Internasional

Ngeri! Dubes AS Sebut Rusia Mau Hapus Ukraina dari Peta Bumi

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
31 July 2022 07:30
Local residents walk near their residential building damaged by a Russian military strike, amid Russia's invasion on Ukraine, in the town of Chasiv Yar, in Donetsk region, Ukraine July 10, 2022. REUTERS/Gleb Garanich Foto: REUTERS/GLEB GARANICH

Jakarta, CNBC Indonesia - Duta Besar (Dubes) Amerika Serikat (AS) untuk PBB, Linda Thomas-Greenfield, menuduh Rusia bermaksud untuk membubarkan Ukraina dari peta dunia sepenuhnya. Hal ini disampaikannya saat Moskow terus intensif menguasai beberapa kota di negara itu.

Mengutip Associated Press, Thomas-Greenfield mengatakan saat ini Moskow tengah berusaha untuk mencaplok semua wilayah Ukraina Timur dan Selatan. Langkah ini dilakukan dengan memasang pejabat proksi di wilayah itu dengan tujuan mengadakan referendum palsu atau dekrit untuk bergabung dengan Rusia.

"Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov bahkan telah menyatakan bahwa ini adalah tujuan perang Rusia," katanya dikutip Minggu, (31/7/2022).

Thomas-Greenfield juga mengatakan setiap negara tidak berhak untuk mengorbankan keamanan negara lain untuk kepentingan negara tersebut. Menurutnya, ini akan merusak perdamaian dunia.

"Menempatkan keamanan sendiri di atas keamanan orang lain, mencoba memperkuat blok militer, membangun keunggulan mutlak ... hanya akan mengarah pada konflik dan konfrontasi, memecah komunitas internasional dan membuat diri mereka kurang aman."

"Mari kita perjelas, tindakan berkelanjutan Rusia adalah hambatan bagi resolusi krisis ini," tambahnya.

Rusia memulai serangan yang disebutnya 'operasi militer' di Ukraina pada 24 Februari lalu. Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan adanya operasi ini dilakukan untuk membebaskan masyarakat komunitas Rusia di wilayah itu dari kelompok ultranasionalis yang dibeking Kyiv serta memaksa Ukraina untuk tidak bergabung ke NATO.

Hal ini juga ditegaskan oleh Lavrov dan Wakil Duta Besar Rusia untuk PBB Dmitry Polyansky. Pada pertemuan puncak Arab di Kairo, Lavrov menyebut bahwa tujuan menyeluruh Moskow di Ukraina adalah untuk membebaskan rakyatnya dari 'rezim yang tidak dapat diterima.'

"Kami pasti akan membantu rakyat Ukraina untuk menyingkirkan rezim, yang benar-benar anti-rakyat dan anti-historis," tegasnya.

Serupa, Polyansky mengatakan kepada Dewan Keamanan pada hari Jumat bahwa 'De-Nazifikasi dan demiliterisasi Ukraina akan dilakukan secara penuh.'

"Tidak boleh ada lagi ancaman dari tahap ini ke Donbas, atau ke Rusia, atau ke wilayah Ukraina yang dibebaskan di mana untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun orang akhirnya dapat merasa bahwa mereka dapat hidup seperti yang mereka inginkan," katanya. .

AS sendiri bersama sekutu Baratnya seperti Inggris dan Uni Eropa telah menentang aksi Rusia ini. Pihak Barat pun telah menjatuhkan sanksi ekonomi dan keuangan untuk membuat negara pimpinan Presiden Vladimir Putin itu kehilangan pendapatan untuk perang.

Tak hanya itu, Barat juga memberikan bantuan persenjataan bagi Ukraina untuk menahan Rusia. Salah satu senjata terbaru yang diberikan Barat adalah rudal HIMARS dari Amerika Serikat. Rudal ini dipercaya efektif setelah berhasil digunakan dalam melumpuhkan gudang senjata Rusia di Kherson yang mengandung sistem pertahanan S-400.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jokowi: Ekonomi Tambah Babak Belur Gegara Perang!


(tps/mij)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading