Musim PHK Tiba, Pengusaha Blak-Blakan Lebih Parah dari Covid!

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
03 November 2022 16:50
Suasana sepi pabrik garmen PT. Fotexco Busana International, Gn. Putri, Bogor, Jawa Barat, Rabu (2/11/2022). (Tangkapan layar CNBC Indonesia TV) Foto: Suasana sepi pabrik garmen PT. Fotexco Busana International, Gn. Putri, Bogor, Jawa Barat, Rabu (2/11/2022). (Tangkapan layar CNBC Indonesia TV)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di industri padat karya khususnya tekstil berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jabar telah mencapai 73.644 pekerja hingga Oktober 2022. Situasinya dikhawatirkan bisa lebih parah jika pemerintah tidak mengambil langkah penyelamatan secara nyata.

"Situasi ini bagi kami lebih parah daripada Covid-19. Kalau waktu Covid-19, kita tahu masalahnya hanya tidak bisa kirim tapi market-nya ada. Sedangkan kali ini market tidak bisa diprediksi," kata Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Produk Tekstil Provinsi Jawa Barat (PPPTJB) Yan Mei dikutip Kamis (3/11/2022).

Sampai akhir tahun dan awal tahun 2023, pengaruh ekonomi global yang kemungkinan semakin dalam resesi, akan terus menjadi penentu membaik atau memburuknya industri tekstil dan alas kaki Indonesia. Pengusaha berharap pemerintah untuk segera bertindak.

"Bila tidak ada intervensi dari pemerintah dalam mengamankan pasar dalam negeri melalui pengetatan izin impor, asosiasi melihat, untuk mempertahankan operasi akan terjadi setidaknya 500.000 tenaga kerja akan kehilangan pekerjaan," katanya Ferry Hadiyanto, Akademisi Universitas Padjajaran

Di sisi lain, Indeks Kepercayaan Konsumen di AS turun sudah mendekati 50. Kondisi Ekonomi Indonesia sendiri ke depan menjadi penentu.

Dengan Market yang semakin kecil maka persaingan dengan negara pengekspor seperti Vietnam, Banglades dan India akan semakin ketat, butuh isentif dan dukungan pemerintah RI.

"Inflasi di berbagai negara itu sudah mencapai 2 digit dan ada pelemahan mata uang, ini yang membuat daya beli mereka juga menurun dan kebutuhan tekstil ini bukan kebutuhan primer," kata Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa.

Faktor Perang Rusia-Ukraina dan aspek turunannya yaitu supply chain serta musim winter juga bisa menjadi factor penentu dalam jangka pendek, konsumen negara AS dn Eropa lebih mementingkan belanja untuk pangan dan energi.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Badai PHK Mengancam, Apa Kabar Industri Tekstil?


(hoi/hoi)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading