Internasional

Utang AS Tertinggi Sepanjang Sejarah, Tembus Rp 472.000 T

News - luc, CNBC Indonesia
05 October 2022 11:25
WASHINGTON, DC - MAY 12: Flags at the base of the Washington Monument fly at half staff as the United States nears the 1 millionth death attributed to COVID May 12, 2022 in Washington, DC. U.S. President ordered flags to fly at half-mast through next Monday and said the nation must stay resolved to fight the virus that has “forever changed” the country. (Photo by Win McNamee/Getty Images) Foto: Bendera Amerika Serikat (Photo by Win McNamee/Getty Images)

Jakarta, CNBC Indonesia - Utang nasional Amerika Serikat (AS) melejit ke rekor tertingginya senilai US$ 31,1 miliar atau setara Rp 472,4 ribu triliun (kurs Rp 15.190) pada awal pekan ini.

Data dari Departemen Keuangan AS itu dirilis di tengah tren inflasi tinggi, kenaikan suku bunga, dan ketidakpastian ekonomi yang menghantam Negeri Paman Sam.

Tingginya utang tersebut tak lepas dari kebijakan pinjaman besar-besaran selama pandemi Covid-19 untuk membantu menopang perekonomian negara. Pasalnya, penyebaran virus corona telah melumpuhkan ekonomi AS yang ditandai dengan jatuhnya pasar tenaga kerja dan terganggunya rantai pasokan.

Utang yang belum dibayar pun telah meningkat hampir US$ 8 triliun sejak awal 2020, dengan laju penambahan $ 1 triliun hanya dalam delapan bulan.

Adapun, pinjaman yang terjadi di bawah pemerintahan Trump dan di awal pemerintahan Biden datang pada saat suku bunga rendah. Sekarang, selama periode inflasi yang tinggi secara historis dan serangkaian kenaikan suku bunga yang tajam oleh Bank Sentral AS (Federal Reserve) dalam pertempurannya untuk menjinakkan kenaikan harga, biaya pinjaman jadi jauh lebih tinggi.

Komite Anggaran Fiskal yang Bertanggung Jawab (CRFB) bulan lalu memperkirakan bahwa kebijakan Presiden Joe Biden dapat menambah defisit hingga US$ 4,8 triliun antara tahun 2021 dan 2031.

"Peminjaman yang berlebihan akan menyebabkan tekanan inflasi yang berkelanjutan, mendorong utang nasional ke rekor baru segera setelah 2030 dan pembayaran bunga federal tiga kali lipat selama dekade berikutnya - atau bahkan lebih cepat jika suku bunga naik lebih cepat atau lebih dari yang diharapkan," tulis CRFB, dikutip CNN International, Rabu (5/10/2022).

Menurut data Departemen Keuangan, tingkat pinjaman Amerika telah melonjak selama dekade terakhir. Utang publik yang beredar mencapai US$ 10,6 triliun ketika mantan Presiden Barack Obama menjabat pada 20 Januari 2009; US$ 19,9 triliun ketika mantan Presiden Donald Trump menjabat pada 20 Januari 2017; dan US$ 27,8 triliun ketika Biden menjabat pada 20 Januari 2021.

Alex Pelle, ekonom AS untuk Mizuho Securities, menilai melonjaknya utang bisa menjadi indikasi adanya masalah besar di masa depan. Adapun, dalam jangka pendek, tingkat inflasi yang tinggi harus menjadi perhatian.

"Semua jenis masalah utang benar-benar merupakan masalah potensial - saya bahkan tidak akan mengatakan masalah tertentu - tetapi masalah potensial selama 5 hingga 10 tahun ke depan," katanya.

"Salah satu keuntungan menjadi mata uang cadangan dunia adalah semua orang ingin membeli uutang Anda dengan harga murah."


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Breaking News: Inflasi AS Makin Menggila, "Meledak" 9,1%


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading