Internasional

Media China: Target Rusia Bukan Hancurkan Ukraina, tapi Ini

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
22 July 2022 07:10
FILE - In this March 28, 2014 file photo, a Russian national flag flies on a hilltop near the city of Bakhchysarai, Crimea. The Group of Seven major industrialized countries on Thursday March 18, 2021, issued a strong condemnation of what it called Russia's ongoing “occupation” of the Crimean Peninsula, seven years after Moscow annexed it from Ukraine. (AP Photo/Pavel Golovkin, File)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rusia dilaporkan memiliki target lainnya dalam serangannya ke Ukraina. Hal ini dilaporkan langsung oleh media milik Pemerintah China, Global Times.

Media itu mengatakan target ini terkait dengan pihak lainnya, utamanya Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Ketika AS memandu aliansi Barat untuk menjatuhkan sanksi terhadap Rusia, ini justru makin menyeret Eropa ke dalam krisis energi dan kesulitan ekonomi.

Sebagaimana diketahui, sebelum perang berlangsung dan deretan sanksi diberikan ke Moskow, sebagian besar negara-negara Eropa sangat bergantung pada energi dari Rusia.


Media tersebut, mengutip para ekonom, juga melaporkan kini banyak negara Eropa berada di ambang kekacauan ekonomi, dengan inflasi yang meroket. Risiko yang lebih besar juga membayangi benua itu, sebab Eropa menjauh dari strateginya untuk mandiri, sementara daya saing industrinya akan tertinggal jika terlalu bergantung pada produk AS.

"Eropa adalah korban penting dari krisis Ukraina," kata Wang Yiwei, direktur Institut Urusan Internasional di Universitas Renmin China, mengatakan kepada Global Times.

Dalam beberapa bulan terakhir, masalah ekonomi yang dihadapi oleh Eropa berulang kali menjadi berita utama. Ini terjadi karena ekonomi Eropa menghadapi lonjakan inflasi pada komoditas mulai dari gas, mobil, hingga makanan.

Ini terjadi karena pasokan energi dari Rusia berkurang di tengah konflik Rusia-Ukraina. Secara khusus, Rusia telah mengurangi aliran gas ke Eropa selama konflik, sementara para pemimpin Uni Eropa juga dilaporkan berencana untuk memblokir sebagian besar impor minyak Rusia pada akhir 2022 untuk menghukum negara tersebut.

Global Times juga menulis jika konfrontasi tersebut menempatkan Eropa pada situasi krisis energi yang sangat berbahaya, karena biasanya UE mengimpor sekitar 40% dari total konsumsi gasnya dari Rusia.

"Para ahli menekankan bahwa meskipun hubungan tegang antara Eropa dan Rusia dipicu oleh perasaan tidak aman Eropa terhadap Rusia, hal itu juga diperparah oleh hasutan AS, karena hanya membayar lip service kepada UE bahwa itu akan membantu UE mengurangi ketergantungan energi pada Rusia," tulis media itu.

Pemerintahan Presiden AS Joe Biden telah berjanji untuk memberikan tambahan 15 miliar meter kubik gas alam cair (LNG) ke Uni Eropa tahun ini, mewakili sekitar sepersepuluh dari gas yang sekarang didapat Uni Eropa dari Rusia.

Yang Chengyu, wakil peneliti di Akademi Ilmu Sosial China, mengatakan kepada Global Times bahwa seruan AS untuk sanksi terkait Rusia sebagian didorong oleh niatnya untuk mencari keuntungan untuk dirinya sendiri, termasuk meningkatkan ekspor produk LNG dan minyak ke Eropa.

Di sisi lain, Yang juga mengatakan banyak harga komoditas lain juga naik di Eropa akibat krisis Ukraina, yang memicu kekacauan sosial. Ia mencatat bahwa negara-negara Eropa telah cukup bergantung pada impor gandum dari Rusia dan Ukraina, yang merupakan salah satu alasan utama di balik inflasi baru-baru ini di Eropa.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kota Kecil di Ukraina Ini Bisa Buat Rencana Rusia Berantakan


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading