'Tsunami' Inflasi Sudah Sampai di ASEAN! Termasuk RI Dong?

News - Feri Sandria, CNBC Indonesia
07 July 2022 14:34
Kesibukan aktivitas pembeli dan pedagang di Pasar Tradisional Kranji, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu, 2/4. Jelang memasuki Ramadhan pada esok hari harga sayuran mengalami kenaikan. (Cnbc Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Kesibukan aktivitas pembeli dan pedagang di Pasar Tradisional Kranji, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu, 2/4. Jelang memasuki Ramadhan pada esok hari harga sayuran mengalami kenaikan. (Cnbc Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kuartal pertama tahun ini dunia dikejutkan dengan invasi Rusia ke Ukraina yang sontak melambungkan harga energi dan sejumlah komoditas utama. Lonjakan tersebut diperparah dengan gangguan rantai pasok menjadi fondasi inflasi tinggi yang sebelumnya telah menggigit negara maju di kawasan Eropa dan Amerika Utara, kini kecemasan yang sama mulai merayap ke kawasan ASEAN.

Dari dalam negeri, inflasi Indonesia melesat pada periode Juni 2022. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan laju inflasi 4,35% secara tahunan (yoy) bulan lalu merupakan level tertinggi sejak Juni 2017. Inflasi tahun kalender saat ini berada di angka 3,19%.

Senada dengan energi, harga pangan global juga mencatat kenaikan tajam tahun ini dengan indeks komoditas IMF untuk makanan & minuman, serta indeks non-bahan bakar, telah menyentuh rekor tertinggi tahun ini. Sementara itu indeks pangan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (UN FAO) telah menyentuh rekor tertinggi di bulan April dan mendatar di bulan Mei tetapi masih melonjak rata-rata 26% (yoy) dalam dua bulan.


Dalam laporan terbarunya terkait kenaikan harga pangan dan kekhawatiran akan inflasi DBS Group Research menyebut bahwa kenaikan harga pangan terjadi secara luas di antara sub-segmen dengan minyak nabati memimpin dengan margin yang lebar, diikuti oleh sereal.

Harga minyak nabati, khususnya CPO yang merupakan turunan dari kelapa sawit memang sempat menguat tajam tahun ini yang akhirnya memaksa masyarakat, khususnya di Indonesia, menebus minyak goreng dengan harga yang lebih tinggi. Meskipun pemerintah sudah menyalurkan subsidi, menetapkan ambang batas harga tertinggi hingga menghentikan ekspor sementara, harga minyak tak kunjung stabil dan malah terjadi kelangkaan di pasar.

Riset DBS mengungkapkan bahwa harga pangan dan bahan bakar yang tinggi menandai pukulan ganda bagi rumah tangga karena konsumen cenderung membelanjakan sebagian besar pendapatan mereka untuk kebutuhan dasar. Bobot makanan dalam keranjang inflasi harga konsumen ASEAN-6 (Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina dan Vietnam) berkontribusi signifikan di rentang 20-40% dan dengan tambahan bahan bakar, bobotnya meningkat ke kisaran 50-60% dari total.

Kenaikan harga pangan baru-baru ini juga terkait dengan tingginya harga energi yang menambah biaya transportasi dan pupuk selain juga utamanya didorong oleh distorsi pasokan karena ketegangan geopolitik, cuaca buruk dan kebijakan pembatasan perdagangan yang dibuat oleh negara-negara pengekspor utama, termasuk yang dilakukan Indonesia dengan CPO, Malaysia dengan ayam dan India dengan gandum.

Harga pangan yang tinggi ini menimbulkan tantangan bagi pembuat kebijakan, karena inflasi sisi penawaran dalam kebutuhan dasar seperti makanan dan bahan bakar cenderung mengubah persepsi inflasi. Sebagai contoh, semakin lama inflasi berlangsung, semakin tinggi potensi dampak tingkat kedua dan limpahan ke pertumbuhan upah.

DBS juga mencatat bahwa meskipun indeks pangan PBB dan berbagai organisasi internasional lainnya meningkat tajam, ternyata memiliki korelasi yang cenderung lemah dengan inflasi pangan di ASEAN. Hal ini karena terdapat sejumlah parameter domestik utama yang dapat mengurangi atau memperburuk dampak dari pergerakan komoditas pangan global.

Negara net importir pangan seperti Singapura dan Filipina cenderung mengalami tantangan terbesar akibat kenaikan harga pangan global, sedangkan empat negara lain di ASEAN-6 yang tidak mengalami defisit perdagangan di sektor pangan, relatif lebih aman. Selanjutnya kekuatan untuk intervensi pasar dan kebijakan juga dapat membantu meringankan beban.

Secara keseluruhan, meskipun kenaikan indeks harga komoditas pangan global merupakan salah satu sumber kekhawatiran, pergerakan ke harga domestik final lebih ditentukan oleh ketergantungan negara pada impor serta tingkat kontrol harga di dalam negeri.

Kondisi Inflasi Negara ASEAN-6
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading