Intip Ramalan 5 Ekonom Soal Nasib Neraca Dagang RI

News - Tim Redaksi, CNBC Indonesia, CNBC Indonesia
18 October 2022 10:05
Pekerja melakukan bongkar muat batubara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (6/1/2022). Pemerintah memutuskan untuk menyetop ekspor batu bara pada 1–31 Januari 2022 guna menjamin terpenuhinya pasokan komoditas tersebut untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN dan independent power producer (IPP) dalam negeri. Kurangnya pasokan batubara dalam negeri ini akan berdampak kepada lebih dari 10 juta pelanggan PLN, mulai dari masyarakat umum hingga industri, di wilayah Jawa, Madura, Bali (Jamali) dan non-Jamali. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Pekerja melakukan bongkar muat batubara di Terminal Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (6/1/2022). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNCB Indonesia - Neraca perdagangan Indonesia kembali membukukan surplus. Ini adalah rekor surplus terpanjang dalam sejarah, yakni ke-29 bulan secara beruntun, sejak Mei 2020.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada September 2022, mengalami surplus US$ 4,99 miliar.

Namun, surplus ini lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada bulan sebelumnya sebesar US$ 5,71 miliar.

Sejalan dengan turunnya surplus, BPS pun mulai mengamati adanya tren penurunan ekspor komoditas andalan Indonesia.

mengemukakan harga beberapa komoditas di tingkat global lebih rendah dibandingkan beberapa bulan terakhir.

"Harga minyak kelapa sawit turun cukup dalam pada periode Juni sampai dengan September 2022," tulis BPS dalam rilisnya.

Pada September, crude palm oil (CPO) turun 23,03% (year-on-year/yoy) menjadi US$ 909 per metrik ton. Minyak sawit juga turun 11,37% secara bulanan (month-to-month/mtm).

Sementara itu, bijih besi turun 19,85% secara tahunan dan 8,31% secara bulanan. Bijih besi berada pada level harga US$ 99,8 per dmtu pada September 2022.

Gas alam mulai melandai setelah turun 11,64% menjadi US$ 7,8 per mmbtu secara bulanan. Namun, secara tahunan, harga gas tetap naik hingga 55,88%.

Adapun, tersisa batu bara yang masih kuat. Harga batu bara meningkat 120,11% (yoy) dan 1,01% (mtm) menjadi US$ 321,5 metrik ton pada September 2022.

Sementara itu, tantangan besar berikutnya yang disoroti BPS adalah depresiasi rupiah. Rupiah terdepresiasi ke level sekitar
Rp15.000 dalam beberapa hari terakhir.

Bahkan, rupiah ditutup pada level Rp 15.485 per dolar AS pada perdagangan kemarin, Senin (18/10/2022).

Pelemahan nilai tukar ini tentunya akan membebani neraca dagang dari sisi nilai impor yang mulai naik. Sementara itu, ekspor berangsur melandai.

Kinerja ekspor nonmigas mencapai US$ 23,48 miliar pada September 2022, lebih rendah dibandingkan dengan US$ 26,18 miliar pada bulan sebelumnya.

Adapun, impor nonmigas tetap kuat pada seluruh komponen sejalan dengan masih terus berlanjutnya perbaikan ekonomi domestik.

Sementara itu, defisit neraca perdagangan migas tercatat sedikit meningkat dari US$ 2,01 miliar pada Agustus 2022 menjadi US$ 2,1 miliar pada September 2022, seiring dengan penurunan ekspor migas yang lebih tinggi dari impor migas.

Dengan tantangan ini, berikut komentar 5 ekonom yang dirangkum CNBC Indonesia.


1. Ekonom Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto

Rully memastikan kinerja ekspor dan impor Indonesia pada bulan September menunjukkan tanda-tanda perlambatan ekonomi global.

Dia juga melihat kemungkinan terjadinya resesi global pada tahun 2023, yang juga akan menyebabkan penurunan harga komoditas, akan menyebabkan pertumbuhan ekspor Indonesia terus melambat.

"Kami memperkirakan pertumbuhan ekspor Indonesia akan terus menurun karena negara-negara dengan perekonomian terbesar di dunia, terutama Tiongkok, akan terus memburuk karena kebijakan zero-Covid dan krisis properti," katanya.

Buktinya, ekspor Indonesia ke China, AS, Jepang dan India mengalami kontraksi secara bulanan.

Dia mengakui sulit bagi Indonesia menghindari dampak dari perlambatan global. Namun, Indonesia masih diuntungkan.

namun ke depan kemungkinan akan menurun. Harga batubara masih akan tetap tinggi, terutama memasuki musim dingin di banyak negara.

"Proporsi ekspor terhadap PDB Indonesia relatif tidak terlalu besar. Yang harus dilakukan memang lebih banyak berorientasi kepada aktivitas ekonomi di dalam negeri," tegasnya saat dihubungi CNBC Indonesia.


2. Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman

Senada dengan Rully, Faisal juga melihat adanya tanda-tanda perlambatan ekonomi global dalam neraca perdagangan Indonesia.

Namun, dia optimistis neraca transaksi berjalan akan mencatat surplus tahun ini. Namun, surplus akan meredup ke depannya.

"Data realisasi hingga September 2022 masih sejalan dengan pandangan kami, sehingga kami tetap memperkirakan surplus perdagangan akan menyempit ke depan," paparnya.

Bank Mandiri memperkirakan impor akan terus mengimbangi ekspor di tengah akselerasi pemulihan ekonomi yang menunjukkan membaiknya permintaan domestik, terutama untuk impor bahan baku dan barang modal.

Sebagai catatan, dua kelompok impor menyumbang sekitar 90% dari total impor.

Efek pelonggaran PPKM, lanjutnya, ikut meningkatkan mobilitas masyarakat yang dapat meningkatkan impor BBM.

Sementara itu, dia melihat tren kenaikan sebagian besar harga komoditas terlihat tertahan di tengah meningkatnya kekhawatiran resesi global yang bersumber dari melonjaknya inflasi global.

Faisal menegaskan hal ini memberikan risiko melemahnya kinerja ekspor.

"Namun, perlambatan ekspor dapat dibatasi di tengah kuatnya ekspor terkait hilirisasi nikel," ujarnya.

3. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David E. Sumual

Dampak pelemahan nilai tukar rupiah diyakini belum terasa pada neraca perdagangan September 2022.

David mengemukakan sektor riil telah mengantisipasi dampak rupiah yang melemah dengan menurunkan impor.

"Dampak ke impornya belum menurut saya. Justru mereka karena sudah inventorinya cukup, mereka akan kurang sekarang," kata David kepada CNBC Indonesia, dikutip Selasa (18/10/2022).

Namun, dia melihat ada potensi impor akan kembali naik pada akhir tahun untuk keperluan produksi tahun depan.

"Diperkirakan mulai November dan Desember mulai naik lagi."

Terkait dengan potensi surplus berbalik defisit, David menuturkan hal tersebut bergantung pada harga komoditas. Jika perang di Ukraina masih berkecamuk, kemungkinan harga komoditas akan tetap tinggi.

Namun, dia tidak mengelak bahwa kenaikan harga komoditas andalan RI mulai terhenti sejak Mei 2022. Prospek harga komoditas mengarah ke normalisasi sehingga dia tidak menutup kemungkinan adanya defisit tahun depan.

"Bisa saja defisit tahun depan. Apalagi kalau Indonesia tumbuhnya masih bagus," ujar David.

4. Ekonom Sucor Sekuritas Ahmad Mikail

Ahmad menyoroti perlambatan ekspor CPO dan batu bara Indonesia dipicu oleh belum masuknya musim dingin di Jepang dan beberapa negara Eropa.

"Jadi ekspor sawit dan juga batu bara mengalami penurunan di negara-negara non-China. Saya lihat ini temporary," ujarnya.

Jika musim dingin sudah memasuki puncaknya, pada Desember dan Januari, ekspor batu bara akan kembali naik. Pasalnya, musim dingin tahun ini diramal akan lebih kuat dari sebelumnya.

"Ekspor kemungkinan akan rebound dan harga juga akan rebound di musim dingin," tambahnya.

Lebih lanjut, jika Rusia mengirimkan senjata nuklir atau tactical nuclear weapon ke Ukraina, dampaknya kekhawatiran pasokan energi akan mencuat.

Alhasil, harga energi akan naik pada kuartal IV. Sejalan dengan itu, ekspor bisa menguat.


5. Direktur CELIOS Bhima Yudhistira

Di tengah ancaman resesi di AS dan Eropa, Bhima justru melihat ancaman gelapnya ekonomi China akan berdampak pada kinerja neraca perdagangan Indonesia.

Pasalnya, China punya dampak yang lebih besar dibanding gejala resesi di zona Eropa dan AS maupun efek perang di Ukraina.

China kontribusi terhadap ekspor-impor dengan Indonesia sangat besar. Bayangkan, sekitar 33,8% impor kita dari China, dan tujuan ekspor ke China porsinya 21,8%.

"Sedikit saja China batuk, maka Indonesia akan mengalami tekanan ekonomi dalam beberapa bulan kedepan. Resesi bisa lebih cepat," paparnya.

Dalam kondisi ini, dia melihat harga-harga komoditas andalan RI, seperti batu bara, CPO dan nikel, sudah pasti turun.

Namun, dia mengingatkan adanya penurunan komoditas RI lainnya yang patut diwaspadai, yaitu perak, biji besi dan tembaga.

Bhima memastikan bahwa pelemahan surplus neraca perdagangan pada September ini adalah besar. Ke depannya, kata Bhima, Indonesia tidak bisa terus menerus bergantung pada ekspor komoditas.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Mantap Jiwa! Neraca Dagang RI Surplus 25 Bulan Beruntun


(haa/haa)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading