Covid & Perang Minggir Dulu Deh! Ada yang Lebih Ngeri Nih

News - cha, CNBC Indonesia
14 September 2022 10:41
Menteri Keuangan Sri Mulyani memberi keterangan pers Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2023 di Aula Chakti Budhi Bhakti (CBB),  Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Selasa, (16/8/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki) Foto: Menteri Keuangan Sri Mulyani memberi keterangan pers Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2023 di Aula Chakti Budhi Bhakti (CBB), Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Selasa, (16/8/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut perubahan iklim merupakan ancaman yang lebih nyata dari pandemi Covid-19 maupun gejolak politik dunia yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Hal tersebut dikemukakan Sri Mulyani saat memberikan pengarahan dalam acara HSBC Summit 2022 'Powering the Transition To Net Zero' yang disiarkan secara daring, Rabu (14/9/2022).

"Perubahan iklim adalah ancaman global yang sebenarnya yang berpengaruh pada kehidupan sosial, ekonomi dan lebih signifikan memengaruhi dunia lebih dari pandemi Covid-19," kata Sri Mulyani.

Sri Mulyani menekankan target menurunkan emisi maupun netralitas karbon pada 2050 mendatang menjadi penting dan mendesak. Pasalnya, perubahan iklim dikhawatirkan akan memicu krisis yang jauh lebih 'mengerikan' dibandingkan sebelumnya.

"Kita semua menyadari perubahan iklim, atau mungkin lebih tepat disebut sebagai krisis iklim ini memberikan ancaman berat bagi umat manusia, ekonomi, sistem keuangan dan cara hidup kita," kata Sri Mulyani.

Icebergs are seen at the Disko Bay close to Ilulisat, Greenland, September 14, 2021. REUTERS/Hannibal HanschkeFoto: REUTERS/HANNIBAL HANSCHKE
Icebergs are seen at the Disko Bay close to Ilulisat, Greenland, September 14, 2021. REUTERS/Hannibal Hanschke

Sri Mulyani mengatakan, upaya pemimpin dunia dalam mempercepat target penurunan emisi karbon memang sempat tertahan pada tahun lalu karena pandemi Covid-19. Namun, kini tak ada alasan lagi karena langkah strategis harus ditempuh.

Sri Mulyani lantas merujuk pada riset yang diterbitkan lembaga asal Swiss pada tahun lalu. Riset tersebut mengatakan, dunia akan kehilangan lebih dari 10% ekonominya apabila kesepakatan Paris tidak terpenuhi pada 2050.

"Secara bertahap, akan ada tekanan inflasi yang dapat timbul dari menurunnya gangguan rantai pasok nasional dan internasional, akibat perubahan iklim seperti banjir dan badai," kata Sri Mulyani.

Sebagai informasi, Paris Agreement merupakan perjanjian internasional yang berfokus pada penanggulangan masalah iklim global. Perjanjian ini diadopsi hampir 200 negara yang tersebar di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia.

Kesepakatan Paris bertujuan untuk menghentikan suhu pemanasan bumi, tak lebih dari 2 derajat celcius. Setiap negara perlu memasukkan komitmen berapa banyak emisi karbondioksida yang bisa dikurangi.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bukan Menakuti, Tapi Ancaman Baru Selain Covid Makin Ngeri!


(cha/cha)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading