Sinyal Impor Beras Menguat, Begini Kata Anak Buah Zulhas

News - Arrijal Rachman, CNBC Indonesia
24 November 2022 10:40
Pedagang menakar beras literan di pasar Kebayoran Lama, Jakarta, 1/11. Ekonomi Indonesia mengalami deflasi pada Oktober 2022 sekaligus angka inflasi menurun secara tahunan. (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki) Foto: (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah belum berencana membuka keran impor beras, meski cadangan beras pemerintah yang dikuasai Perum Bulog saat ini sudah menipis. Apalagi, Bulog masih harus menyalurkan 150-200 ribu ton per bulan untuk kebutuhan pasokan dan stabilisasi harga (KPSH) dalam negeri.

Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan (Kemendag) Kasan Muhri menjelaskan, kebijakan impor beras ini belum ada karena memang belum ada keputusan apapun dalam rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

"Saat ini belum ada keputusan rakor untuk impor beras," kata Kasan saat dihubungi, Kamis (24/11/2022).

Satu-satunya jalan untuk membuka kebijakan impor beras ini memang berdasarkan keputusan rakor di Kemenko Perekonomian. Bulog baru bisa melaksanakan impor melalui keputusan tersebut, termasuk besaran volumenya.

"Kebijakan impor beras diatur berdasarkan keputusan Rakor di Kemenko Perekonomian," ujar Kasan.

Dia menekankan, hingga kini kebijakan pengadaan beras yang harus dilaksanakan Bulog untuk menjaga cadangannya di level 1,2 juta ton adalah melalui serapan dari petani di dalam negeri.

"Hingga saat ini yang saya pahami pemerintah tetap menugaskan Bulog agar bisa menyerap dari petani untuk memenuhi cadangan beras tersebut," ujar Kasan.

Kendati begitu, Kasan mengakui kondisi pasokan beras di lapangan saat ini memang terbatas karena masuknya musim hujan di Tanah Air dan masa panen yang jumlah produksinya menjadi sedikit. Dengan begitu harga gabah dan beras juga sedikit naik.

Tapi, ia juga mengingatkan, pemerintah telah menetapkan harga harga patokan pembelian kepada Bulog untuk memenuhi penugasan menjaga stok cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 1,2 juta ton hingga akhir tahun.

"Untuk pengadaan dari dalam negeri Bulog ada penugasan dengan adanya harga patokan pembelian yang ditetapkan," ujar Kasan.

Saat rakortas pada September 2022 lalu di Kemenko Perekonomian telah terungkap, kebijakan fleksibilitas harga pembelian gabah dan beras petani oleh Perum BULOG maksimal sebesar 10% sesuai wilayah sentra produksi.

Namun, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi sebenarnya sudah mengatakan, kebijakan fleksibilitas harga tersebut telah dihentikan. Karena justru semakin mendongkrak harga beras di pasar. Dan jadi salah satu pemicu sulitnya Bulog menyerap beras karena memperketat persaingan di pasar. 

Sementara itu, Komisi IV DPR memerintahkan Bulog segera menambah cadangan beras. Hal itu diputuskan sebagai kesimpulan rapat dengar pendapat bersama (RDP) Eselon I Kementerian Pertanian (Kementan), Kepala Bapanas, Direktur Utama Perum Bulog, dan Direktur Utama Holding Pangan ID Food, Rabu (23/11/2022).

"Komisi IV DPR RI meminta pemerintah c.q. Kementerian Pertanian (Kementan) untuk memenuhi kebutuhan beras nasional. Selanjutnya Kementerian Pertanian menyatakan sanggup untuk memenuhi kebutuhan cadangan beras dalam negeri dari produksi dalam negeri sebesar 600 ribu ton yang akan dibeli Perum Bulog dengan harga komersial dalam waktu 6 hari sejak Rapat Dengar Pendapat hari ini," kata Ketua Komisi IV DPR Sudin membacakan kesimpulan RDP butir 2.

"Jika dalam 6 hari sejak Rapat Dengar Pendapat hari ini tidak terpenuhi, maka data yang diyakini dari Kementerian Pertanian tidak valid," tambahnya.

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) sebelumnya secara terbuka mengungkapkan alasannya mencetuskan rencana mengimpor beras. Salah satunya karena sulitnya mendapatkan pasokan dari petani untuk memenuhi penugasan menjaga stok CBP.

"Kami juga sudah melakukan pendekatan dengan pengusaha besar beras. Tapi mereka juga nggak bersedia karena untuk menjaga suplai mereka ke pasar mereka," katanya.

Hingga kini, CBP di Bulog menurutnya sudah tersisa sekitar 600 ribu ton. Dengan adanya keharusan menyalurkan beras untuk KPSH hingga 2 bulan terakhir, diperkirakan stok beras di Bulog hanya akan tersisa 300 ribu ton lagi hingga akhir tahun ini.

"Sementara, kami masih harus terus menyalurkan untuk KPSH. Dengan stok nggak sampai 600 ribu ton saat ini, sisa 2 bulan lagi, berarti harus salurkan lagi 300 ribu ton, sehingga stok hanya sisa 300 ribu ton," paparnya.

"Sementara, ada perwakilan Perpadi menyebutkan, stok hanya sisa 2 minggu. Ini akan membuat panic buying," kata Buwas.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Pontang-panting, Bos Bulog Curhat Sulit Beli Beras Petani


(dce)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading