Internasional

Paus Fransiskus: Menjadi Homoseksual Bukan Kejahatan

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
26 January 2023 09:20
Paus Fransiskus berbicara selama wawancara eksklusif dengan Reuters, di Vatikan, Sabtu (2/7/2022). (REUTERS/Remo Casilli) Foto: Paus Fransiskus berbicara selama wawancara eksklusif dengan Reuters, di Vatikan, Sabtu (2/7/2022). (REUTERS/Remo Casilli)

Jakarta, CNBC Indonesia - Paus Fransiskus mengeluarkan pernyataan terkait LGBTQ+ (gay, lesbian, biseksual, transgender, queer, interseks, dan aseksual secara kolektif). Ia mengkritik undang-undang yang mengkriminalisasi homoseksualitas dan menyebutnya tidak adil.

Kepala Gereja Katolik Roma itu mengatakan bahwa Tuhan mencintai semua anak-Nya sebagaimana adanya. Tak hanya itu, ia juga menyerukan kepada para uskup Katolik yang mendukung undang-undang tersebut untuk menyambut orang-orang LGBTQ+ ke dalam gereja.

"Menjadi homoseksual bukanlah kejahatan," kata Francis dalam sebuah wawancara dengan Associated Press pada Selasa (24/1/2023).

Paus mengakui bahwa para uskup Katolik di beberapa bagian dunia mendukung undang-undang yang mengkriminalisasi homoseksualitas atau mendiskriminasi orang-orang LGBTQ+.

Menurutnya, mereka menyebut masalah ini sebagai "dosa", namun dia mengaitkan sikap seperti itu dengan latar belakang budaya dan mengatakan para uskup khususnya perlu menjalani proses perubahan untuk mengakui martabat setiap orang.

"Para uskup ini harus memiliki proses pertobatan," katanya, menambahkan mereka harus menerapkan "tolong, kelembutan, seperti yang Tuhan miliki, untuk kita masing-masing".

Paus juga mengatakan perlu ada perbedaan antara kejahatan dan dosa sehubungan dengan homoseksualitas. Ajaran Gereja berpendapat bahwa tindakan homoseksual adalah dosa, tetapi kaum gay harus diperlakukan dengan bermartabat dan hormat.

"Kita semua adalah anak-anak Tuhan, dan Tuhan mencintai kita apa adanya dan untuk kekuatan kita masing-masing berjuang untuk martabat kita," tuturnya.

Pendukung LGBTQ+ memuji penolakan Paus Fransiskus terhadap orientasi seksual sebagai kejahatan dan seruan kepada para uskup untuk menolak undang-undang anti-gay sebagai tonggak sejarah.

Komentarnya sendiri merupakan yang pertama diucapkan oleh seorang Paus tentang undang-undang semacam itu.

Pernyataan Fransiskus muncul menjelang perjalanan ke Afrika, di mana undang-undang seperti itu umum ada, seperti di Timur Tengah. Banyak yang berasal dari masa kolonial Inggris atau terinspirasi oleh hukum Islam.

Beberapa uskup Katolik dengan tegas menjunjung tinggi mereka sebagai konsisten dengan ajaran Vatikan, sementara yang lain menyerukan agar mereka dibatalkan karena melanggar martabat dasar manusia.

Sekitar 67 negara atau yurisdiksi di seluruh dunia mengkriminalkan aktivitas seksual sesama jenis konsensual, 11 di antaranya bahkan menjatuhkan hukuman mati, menurut data The Human Dignity Trust. Para ahli mengatakan meskipun hukum tidak ditegakkan, mereka berkontribusi terhadap pelecehan, stigmatisasi, dan kekerasan terhadap orang-orang LGBTQ+.

Bahkan di Amerika Serikat (AS), lebih dari selusin negara bagian masih memiliki undang-undang anti-sodomi, meskipun putusan Mahkamah Agung tahun 2003 menyatakan undang-undang tersebut tidak konstitusional.

PBB telah berulang kali menyerukan diakhirinya undang-undang yang mengkriminalisasi homoseksualitas secara langsung, dengan mengatakan undang-undang itu melanggar hak privasi dan kebebasan dari diskriminasi.

Ini juga merupakan pelanggaran kewajiban negara di bawah hukum internasional untuk melindungi hak asasi manusia semua orang, terlepas dari orientasi seksual mereka atau identitas jenis kelamin.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Situs Vatikan Diretas Usai 'Diamuk' Rusia Gegara Ucapan Paus


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading