Internasional

Pasar Khawatir Resesi, The Fed Bakal Lebih Galak atau Tidak?

News - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
05 July 2022 16:55
Federal Reserve Chair Jerome Powell removes his glasses as he listens to a question during a news conference after the Federal Open Market Committee meeting, Wednesday, Dec. 11, 2019, in Washington. The Federal Reserve is leaving its benchmark interest rate alone and signaling that it expects to keep low rates unchanged through next year. (AP Photo/Jacquelyn Martin)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelaku pasar global sedang dicekam kekhawatiran melihat kondisi perekonomian global yang tengah dibayangi resesi, setidaknya akhir tahun ini atau awal tahun depan.

Kekhawatiran investor akan resesi global disebabkan karena inflasi yang cenderung masih meninggi dalam jangka pendek dan beberapa data ekonomi yang mengecewakan.

Hal ini membuat bank sentral di sebagian besar negara maju, utamanya di Negara Barat terus bersikap agresif menaikkan suku bunga acuannya guna meredam inflasi. Selama inflasi masih meninggi, maka bank sentral juga masih akan 'galak', meski ancaman resesi semakin terbuka.


Di Amerika Serikat (AS), bank sentral (Federal Reserve/The Fed) mengatakan bahwa pihaknya tidak akan melunak sampai tingkat inflasi di negaranya jauh melandai dari posisi saat ini. Dalam pengumuman kebijakan moneter terakhir yang diumumkan pada Kamis (16/6/2022) dini hari, The Fed menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin (bp) ke 1,5-1,75%.

Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar sejak 1994, dan belum akan berakhir. Berdasarkan Fed Dot Plot yang dirilis setiap akhir kuartal, mayoritas anggota pembuat kebijakan moneter (The Fed) melihat suku bunga di akhir tahun berada di 3,4% atau di rentang 3,25-3,5%. Tingkat suku bunga tersebut lebih tinggi 1,5% ketimbang Fed Dot Plot edisi Maret.

"Jelas kenaikan 75 basis poin hari ini merupakan salah satu yang terbesar dan tidak biasa, saya tidak melihat langkah seperti ini adalah sesuatu yang biasa," kata ketua The Fed, Jerome Powell sebagaimana dilansir CNBC International, Kamis (16/6/2022).

Kenaikan suku bunga tersebut awalnya direspons positif pasar finansial global. Semakin tinggi suku bunga memang membuat risiko resesi AS akan semakin meningkat. Namun, resesi yang sesaat masih lebih bagus ketimbang jika inflasi tinggi mendarah daging yang bisa menggerogoti perekonomian dalam jangka waktu yang lama.

Sebelumnya pada Mei lalu, inflasi dari sisi konsumen (Indeks Harga Konsumen/IHK) di AS melonjak kembali menjadi 8,6% secara tahunan (year-on-year/yoy), menjadi yang tertinggi sejak 41 tahun.

Sedangkan inflasi dari sisi produsen (producer price index/PPI) di AS cenderung menurun menjadi 10,8% (yoy) pada Mei lalu. Meski turun, tapi pasar berekspektasi bahwa PPI berpotensi melonjak kembali ke depannya.

Di lain sisi, tingkat keyakinan konsumen juga terpantau merosot, dan penjualan ritel turun 0,3% pada Mei dari bulan sebelumnya. Ketika tingkat keyakinan konsumen merosot, maka belanja rumah tangga yang merupakan tulang punggung perekonomian juga akan menurun. Hal ini berdampak buruk pada perekonomian Amerika Serikat.

"Apa yang dikhawatirkan pasar, bahkan sebelum terjadi resesi adalah kebijakan yang salah, bahwa The Fed merusak sesuatu. Pasar mempertanyakan pernyataan perekonomian yang dikatakan kuat," kata Quincy Krosby, kepala ahli strategi ekuitas di LPL Financial, sebagaimana diwartakan CNBC International.

Ketua The Fed dua periode ini sebelumnya mengatakan tidak banyak yang bisa dilakukan untuk mengendalikan inflasi energi dan harga makanan, tetapi menyarankan akan terus menaikkan suku bunga hingga harga gas turun.

Kemudian ekspektasi inflasi yang sebelumnya masih cukup bagus. Tetapi kenaikan suku bunga sebesar 75 basis poin dikatakan sebagai akibat naiknya ekspektasi inflasi. Di lain sisi, The Fed seakan tidak konsisten dengan sikapnya dan banyak yang menilai bahwa The Fed telah salah mengambil sikap.

"Pernyataan Powell membingungkan, kurang percaya diri, dan menaikkan risiko makroekonomi dan stabilitas finansial," tulis Bespoke Investment Group dalam sebuah catatan ke nasabahnya yang dikutip CNBC Indonesia.

Ketika memulai normalisasi kebijakan pada akhir tahun lalu, Saat mulai melakukan tapering, Powell juga menyatakan akan bersabar untuk menaikkan suku bunga. Tetapi nyatanya, sikap tersebut berubah dalam tempo sebulan, tapering diakselerasi dan suku bunga dinyatakan akan naik mulai Maret.

Kemudian, suku bunga disebut akan naik secara bertahap tetapi berubah lagi menjadi lebih agresif dengan menaikkan 50 basis poin (bp) di Mei lalu.

Jika Resesi Benar Terjadi, The Fed Bakal Melunak atau Tidak?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading