MARKET DATA
Internasional

Putin & Xi Jinping Respons Trump Serang Venezuela & Tangkap Maduro

sef,  CNBC Indonesia
05 January 2026 10:54
Presiden Rusia Vladimir Putin dan mitranya dari Tiongkok Xi Jinping menghadiri parade militer pada Hari Kemenangan, menandai peringatan 80 tahun kemenangan atas Nazi Jerman dalam Perang Dunia Kedua, di Lapangan Merah di pusat kota Moskow, Rusia, 9 Mei 2025. (Sergei Bobylyov/Host agency RIA Novosti/Handout via REUTERS)
Foto: Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping (via REUTERS/Sergei Bobylyov)

Jakarta CNBC Indonesia - Rusia dan China memberi respons keras atas aksi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyerang Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro. Dalam pernyataan persnya pemerintah Presiden Vladimir Putin dan pemerintah Presiden China Xi Jinping menolak aksi "semena-mena" AS tersebut.

Rusia telah mengeluarkan reaksi tajam dan segera setelah Amerika mengkonfirmasi serangan terhadap Venezuela. Moskow menuduh Washington melakukan tindakan agresi bersenjata dan memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut dapat memiliki konsekuensi regional dan global yang serius.

Kementerian Luar Negeri Rusia menolak pembenaran AS atas serangan tersebut, dengan mengatakan bahwa diplomasi telah ditinggalkan demi "kekuatan". Moskow mengatakan ini bukan serangan terisolasi, tetapi preseden berbahaya yang mengancam stabilitas internasional.

"Sangat mengkhawatirkan dan pantas dikutuk," kata Kemenlu Rusia, dikutip Senin (5/1/2026) dari sejumlah media asing termasuk The Moskow Times dan NHK.

"Sangat penting untuk mencegah eskalasi lebih lanjut, dan fokus pada pencarian solusi melalui dialog."

Rusia pun menyatakan solidaritas dengan rakyat Venezuela, dengan mengatakan bahwa negeri itu harus dijamin haknya untuk menentukan masa depannya sendiri tanpa campur tangan eksternal yang merusak, khususnya yang bersifat militer. Rusia sendiri berhubungan dekat dengan Venezuela di mana pada Desember, Putin melakukan pembicaraan telepon dengan Maduro, dan menegaskan kembali dukungannya terhadap kebijakan pemerintahannya.

Sementara China mendesak AS untuk menghentikan apa yang disebutnya "penggulinga' pemerintah Venezuela". Senada dengan pemerintah Putin, pemerintah Xi Jinping juga meminta Maduro dibebaskan segera.

"China menyerukan AS untuk memastikan keselamatan pribadi Presiden Nicolas Maduro dan istrinya (Cilia Flores) segera membebaskan mereka, dan menghentikan upaya penggulingan pemerintah Venezuela," kata Kementerian Luar Negeri China dalam sebuah pernyataan, dimuat AFP.

"Serangan itu sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum internasional," tambahnya.

Sebelumnya, Maduro ditangkap oleh unit kontra-terorisme utama militer, Angkatan Darat AS Delta Force, Sabtu dini hari. Ini terjadi setelah sumber CIA di pemerintahan Venezuela membantu AS melacak lokasinya.

Lebih dari 150 pesawat digunakan untuk membawa tim evakuasi ke ibu kota. Dalam pernyataannya, Trump menambahkan bahwa tidak ada pasukan AS yang tewas dan hanya ada "sedikit" korban luka.

Maduro dan istrinya dibawa ke atas kapal USS Iwo Jima dan kemudian ke pesawat, yang kemudian mendarat di Pangkalan Garda Nasional Udara Stewart di negara bagian New York. Pasangan itu kemudian diangkut ke Pusat Penahanan Metropolitan, fasilitas federal di Brooklyn.

Para pejabat AS mengindikasikan bahwa serangan udara di sekitar Caracas digunakan sebagai kedok untuk operasi evakuasi. Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino mengatakan di televisi pemerintah bahwa "sebagian besar" tim keamanan Maduro bersama dengan tentara dan "warga sipil yang tidak bersalah" tewas, tanpa memberikan angka atau rincian lebih lanjut.

Pemerintah Venezuela sebelumnya menuduh AS menyerang beberapa daerah sipil dan mengatakan sedang mengumpulkan angka korban dan kematian, tetapi belum merilis angka resmi apa pun. Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, yang merupakan bagian dari lingkaran dalam Maduro, kini menjadi presiden sementara setelah dilantik oleh Mahkamah Agung negara tersebut.

(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Putin-Xi Jinping Bersatu untuk Nuklir Iran, Warning Eropa


Most Popular
Features