Ada Kabar Tak Enak dari WHO Soal Covid-19, Endemi Masih Jauh?

News - Khoirul Anam, CNBC Indonesia
02 July 2022 14:15
Warga mengantre untuk tes asam nukleat selama penguncian, di tengah pandemi penyakit coronavirus (COVID-19), di Shanghai, Cina. (REUTERS/ALY SONG)

Jakarta, CNBC Indonesia - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa pandemi Covid-19 masih jauh dari kata selesai. Pasalnya saat ini kembali terjadi tren kenaikan kasus Covid-19 global, seiring dengan banyak negara mulai mencabut aturan pembatasan hingga protokol kesehatan.

Direktur Program Kedaruratan Kesehatan WHO Michael Ryan menjelaskan, salah besar jika ada yang berasumsi bahwa Covid-19 sudah mereda dan akan menjadi endemi.

"Saya tentu tidak percaya kita telah mencapai sesuatu yang mendekati situasi endemi dengan virus ini. Ini belum menjadi endemi," ujar Ryan dalam satu perbincangan, yang dikutip dari Al Jazeera, Jumat (1/7/2022).


Dia menerangkan, virus corona belum masuk terhadap pola musiman atau penularan apa pun, dan akan berbahaya jika mengatakan situasi saat ini sudah mengarah kepada endemi.

"Jangan percaya endemi. Itu sama saja menganggap penularan virus ini sudah selesai, atau sudah mereda, atau malah hilang. Itu sama sekali tidak demikian," jelas Ryan.

Dia juga mencontohkan seperti tuberkulosis dan malaria sebagai penyakit endemi yang masih membunuh jutaan orang per tahun.

Hal senada juga disampaikan oleh Pemimpin Teknis Covid-19 WHO Maria Van Kerkhove. Dia menjelaskan, virus corona masih terus beredar pada tingkat tinggi, yang menyebabkan kematian dan kehancuran dalam jumlah besar.

"Kita masih berada di tengah pandemi. Walaupun kita semua berharap tidak demikian, tapi kami tidak dalam tahap endemi," tutur Maria.

Seperti diketahui, pada 2022 secara global jumlah kematian akibat Covid-19 mencatatkan rekor terendah sejak adanya kasus Covid-19 pada awal 2020. Tapi perlu dicatat, bahwa terjadi lebih dari 20.000 kematian yang menurut Ryan masih terlalu banyak, dan manusia di seluruh dunia jangan terlena akan hal itu.

Penyakit yang saat ini kerap telah berstatus endemi, seringkali juga menular kepada anak-anak, seperti campak dan difteri. "Karena saat anak baru lahir, mereka rentan," jelas Ryan.

Oleh karena itu, menurut dia, jika tingkat vaksinasi turun, seperti yang terjadi pada campak, endemi bisa menjadi sinyal bahaya.

Sementara itu, akibat munculnya varian baru Covid-19, Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus juga memperingatkan bahwa dengan penularan yang meningkat, akan ada lebih banyak laporan kematian dan lebih banyak risiko munculnya varian baru.

"Jadi, apakah Covid-19 sudah berakhir? Tidak, ini pasti belum berakhir. Saya tahu ini bukan pesan yang ingin Anda dengar, dan itu jelas bukan pesan yang ingin saya sampaikan," kata Tedros beberapa waktu lalu.

Dia menambahkan meskipun di banyak negara semua pembatasan telah dicabut dan kehidupan tampak seperti sebelum pandemi, kasus Covid-19 yang dilaporkan justru meningkat di hampir 70 negara di semua wilayah. Terutama, di wilayah di mana jumlah tes Covid-19 yang dilakukan sudah sangat sedikit.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

RI Mau Hidup Normal Bareng Covid-19? Nih Syaratnya!


(hsy/hsy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading