Menteri ESDM Ungkap Sejumlah Tantangan Konversi BBM ke BBG

News - Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
12 August 2022 12:05
Petugas melakukan pengisian Bahan Bakar Gas di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di Jl. Kapten Tendean, Rabu (11/5/2022). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) Foto: Petugas melakukan pengisian Bahan Bakar Gas di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di Jl. Kapten Tendean, Rabu (11/5/2022). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengungkapkan terdapat sejumlah tantangan dalam pemanfaatan Bahan Bakar Gas (BBG) untuk sektor transportasi. Padahal, pemanfaatan BBG secara massal dinilai bisa menekan angka impor Bahan Bakar Minyak (BBM).

Adapun, salah satunya terdapat pada tahapan memodifikasi mobil. Pasalnya, agar BBG bisa digunakan di mesin mobil setidaknya perlu alat konverter kit.

"Nah kemudian keinginan dari masyarakat itu sendiri, kalau memang tumbuh di masyarakat dalam arti kata berjenjang mulai dari unsur pemerintahannya sampai ke masyarakat. Contohnya yang sudah jalan di Semarang, BBG ini sebaiknya bisa diikuti oleh daerah daerah lain," kata Arifin di Gedung Kementerian ESDM, Kamis (11/8/2022).

Arifin sendiri menyadari program konversi ke BBG ini perlu didorong, terutama ketika pasokan gas di dalam negeri cukup melimpah. Apalagi biaya penggunaan BBG untuk kendaraan roda empat terbukti jauh lebih murah jika dibandingkan dengan BBM.

Oleh karena itu, ia berharap agar program konversi BBG ini dapat disosialisasikan ke masyarakat luas. Mengingat selain lebih hemat daripada BBM, hasil pembakaran gas juga lebih bersih.

"Nah ini memang harus disosialisasikan gas kita juga cukup besar dan itu kan lebih bagus mandiri dengan kemampuan yang kita miliki sendiri daripada BBM," ujarnya.

Anggota DEN Eri Purnomohadi menjelaskan program konversi BBM ke gas termasuk BBG menjadi bagian dari peta jalan atau road map dari Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang tertuang dalam road map transisi energi. Termasuk di dalamnya program transisi energi ke penggunaan gas bumi sebagai bahan bakar rumah tangga dan Gasifikasi batu bara (Dimethyl Ether/DME) sebagai energi alternatif pengganti LPG.

"Demikian pula BBG untuk industri dan transportasi guna meningkatkan pemanfaatan gas domestik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor energi," kata dia.

Namun demikian, untuk menggencarkan program BBG ini terdapat sejumlah tantangan. Misalnya seperti kontrak gas di sektor hulu yang mempunyai peran strategis dalam mempengaruhi harga gas di hilir hingga sampai ke pengguna akhir.

Adapun kontrak gas sendiri meliputi volume, harga, jangka waktu, titik serah, transportasi, hingga ke Mother Station. Sedangkan dari Mother Station sendiri juga terdapat biaya distribusi hingga ke titik serah pengguna akhir.

"Ini memang menjadi target di DEN (konversi BBG) juga berkaitan dengan Energi Mix 2025 sebesar 23% capaian Bauran Energi Nasional," kata dia.

Di mana, kata dia untuk mencapai target bauran energi bersih 23% tersebut, paling tidak beberapa program transisi energi harus dijalankan. Seperti percepatan implementasi penggunaan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB), program konversi kompor LPG ke kompor induksi, proyek Gasifikasi batu bara DME sebagai energi alternatif pengganti LPG

"Dan peningkatan pemanfaatan gas ( industri dan rumah tangga ) kemudian peningkatan pemanfaatan PLTS Atap dan seterusnya," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Pasokan Gas Rusia Berhenti, Jerman Diambang Resesi


(pgr/pgr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading