitik di negara produsen energi berisiko memicu volatilitas harga minyak global yang pada akhirnya berdampak pada biaya bahan bakar dan ongkos logistik internasional.

Kenaikan biaya bunker dan penyesuaian surcharge pelayaran berpotensi meningkatkan biaya freight pada rute lintas Pasifik maupun rute dengan transit di hub utama global. Kondisi ini dapat menekan daya saing harga produk ekspor Indonesia, terutama untuk komoditas manufaktur dan produk bernilai tambah menengah yang sensitif terhadap biaya logistik.

"Selain faktor biaya, eskalasi ketegangan global juga berpotensi memengaruhi reliabilitas jadwal pengiriman. Penyesuaian rute pelayaran, konsolidasi muatan, hingga perubahan port of call oleh perusahaan pelayaran dapat memperpanjang lead time dan meningkatkan ketidakpastian pasokan ke pasar Amerika Selatan, termasuk ke negara tujuan utama seperti Peru dan Brasil," kata Founder dan CEO SCI Setijadi.

(hoi/hoi)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Video: Maduro Bela Kolombia Pasca Trump Ancam Naikkan Tarif


Most Popular
Features