Internasional

Dear Xi Jinping, Ini 5 Bukti Ekonomi China Bermasalah

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
05 October 2022 14:00
A Chinese flag is raised during a medal ceremony for the women's freestyle skiing big air at the 2022 Winter Olympics, Tuesday, Feb. 8, 2022, in Beijing. (AP Photo/Jae C. Hong) Foto: Bendera China (AP Photo/Jae C. Hong)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonomi China melambat karena beradaptasi dengan strategi nol-Covid dan melemahnya permintaan global. Meski tidak sedang berjuang melawan inflasi tajam seperti Amerika Serikat (AS) dan Inggris, Negeri Tirai Bambu menghadapi masalah lain.

Saat ini, China menemukan lebih sedikit pelanggan untuk produknya, baik di dalam negeri maupun internasional. Ketegangan perdagangan antara Beijing dan ekonomi utama seperti AS juga menghambat pertumbuhan.

Sementara itu, yuan makin memburuk dalam beberapa dekade karena anjlok terhadap dolar AS. Mata uang yang lemah menakuti investor sehingga memicu ketidakpastian di pasar keuangan. Ini juga mempersulit bank sentral untuk memompa uang ke dalam perekonomian.

Semua ini terjadi pada saat Presiden Xi Jinping mengharapkan masa jabatan ketiga di Kongres Partai Komunis (CPC) yang dimulai pada 16 Oktober mendatang.

Berikut lima alasan mengapa ekonomi China bermasalah, dikutip dari BBC, Rabu (5/10/2022).

1. Aturan Nol-Covid mendatangkan malapetaka

Wabah Covid di beberapa kota, termasuk pusat manufaktur seperti Shenzhen dan Tianjin, telah mengganggu aktivitas ekonomi di berbagai industri di negara tersebut.

Orang-orang juga tidak menghabiskan uang untuk hal-hal seperti makanan dan minuman, ritel atau pariwisata, sehingga menempatkan layanan utama di bawah tekanan.

Di sisi manufaktur, aktivitas pabrik tampaknya telah naik kembali pada September setelah dua bulan tidak berkembang, menurut Biro Statistik Nasional. Rebound bisa jadi karena pemerintah lebih banyak belanja infrastruktur.

Permintaan di negara-negara seperti AS juga telah menurun karena tingkat suku bunga yang lebih tinggi, inflasi dan perang di Ukraina. Namun China mengalami hal yang sama akibat terlalu terpaku pada aturannya sendiri.

Para ahli sepakat bahwa Beijing dapat berbuat lebih banyak untuk merangsang ekonomi, tetapi nyatanya mereka tidak melakukannya karena menerapkan aturan nol-Covid.

"Tidak ada gunanya memompa uang ke dalam ekonomi kita jika bisnis tidak dapat berkembang atau orang tidak dapat membelanjakan uangnya," kata Louis Kuijs, kepala ekonom Asia di S&P Global Ratings.

2. Otoritas tidak merespons dengan baik ekonominya

Pada Agustus China mengumumkan rencana 1 triliun yuan untuk meningkatkan usaha kecil, infrastruktur dan real estat. Namun ini tidak menjadi maksimal karena tidak ada respons cukup dari pemerintahannya.

Para pejabat dikatakan dapat berbuat lebih banyak untuk memicu pengeluaran untuk memenuhi target pertumbuhan dan menciptakan lapangan kerja. Ini termasuk lebih banyak berinvestasi di infrastruktur, meringankan persyaratan pinjaman untuk pembeli rumah, pengembang properti dan pemerintah daerah, dan keringanan pajak untuk rumah tangga.

"Respons pemerintah terhadap pelemahan ekonomi cukup sederhana dibandingkan dengan apa yang telah kita lihat selama serangan pelemahan ekonomi sebelumnya," kata Kuijs.

3. Krisis di pasar properti China

Lemahnya aktivitas real estate dan sentimen negatif di sektor perumahan menjadi penyebab perlambatan pertumbuhan. Ini telah memukul ekonomi China dengan keras karena properti dan industri lain yang berkontribusi terhadapnya menyumbang hingga sepertiga dari produk domestik bruto (PDB) negara tersebut.

"Ketika kepercayaan lemah di pasar perumahan, itu membuat orang merasa tidak yakin tentang situasi ekonomi secara keseluruhan," kata Kuijs.

Pembeli rumah telah menolak untuk melakukan pembayaran hipotek pada bangunan yang belum selesai dan beberapa ragu rumah mereka akan pernah selesai. Permintaan untuk rumah baru turun dan itu telah mengurangi kebutuhan impor komoditas yang digunakan dalam konstruksi.

Terlepas dari upaya Beijing untuk menopang pasar real estat, harga rumah di puluhan kota telah menurun lebih dari 20% tahun ini. Dengan pengembang properti di bawah tekanan, analis mengatakan pihak berwenang mungkin harus berbuat lebih banyak untuk memulihkan kepercayaan di pasar real estat.

4. Perubahan iklim memperburuk keadaan

Cuaca ekstrem mulai berdampak jangka panjang pada industri China. Gelombang panas yang parah, diikuti oleh kekeringan, melanda provinsi barat daya Sichuan dan kota Chongqing di sabuk tengah pada Agustus.

Ketika permintaan AC melonjak, ini membanjiri jaringan listrik di wilayah yang hampir seluruhnya bergantung pada tenaga air. Pabrik-pabrik, termasuk produsen besar seperti pembuat iPhone Foxconn dan Tesla, juga terpaksa memangkas jam kerja atau tutup total.

Biro Statistik China mengatakan pada Agustus bahwa keuntungan di industri besi dan baja saja turun lebih dari 80% dalam tujuh bulan pertama tahun 2022, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

5. Raksasa teknologi China kehilangan investor

Tindakan keras regulasi terhadap raksasa teknologi China, yang telah berlangsung dua tahun, tidak membantu perekonomian negara tersebut. Tencent dan Alibaba melaporkan penurunan pendapatan pertama mereka di kuartal terakhir, di mana laba Tencent turun 50% dan laba bersih Alibaba turun setengahnya.

Puluhan ribu pekerja muda kehilangan pekerjaan, menambah krisis pekerjaan di mana satu dari lima orang berusia 16 hingga 24 tahun menganggur. Hal ini dapat merugikan produktivitas dan pertumbuhan China dalam jangka panjang.

Investor juga merasakan pergeseran di Beijing. Beberapa perusahaan swasta paling sukses di China telah mendapat sorotan yang lebih besar ketika cengkeraman Xi pada kekuasaan tumbuh.

Softbank Jepang menarik sejumlah besar uang tunai dari Alibaba, sementara Berkshire Hathaway dari Warren Buffet menjual sahamnya di pembuat kendaraan listrik BYD. Tencent telah menarik investasi senilai lebih dari US$ 7 miliar pada paruh kedua tahun ini saja.

Ini memburuk setelah AS menindak perusahaan China yang terdaftar di pasar saham Amerika.

"Beberapa keputusan investasi sedang ditunda, dan beberapa perusahaan asing berusaha untuk memperluas produksi di negara lain," kata S&P Global Ratings dalam catatan belum lama ini.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Xi Jinping Tebar "Helikopter Duit" Rp 2.000 T, China Krisis?


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading