Kabar Baik! Pengguna Booster Pfizer & Astrazeneca Bakal Happy

News - Khoirul Anam, CNBC Indonesia
02 July 2022 13:15
Peserta mengikuti vaksinasi booster COVID-19 di Sentra Vaksinasi Booster, Pondok Indah Mall 3, Jakarta, Rabu (23/3/2022). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus menggenjot program vaksinasi terutama booster. (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Studi terbaru membawa kabar menggembirakan bagi mereka yang mendapatkan vaksin booster Pfizer & Astrazeneca. Peneliti menemukan penerima dua dosis Sinovac dengan booster vaksin dari platform vektor (Johnson & Johnson dan AstraZeneca) serta mRNA (Pfizer dan Moderna) dapat lebih kuat untuk melawan varian seperti Delta dan Omicron.

Penelitian yang dilakukan Universitas Oxford tersebut meneliti 1.240 sukarelawan dari San Paulo dan Salvador Brasil. Riset dari Oxford Vaccine Group ini mengamati efektivitas vaksin pada orang yang menerima dua dosis Sinovac yang mendapatkan booster dengan vaksin AstraZeneca dan Pfizer-BioNTech atau Johnson & Johnson. 

Penelitian juga melihat efek dari pemberian tiga dosis Sinovac. Hasilnya penerima booster Sinovac juga mendapatkan peningkatan antibodi. Namun, hasil itu agak berbeda jika penerima dua dosis Sinovac mendapatkan booster jenis vaksin yang berbeda.




Temuan serupa juga didapatkan dari studi yang dilakukan oleh sejumlah ahli dari Institute of Science and Innovation in Medicine, Clinica Alemana Universidad del Desarrollo, hingga Kementerian Kesehatan Chili.

Studi yang diterbitkan The Lancet menunjukkan efektivitas pemberian vaksin Covid-19 booster heterolog pada pengguna vaksin Sinovac dosis 1 dan 2. Dilaporkan, imunitas atau kekebalan yang timbul lebih tinggi dibandingkan homolog. Artinya, mereka yang menerima dua dosis primer vaksin Sinovac lebih baik melanjutkan suntik booster dengan jenis vaksin yang berbeda.

Para ahli menganalisis efektivitas vaksin Covid-19 booster yang diberikan secara heterolog ke pengguna Sinovac memakai AZD1222 (Oxford-AstraZeneca) dan BNT162b2 (Pfizer-BioNTech). Ada 11.174.257 warga Chili mengikuti penelitian ini, dan 4.127.546 di antaranya menyelesaikan jadwal imunisasi primer (dua dosis) dengan CoronaVac serta menerima dosis booster selama masa studi.



Dari total warga tersebut, terdapat 1.921.340 peserta menerima vaksin booster AstraZeneca. Sebanyak 2.019.260 (48,9% di antaranya) menerima vaksin Covid-19 Pfizer BNT162b2 dan 186.946 menerima vaksin booster homolog dengan CoronaVac. Hasilnya, efektivitas vaksin Covid-19 dalam mencegah gejala pada mereka yang menerima booster homolog Sinovac hanya 79%. Sedangkan mereka yang menerima booster Pfizer melaporkan efektivitas lebih tinggi yakni 97% dan AstraZeneca 93%.

"Hasil kami menunjukkan bahwa dosis ketiga vaksin Sinovac (Coronavac) atau menggunakan vaksin booster yang berbeda seperti vaksin Pfrizer-BioNTech dan Astra Zeneca pada pengguna vaksin primer Sinovac, sama-sama memberikan perlindungan tingkat tinggi terhadap Covid-19, termasuk penyakit parah dan kematian," terang para peneliti dikutip detikcom, Sabtu (2/7/2022).

"Namun, menerima vaksin booster berbeda dengan vaksin primer menghasilkan efektivitas vaksin lebih tinggi daripada kembali disuntik vaksin Sinovac (Coronavac) untuk dosis ketiga, baik dalam mencegah rawat inap hingga kematian," sambungnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Belum Booster Masih Bisa Ikut Mudik Lebaran, Cek Syaratnya!


(hsy/hsy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading