Jika Harga BBM Pertalite Tidak Naik, APBN Jebol Parah?

News - Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
26 August 2022 19:21
Pengendara mobil melintas di jalan Protokol Ibukota Thamrin-Sudirman, Jakarta, Kamis (21/6). Usai libur lebaran sejumlah ruas jalan Protokol mulai diberlakukan kembali aturan ganjil-genap. Hal itu diberlakukan usai sistem ganjil-genap tidak diberlakukan di Jalan Sudirman-Thamrin dan Jalan Gatot Subroto mulai tanggal 11-20 Juni 2018 kemarin. Menurut pantauan CNBC Indonesia meski sudah memasuki hari awal kerja PNS sejumlah ruas jalan tersebut masih terlihat ramai lancar. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: SPBU Pertamina, Kemang (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite dan Solar Subsidi dipastikan tidak naik minggu ini. Hal ini Lantaran masih banyak pertimbangan dan perhitungan yang harus dilakukan detil oleh para menteri ekonomi Indonesia.

"Belum Minggu ini, kita masih hitung, pak Jokowi meminta supaya dihitung benar-benar dan tetap bisa menjaga daya beli masyarakat," terang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (26/8/2022).

Masyarakat dirundung kecemasan menanti kebijakan harga bensin subsidi baik Pertalite maupun Solar. Ini berkaitan dengan daya beli masyarakat yang terancam tergerus. Apalagi saat ini harga kebutuhan pangan harganya sudah selangit.


Akan tetapi pemerintah punya alasan khusus untuk kemudian menaikkan harga bensin subsidi. Paling utama adalah menjaga APBN agar tidak 'jebol'.

Commodity boom yang terjadi dalam dua tahun terakhir tak hanya membuat kantong pendapatan negara 'gemuk'. Namun juga membuat kantong pengeluaran bocor, terutama subsidi yang makin 'bengkak'.

Indonesia masih menahan harga Pertalite karena BBM penugasan itu konsumsinya lebih dari 80% total bensin. Sehingga akan memiliki dampak yang signifikan kala pemulihan ekonomi dari pandemi vius Corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19).

Tapi bak simalakama, ekonomi yang pulih akibat pengendalian pandemi harus dibayar cukup mahal oleh beban subsidi yang melesat. Saat Covid-19 terkendali, mobilitas masyarakat pun meningkat. Kuota Pertalite makin menipis dan diperkirakan segera habis.

Kuota 23 juta KL pada 2022 tidak cukup, perlu tambahan setidaknya hingga 29 juta KL untuk memenuhi kebutuhan pra pandemi.

Oleh karena itu Menteri Keuangan Sri Mulyani terus mewanti-wanti PT Pertamina persero agar fokus dalam pengendalian volume. Sehingga beban yang nantinya ditanggung negara tidak teramat besar.

"Tentu saya berharap Pertamina untuk betul-betul mengendalikan volumenya. Supaya APBN tidak terpukul," ungkapnya di kantor Kemenko Perekonomian, Rabu (10/8/2022).

Tak hanya soal kuota, kesenjangan antara harga jual dan keekonomian juga menjerat APBN. Harga Pertalite dijual Rp7.650 per liter, sedangkan keekonomiannya disebut Rp17.100 per liter. Jadi pemerintah 'nombok' Rp9.450 per liter.

Subsidi Rp502,4T Gak Cukup, APBN Beneran Jebol?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading